Kenapa Mengejar Kebahagiaan Adalah Hal yang Sia-Sia?

Kebahagiaan Tidak Berlangsung AbadiKebahagiaan Tidak Berlangsung Abadi

Kebahagiaan dalam kehidupan adalah suatu hal yang menjadi harapan bagi hampir seluruh individu.[1] Untuk mewujudkan hal ini, banyak orang yang berusaha mengejar dan menciptakan kebahagiaan dalam hidupnya. Meskipun pada beberapa orang ini bisa bekerja dengan baik, tetapi tidak bagi sebagian besar individu. Kebanyakan manusia yang mengejar kebahagiaan justru menemukan kesedihan dalam hidupnya. Bisa dikatakan, mengejar kebahagiaan adalah hal yang sia-sia dan justru bisa membuat Anda merasa tidak bahagia. Lalu, kenapa bisa begitu?

Kebahagiaan Tidak Berlangsung Abadi

Dilansir dari HuffPost, manusia tidak dirancang untuk bahagia selamanya atau secara abadi. Bahagia yang dirasakan biasanya memiliki pola yang tidak teratur, karena hidup itu sulit dan otak manusia cenderung berpikir dengan pola negatif. Selain itu, cenderung banyak hal yang dipikirkan untuk menciptakan kebahagiaan, membuat kita sadar bahwa kita sebenarnya tidak berada dalam sudut pandang yang bahagia untuk diri sendiri.

Masih dilansir dari sumber yang sama, sejatinya, kebahagiaan bukanlah tujuan jangka panjang yang bagus, karena itu adalah emosi yang berfluktuasi. Ini terutama berlaku pada kebahagiaan hedonis atau hedonistik yang sebenarnya meningkatkan kesenangan dengan cara meminimalkan rasa sakit. Mengejar emosi sekilas seperti ini bisa menjadi bumerang untuk Anda.

Baca juga:  Bagaimana Caranya Agar Tetap Sehat dan Berumur Panjang?

Setiap orang memang ingin bahagia, tetapi lebih tepat dalam porsinya masing-masing. Anda tidak perlu sedih atau kecewa dengan berbagai hal yang menurunkan tingkat bahagia Anda. Jika Anda terlalu giat mengejar kebahagiaan, Anda juga bisa lupa dengan rasa sedih atau kecewa. Ini akan membuat emosi Anda menjadi tidak seimbang dan biasanya tidak bisa mengeluarkan emosi secara spontan.

Selain itu, jika Anda terlalu disibukkan untuk menjadi lebih bahagia, mungkin Anda akan menghabiskan banyak waktu untuk memantau emosi Anda. Ini menyebabkan Anda bingung sekaligus merasa tidak bahagia, karena terlalu banyak waktu yang hilang untuk mengejar hal yang sebenarnya bisa didapatkan tanpa harus bersusah payah.

Kebahagiaan Tidak Berlangsung Abadi

Kebahagiaan Tidak Berlangsung Abadi

Apa yang Lebih Baik daripada Bahagia?

Ada banyak hal yang bisa Anda dapatkan dari tidak mengejar kebahagiaan, salah satunya adalah kesejahteraan. Sejahtera adalah hal yang lebih membahagiakan daripada bahagia. Hal ini karena standar sejahtera dan bahagia sangatlah berbeda, tetapi dua hal ini bisa membuat hidup Anda merasa menyenangkan.

Baca juga:  Rekomendasi Produk Base Make-Up yang Cocok untuk Kulit Berminyak

Seorang founder Center for Healthy Minds di Universitas Wisconsin di Madison mengatakan, kesejahteraan adalah tujuan jangka panjang yang masuk akal. Hal ini bisa didapatkan oleh orang-orang yang berkomitmen. Kesejahteraan tidak hanya akan membawa Anda ke dalam sebuah kehidupan yang aman dan damai, tetapi juga tenang.

Untuk mendapatkan hidup yang sejahtera, Anda tidak perlu melakukan segala cara seperti ketika mengejar kebahagiaan. Ini adalah salah satu perbedaan antara kebahagiaan dan kesejahteraan. Selain itu, sejahtera bersifat merangkul banyak orang, sementara kebahagiaan bisa diperoleh secara individu.

Kesejahteraan adalah yang Lebih Baik daripada Bahagia

Kesejahteraan adalah yang Lebih Baik daripada Bahagia

Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli

Kemiskinan sangat memengaruhi kesehatan mental dan dapat menyebabkan suasana hati menurun, kesehatan fisik menurun, dan trauma. Tentu saja, itu semua bukan hal yang membahagiakan, sehingga banyak orang bekerja keras untuk mendapatkan uang. Uang yang banyak adalah standar kebahagiaan bagi orang yang tidak punya uang.

Untuk mendapatkan uang, tentunya Anda harus berkorban lebih banyak hal, mulai dari tidak ada waktu bersantai, tidak ada waktu bermain bersama anak, tidak ada waktu bercanda dengan teman, hingga tidak ada waktu untuk mencari pasangan. Sehingga, ketika Anda bisa bahagia dengan uang, Anda juga tidak bisa bahagia dengan hal-hal yang harus Anda korbankan.

Baca juga:  Hindari Stres dan Depresi dengan Bersikap Narsis

Mungkin hal ini adalah wajar dan dianggap biasa bagi orang yang berkekurangan. Hal ini juga bisa diatasi dengan cara hedonis, yakni membeli apa saja yang Anda mau dengan uang yang sudah Anda dapatkan. Namun, suatu saat, ketika semua barang yang Anda dapatkan sudah cukup membuat Anda bahagia, mungkin Anda tidak bisa merasakan kehangatan keluarga dan bercanda bersama orang lain. Hal inilah yang membuat Anda merasa menyesal, kecewa, dan tentu saja, tidak bahagia. Sementara, kehangatan keluarga dan canda tawa dari orang terdekat tidak bisa dibeli dengan uang.

Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli

Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli

[1] Nandini, Dwitiya Agsan. 2016. Kontribusi Optimisme terhadap Kebahagiaan pada Karyawan. Jurnal Ilmiah Psikologi Universitas Gunadarma, Vol. 9(2): 187-196.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: