Bagaimana Cara Mengajarkan Literasi Media pada Anak?

Ilustrasi: anak membaca bukuIlustrasi: anak membaca buku

Literasi media menjadi hal yang penting, baik di kalangan orang dewasa maupun anak-anak. Pasalnya, banyak teori konspirasi dan berita palsu atau hoax yang tersebar di media massa, termasuk internet. Untuk itu, sebagai orang tua, Anda perlu mengajarkan keterampilan literasi pada anak. Lalu, bagaimana caranya?

Dilansir dari Kompas, banyak orang tua merasa khawatir dengan penyebaran berita palsu, penyakit Covid-19 salah satunya. Dampak negatif yang mereka cemaskan, paparan hoax tersebut bisa membuat anak-anak menjadi cemas dan khawatir berlebihan. Akibatnya, anak-anak merasa kurang bergaul dan bersosialisasi.

Sebagai cara untuk menangani dan mencegah dampak negatif tersebut, orang tua perlu mengajarkan literasi media pada anak-anaknya. Literasi media sendiri merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengonstruksi pencitraan media.[1] Kemampuan tersebut bertujuan untuk menyadarkan konsumen media, termasuk anak-anak, agar lebih paham bagaimana media dikonstruksi/dibuat dan diakses. Literasi media perlu dikembangkan dan diajarkan karena tidak ada manusia yang lahir dengan kondisi melek media.

Dengan mengajarkan literasi media sejak dini pada anak, mereka akan lebih cepat memahami cara mengakses berita dengan baik. Mereka juga akan belajar membedakan mana berita yang hoax dan mana berita yang valid. Tentunya, untuk mendapatkan kemampuan literasi media, tidak bisa secara instan dan membutuhkan waktu yang relatif lama, tergantung cara dan pola pikir anak.

Baca juga:  Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berlebihan Bagi Anak

Dilansir dari HuffPost, media sangat memengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan. Dengan mempelajari literasi media, anak-anak juga akan memiliki kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan komunikasi dalam berbagai bentuk dengan cepat dan valid berdasarkan fakta.

Selain itu, literasi media juga akan membantu anak-anak menjadi konsumen media yang bijaksana, mampu berpikir kritis, dan mengekspresikan atau menyebarkan ide-ide mereka dengan jelas berdasarkan bukti yang nyata. Hal tersebut akan membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh dan mengetahui cara terlibat dalam debat publik yang sehat dan adil. Lalu, bagaimana cara mengajarkan literasi media pada anak?

Cara Mengajarkan Literasi Media pada Anak

Ilustrasi: mendampingi anak saat mengakses internet (sumber: pbs.org)

Ilustrasi: mendampingi anak saat mengakses internet (sumber: pbs.org)

  • Ajari anak mengenal media sejak dini dengan cara yang sehat. Sebelum belajar tentang literasi media, anak-anak perlu mengenal media dengan baik. Kenalkan anak pada media seperti televisi ketika ia sudah bisa berbicara dengan baik. Setelah itu, bantu mereka mencerna setiap tayangan yang ada di TV dan batasi waktu menonton mereka. Sehingga, mereka mengenal kejadian yang nyata dan tidak nyata yang berbeda dengan aktivitas mereka dan aktivitas para aktor di TV.
  • Jelaskan pada anak bahwa media tidak sepenuhnya nyata. Anak-anak di bawah 12 tahun umumnya memiliki imajinasi yang sangat kuat dan kadang kurang bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Ini juga alasan mengapa mereka suka menirukan adegan yang mereka tonton di TV. Untuk itu, Anda perlu menjelaskan bahwa tidak semua kejadian atau adegan yang ada di media massa adalah nyata. Beritahu juga kepada mereka bahwa tontonan yang ada di TV atau gadget sudah direncanakan dan hanya bersifat sebagai hiburan.
  • Ajari anak untuk berpikir sebelum bertindak. Kebanyakan anak-anak lebih suka mengakses hal-hal yang menarik, sehingga mereka mudah terkecoh dengan judul iklan atau berita di TV. Sebagai orang tua, Anda perlu mengajarkan cara berpikir yang kritis dan jelaskan bahwa mereka tidak perlu mengakses hal-hal dengan judul berlebihan seperti klik bait.
  • Temani anak saat membaca berita atau mengakses internet. Anak-anak dibawah 12 tahun memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi, sehingga ketika mereka harus berhadapan dengan internet, mereka justru tidak tahu apa yang harus diakses. Sebagian anak juga mulai mengakses hal-hal yang tak masuk akal. Untuk itu, Anda perlu membimbing mereka dengan mengajarkan cara membuka website yang penting dan bukan hal-hal yang bersifat hiburan saja.
  • Bantu anak mencari kebutuhannya di internet. Supaya anak-anak bisa fokus membedakan berita palsu dan faktual, Anda perlu menyoroti atau meletakkan website dan sumber informasi yang berkualitas di daftar favorit. Ini akan memudahkan mereka menemukan konten yang mereka butuhkan dengan baik dan tentunya valid.
Baca juga:  Bagaimana Cara Menjelaskan Virus Corona pada Anak?

Selain cara di atas, Anda juga bisa memberi contoh tentang berita yang palsu dan nyata dari judul dan kalimat pembukanya, sehingga anak-anak bisa cepat tanggap. Anda juga perlu membiasakan anak untuk membaca keseluruhan isi berita dan meringkasnya sendiri. Ini akan membuat mereka semakin paham dengan konsep literasi media.

[1] Rahmi, Amelia. 2013. Pengenalan Literasi Media pada Anak Usia Sekolah Dasar. SAWWA IAIN Walisongo Semarang, Vol. 8(2): 261-276.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: