Mengenali Bahaya Alzheimer, Cegah Kepikunan Dini

Bahaya Alzheimer - www.vistaspringsliving.com

Hilangnya memori oleh faktor usia kerap dikenal sebagai penyakit alzheimer atau istilah lain dari demensia. Kondisi ini merupakan gangguan kognitif ringan yang dialami orang secara berbeda seiring bertambahnya usia. Namun, hal ini bukanlah bagian dari proses penuaan normal. Bahkan, hingga kini belum ditemukan obat untuk penyembuhan. 

Direktur Asosiasi Medis dari Pusat Penelitian dan Perawatan Alzheimer di Rumah Sakit Brigham and Women’s, Dr. Gad Marshall mengungkapkan perubahan terus-menerus atau bertahap terkait kemampuan ingatan maupun kondisi mental dapat menjadi gangguan lebih serius. “Maka perlu dikenali gejala utama dengan dibantu oleh orang-orang disekitar agar gangguan ingatan penderita tidak lebih buruk,” tegas Dr. Marshall seperti dilansir Health.

Penurunan kognitif terbagi atas dua kategori, yakni mild cognitive impairment (MCI) sebagai gangguan kognitif skala ringan dan demensia. Hampir dari 20% orang dewasa yang berusia lebih dari 65 tahun telah mengalami kondisi MCI ini. Dalam hal ini, MCI juga terbagi mulai dari amnestik yakni merujuk pada masalah memori seperti sering salah meletakkan barang sehari-hari atau dengan cepat melupakan informasi yang baru dipelajari. Sedangkan MCI non-biologis, melibatkan perubahan pada bidang selain ingatan. Misalnya, seseorang yang cenderung kesulitan dengan perhatian, konsentrasi, perencanaan, hingga keterampilan navigasi.

“MCI cenderung menjadi kondisi bertahap, dan gejalanya mungkin menetap selama tiga hingga lima tahun sebelum penderita menjadi lebih buruk atau berkembang menjadi demensia,” tandasnya.

Mengenali Bahaya Alzheimer - www.alzheimers.org.uk

Mengenali Bahaya Alzheimer – www.alzheimers.org.uk

Lain halnya dengan demensia yang bukan merupakan penyakit tertentu, melainkan sindrom yang disebabkan oleh satu atau lebih gangguan yang memengaruhi otak. Penderita Alzheimer akan kesulitan mengingat nama, orang, dan kejadian terbaru. Gejalanya bertambah buruk seiring waktu dengan rasa cemas, depresi bahkan cenderung agresif. Para peneliti percaya bahwa dua perubahan di otak adalah kontributor utama Alzheimer dengan gangguan protein dan penumpukan plak beta-amiloid.

Bentuk utama demensia lainnya yakni demensia vaskular. Kondisi ini berkaitan dengan masalah ingatan yang timbul dari penyumbatan. Hal tersebut disebabkan oleh penumpukan plak kolesterol di pembuluh darah pada otak. Penyumbatan dapat memotong pengiriman oksigen ke sel-sel otak dan dapat membunuh penderita. “Orang-orang ini berada pada risiko yang lebih besar untuk mengembangkan gejala Alzheimer, tetapi tidak selalu berlanjut untuk itu,” kata Dr. Marshall.

Sementara itu, riset terbaru menyebutkan masyarakat Indonesia masih belum menyadari gejala dan faktor risiko alzheimer. Adanya survei oleh Millward Brown yang diinisiasi oleh GE Healthcare kepada 10 negara membuktikan, peserta survei di Indonesia kurang mendapatkan informasi terkait tanda-tanda dan gejala demensia (kepikunan) dibandingkan responden di negara lain. Terdata sebanyak 71 persen penduduk Indonesia ingin mengetahui terkait gangguan saraf (neurological disorder).

“Sebagian besar penduduk Indonesia ingin mengetahui gangguan saraf, meskipun tidak ada upaya penyembuhan yang dapat dilakukan,” terang Juru Bicara General Electric Healthcare untuk regional ASEAN, Mirielle Renade seperti dilansir suara.com.

Mirielle menambahkan mayoritas responden tak dapat mengidentifikasi gejala umum, termasuk kehilangan ingatan, masalah komunikasi, kepribadian, perubahan suasana hati pelaku dan kehilangan inisiatif yang merupakan indikator terkena demensia. Bahkan, hampir 30 persen dari responden bahkan tak mampu mengidentifikasi satu gejala demensia. “Sebanyak 77 persen responden ingin mengetahui apakah orang terdekat menderita gangguan saraf,” bebernya.

Cegah Kepikunan Dini - www.aarp.org

Cegah Kepikunan Dini – www.aarp.org

Wawasan terkait dengan gangguan saraf lebih banyak dari kaum perempuan yang berusia di bawah 40 tahun. Hal ini menggambarkan pergeseran persepsi tradisional yang kerap menganggap gangguan otak sebagai sesuatu yang wajar dalam masa penuaan. Hasilnya, hampir 70 persen masyarakat Indonesia berkeinginan untuk mengubah gaya hidup untuk menunda dampak penyakit. Sementara 66 persen lainnya ingin mengetahui diagnosa untuk memulai pengobatan.

“Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar akan risiko alzheimer dan mulai berkeinginan untuk mengetahui, gejala, diagnosis serta pilihan pengobatan,” imbuhnya.

Lalu bagaimana cara mengurangi gejala kepikunan? Dimulai dari ikut terlibat aktif dalam kegiatan yang merangsang mental. Dalam hal ini, pendidikan menjadi faktor utama penentu penting terkait risiko demensia. Menjaga hubungan sosial juga penting untuk mengurangi gejala kepikunan. Hal ini lantaran frekuensi hubungan dengan orang lain dapat mengurangi faktor risiko demensia.

Kesehatan menjadi hal penting dalam menurunkan risiko kepikunan dini. Maka menjaga kesehatan jantung dan berhenti merokok juga harus dilakukan. Bahkan, pola hidup yang memengaruhi gangguan tidur harus dihindarkan. Bagi siapapun yang ingin terhindar dari kepikunan dini, maka juga dilarang melakukan diet yang justru meningkatkan risiko.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: