Menghadapi Gejala Memasuki Masa Menopause

menopause, gejala, hot, flashes, vagina, kering, rasa, sakit, periode, datang, bulan, darah, fase, wanita, sehat, Indonesia, volume, kram, tubuh, dokter, konsultasi, siklus, kadar, hormon Ilustrasi: wanita dalam usia menopause

Anda dapat membantah bahwa ada perubahan fisik dan mental yang terjadi selama menopause. Seringkali sulit untuk mengatakan perubahan mana yang merupakan hasil langsung dari penurunan kadar hormon dan yang merupakan konsekuensi alami dari penuaan.

Hot flashes dan vagina kering adalah dua gejala yang paling sering dikaitkan dengan menopause. Gejala lain yang terkait dengan menopause termasuk gangguan tidur, keluhan kencing, disfungsi seksual, perubahan suasana hati, dan kualitas hidup. Namun, gejala-gejala ini tidak secara konsisten berkorelasi dengan perubahan hormon yang terlihat dengan transisi menopause.

Gejala Menopause

Hot Flashes

Keadaan ini disebut juga dengan gejala vasomotor. Hot flushes adalah gejala yang umum dirasakan oleh wanita di masa perimenopause atau setelah memasuki masa menopause. Gejalanya berupa rasa panas di dalam tubuh, diikuti dengan keluarnya keringat, serta jantung yang berdebar-debar. Sensasi panas itu biasanya berawal di dalam dada, terkadang juga pada wajah dan leher, kemudian menjalar ke seluruh tubuh.

Tapi, jangan khawatir, serangan panas ini terjadi karena perubahan hormonal. Saat kadar estrogen berkurang, berpengaruh langsung pada hipotalamus, bagian dari otak yang berfungsi untuk mengatur nafsu makan, siklus tidur, hormon seksual, serta mengatur suhu tubuh (seperti thermostat). Rupanya, hypothalamus menginterpretasikan berkurangnya estrogen sebagai perintah untuk menaikkan suhu tubuh.

Bagian otak yang lain kemudian merespons peringatan tersebut, dan menyebarkannya ke bagian-bagian tubuh, seperti hati, pembuluh darah, dan sistem saraf, agar menyeimbangkan panas tersebut. Pesan ini ditransmisikan langsung oleh epinefrin, senyawa kimia di dalam sistem saraf, serta senyawa-senyawa lain yang berhubungan, seperti norepinefrin, prostaglandin, serotonin. Hasilnya, jantung pun berpacu lebih cepat dan pembuluh darah di bawah kulit membesar untuk menyalurkan darah lebih banyak guna mengurangi panas. Begitu juga dengan kelenjar keringat yang lantas mengeluarkan keringat untuk membantu penurunan panas tubuh.

menopause, gejala, hot, flashes, vagina, kering, rasa, sakit, periode, datang, bulan, darah, fase, wanita, sehat, Indonesia, volume, kram, tubuh, dokter, konsultasi, siklus, kadar, hormon

Ilustrasi: gejala menopause, hot flashes (sumber: thatsnotmyage.com)

Sebenarnya itu merupakan mekanisme tubuh yang biasa untuk mempertahankan diri terhadap panas yang berlebihan dari luar tubuh, seperti cuaca yang panas atau udara lembap.

Baca juga:  Rekomendasi Lulur Pemutih Badan Alami Dan Permanen

Hot flashes dialami sebagian besar wanita saat akan memasuki masa menopause. Gejala ini umumnya berlangsung sejak dua hingga tiga tahun sebelum benar-benar memasuki masa menopause, plus beberapa tahun sesudahnya (karena perubahan hormon masih terjadi). Setelah itu, frekuensinya berkurang dan menghilang, seiring dengan habisnya estrogen di dalam tubuh.

Ada dua macam hot flushes yang gejalanya paling sering ditemukan. Pertama, hot flushes standar, yang berlangsung singkat dan mencapai intensitas panas maksimum hanya dalam beberapa detik, bertahan selama 2-3 menit, lalu perlahan-lahan menghilang. Kedua, hot flushes lambat, dengan tingkat intensitas panas yang lebih rendah namun bertahan lama, sekitar 30 menit hingga satu jam.

Ada beberapa hal yang memengaruhi durasi, frekuensi, dan intensitas hot flushes. Sebagian wanita menjalani periode ini dengan relatif ringan dan nyaris tidak menyiksa. Tapi, sebagian lagi sungguh-sungguh terganggu, misalnya karena hawa panas itu bisa menyerang beberapa kali dalam sehari. Namun, ada sebagian wanita yang tak pernah mengalami gangguan ini.

Baca juga:  Meski Termasuk Lini Produk Premium, Harga Wardah Instaperfect Tetap Terjangkau

Menurut dr. Frizar Irmansyah Sp.OG(K), wanita di Indonesia cukup banyak yang tidak mengalami hot flushes parah dibandingkan wanita Eropa dan Amerika. Pasalnya, gaya hidup yang relatif lebih sehat, misalnya banyak mengonsumsi makanan yang mengandung fitoestrogen seperti tempe, tidak terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan kimia, hidup di lingkungan yang tenang, rumah tangga harmonis, dan cukup religius. Namun belakangan ini, hot flushes mulai banyak dialami wanita Indonesia, terutama karena pola hidup tak sehat, seperti obesitas, merokok, dan stres.

Perubahan Pada Vagina

menopause, gejala, hot, flashes, vagina, kering, rasa, sakit, periode, datang, bulan, darah, fase, wanita, sehat, Indonesia, volume, kram, tubuh, dokter, konsultasi, siklus, kadar, hormon

Ilustrasi: perubahan fisik organ kewanitaan

Penurunan estrogen menyebabkan lapisan vagina menjadi sekresi tipis. Vagina juga menjadi lebih pendek dan sempit. Keadaan itu memicu kekeringan dan iritasi, yang dapat membuat hubungan seksual tidak menyenangkan. Radang dinding vagina juga dapat terjadi, menyebabkan kondisi yang disebut vaginitis atrofi. Ini bukan infeksi, tetapi jika tidak diobati, penipisan lebih lanjut dan ulserasi vagina dapat terjadi. Dan, hal tersebut dapat menyebabkan perdarahan.

Untuk mengatasi keadaan di atas, Anda bisa menggunakan Astroglide atau Silk-E yang dianggap dapat membantu mengatasi kekeringan pada vagina. Pelembab vagina seperti Replens juga dapat membantu. Perawatan estrogen bisa berbentuk krim, cincin, dan tablet. Selain itu, para ahli mengatakan rangsangan seksual secara teratur dapat membantu menjaga vagina tetap sehat dengan mempertahankan elastisitasnya.

Baca juga:  Mengenal Terapi Berkebun & Manfaatnya

Periode Datang Bulan Tidak Teratur

Di masa pramenopause ini, mula-mula siklus haid akan lebih pendek dari biasanya. Ini karena adanya kombinasi proses pelepasan sel telur (ovulasi) yang lebih sering, dengan makin pendeknya fase luteal, yakni masa antara ovulasi dan dimulainya siklus haid baru, yang normalnya 12-16 hari.

Volume darah haid yang terjadi akan lebih banyak, dan frekuensi haid juga lebih sering. Namun akhirnya, siklus haid menjadi lebih panjang ketika jumlah sel telur yang dilepaskan menjadi semakin berkurang. Volume darah haid menjadi lebih sedikit dan proses ovulasi juga menjadi sporadis yaitu kadang melepaskan sel telur, kadang tidak.

Berkaitan dengan datang bulan, Anda perlu segera konsultasi ke dokter apabila mengalami beberapa hal seperti darah haid sangat banyak dan bergumpal-gumpal, siklus haid jauh lebih panjang dari 36 hari, siklus haid lebih pendek dari 21 hari, perdarahan apapun yang terjadi di antara siklus haid, kram hebat saat haid yang belum pernah Anda alami sebelumnya, perdarahan baru yang terjadi setelah 12 bulan penuh Anda tidak haid, perdarahan setelah hubungan seks, dan perdarahan atau rasa sakit yang tidak biasa Anda alami sebelumnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: