Manfaat Kebosanan untuk Kehidupan, Apa Kata Pakar Psikologi?

Ilustrasi: mengalami kebosanan (sumber: clickmeeting.com)Ilustrasi: mengalami kebosanan (sumber: clickmeeting.com)

Kebosanan atau kejenuhan merupakan perwujudan dari kurangnya ketertarikan terhadap sesuatu dan membuat akal tidak bekerja seperti keadaan semula.[1] Meskipun demikian, ternyata kebosanan memang diperlukan setiap individu, karena beberapa pakar psikologi mengungkapkan bahwa itu memiliki manfaat baik untuk kehidupan.

Tak hanya para psikolog, dilansir dari TRT World, para ahli saraf menjelaskan, kebosanan baik untuk kesehatan. Itu tidak hanya bisa meningkatkan kesejahteraan jiwa Anda, tetapi juga fisik Anda. Psikolog Israel Gadi On juga berpikir bahwa kebosanan adalah efek samping yang menguntungkan dari hidup, dan itu perlu dihargai.

“Ketika Anda merasa jenuh atau bosan dan terjebak dalam kebosanan, Anda akan merasa ada yang kurang dari hidup Anda,” kata On. “Secara tidak sadar, Anda akan berusaha menemukan aktivitas baru yang membuat hidup Anda lebih berarti.”

Kebosanan Tidak Pandang Usia

Kebosanan tidak memandang usia, bahkan rasa itu sudah ada sejak anak-anak. Kebosanan pada anak-anak juga bukan sesuatu yang buruk. Si kecil mungkin tidak bisa duduk tenang karena otaknya berpikir dengan cepat dan cenderung aktif. Namun, saat ia bosan, secara tidak sadar, si kecil akan berusaha menenangkan dirinya dengan duduk tenang.

Baca juga:  Vaksin COVID-19 Bersamaan dengan Vaksin Influenza, Apa yang Terjadi?

“Kita tidak bisa mengajari anak untuk duduk tenang atau diam,” kata On. “Tetapi, kadang kebosanan bisa menjadi salah satu treatment agar anak berhenti sejenak dari pikirannya yang kacau.”

Sementara itu, sisi baik kebosanan untuk orang dewasa adalah lepas dari kesibukan. Dunia modern sangat mementingkan kesibukan, selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan atau sesuatu untuk dilihat agar kita sibuk.

Sebuah artikel VICE mencatat, kesibukan bukan hanya tentang melakukan aktivitas setiap hari, tetapi juga mengambil nilai kehidupan yang ada. Kesibukan membuat orang merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, dan mereka menggunakan kesibukan secara sukarela untuk menunjukkan nilai mereka kepada orang lain. Namun, kesibukan tidak dapat menghilangkan kebosanan eksistensial dan orang-orang mulai berpikir bahwa kebosanan adalah sesuatu yang baik dalam hidupnya.

Ilustrasi: mengalami kebosanan (sumber: quillette.com)

Ilustrasi: mengalami kebosanan (sumber: quillette.com)

Manfaat Kebosanan dalam Kehidupan

Roger Kneebone, seorang dokter sekaligus penulis di Lancet, mengatakan bahwa hari-harinya sebagai mahasiswa kedokteran dulunya dipenuhi dengan tugas-tugas yang membosankan yang awalnya gagal dia pahami tujuannya. Namun, kemudian dia menyadari tugas-tugas ini akhirnya membuatnya menjadi profesional medis yang lebih baik.

Baca juga:  Menjadi Penjilat? Bisa Jadi itu Bentuk People Pleaser Trauma

“Namun semua jam yang membosankan itu terbayar dengan cara yang tidak terduga,” kata Kneebone. “Sebagai mahasiswa kedokteran dan dokter rumah sakit junior, saya tidak hanya menjadi ahli dalam mengambil darah, memasang kembali infus, dan memasang tali, tetapi saya juga belajar untuk bertanggung jawab atas pelabelan yang akurat dan untuk memastikan bahwa spesimen sampai ke tempat yang tepat.”

Kneebone juga merasakan bahwa dengan kebosanan, dirinya jadi belajar membangun hubungan dengan pasien, melakukan prosedur yang sulit, dan bekerja sama dengan dokter lain untuk melakukan prosedur medis yang rumit. Dengan kata lain, dirinya sukses belajar keterampilan menjadi seorang dokter.

Kneebone juga memberikan contoh profesional lain dari manfaat tugas yang membosankan, seperti pemahat batu yang ditugaskan selama enam bulan untuk membuat permukaan horizontal dalam balok marmer. Itu juga seperti seorang penjahit yang menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk membuat lipatan saku.

“Dalam prosesnya, mereka belajar menggunakan alat, memahami bahan yang mereka kerjakan, dan mengenali pengerjaan yang baik. Ini adalah inisiasi mereka ke dalam komunitas pengrajin,” kata Kneebone. “Bahkan yang lebih penting, mungkin mereka belajar mengatasi kebosanan itu sendiri dengan kebutuhan untuk melakukan tugas-tugas yang berulang dan tidak menarik tanpa menjadi gelisah atau kesal.”

Baca juga:  Ciri Hubungan Toxic Dalam Pacaran, Ketahui Sebelum Terjebak Lebih Dalam!

David Sbarra, seorang psikolog klinis, menulis di Vox tentang bagaimana perasaannya seolah-olah dia berada di roda hamster, selalu berjalan, tidak pernah berhenti. Ini yang disebut membosankan dengan kesehariannya yang bekerja, mengasuh anak, mengirim email, dan berolahraga dengan cara tanpa berpikir, hanya melakukan dan melakukan.

Untuk itu, On mengusulkan bahwa setiap kali kita merasa bosan, kita bertahan dengannya, meskipun tidak mudah dan menyenangkan untuk dilakukan. Cobalah untuk menyambut rasa bosan dengan pikiran yang terbuka, dengan begitu Anda akan memahami manfaatnya.

[1] Qomariyah, Laeli. 2020. Mengatasi Kebosanan Melalui Genjring Alikaya pada Ibu Rumah Tangga Anggota Group Al Barkah Dusun Sawangan Desa Tlahab Kidul (Skripsi). Program Studi Bimbingan Konseling Islam Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Purwokerto Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: