Sederet Manfaat Asam Asetat Dalam Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi: cairan kimia (sumber: sciencenotes.org)Ilustrasi: cairan kimia (sumber: sciencenotes.org)

Asam asetat merupakan bahan kimia pembuat cuka. Bahan satu ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari karena manfaat atau fungsinya sangat beragam. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, asam asetat juga kerap dipakai oleh sektor industri.

Asam asetat atau lebih dikenal sebagai asam cuka (CH3COOH) adalah suatu senyawa berbentuk cairan, tak berwarna, berbau menyengat, memiliki rasa asam yang tajam dan larut di dalam air, alkohol, gliserol, eter. Pada tekanan atmosferik, titik didihnya 118.1°C. Asam asetat memunyai aplikasi yang sangat luas di bidang industri dan pangan. Di Indonesia kebutuhan asam asetat masih harus diimpor, sehingga perlu diusahakan kemandirian dalam penyediaan bahan tersebut.

Proses produksi asam asetat dapat dilakukan secara kimiawi dan biologis. Proses kimiawi produksi asam asetat yang banyak dilakukan adalah oksidasi butana. Untuk kebutuhan pangan, produksi asam asetat harus dilakukan melalui proses biologis, salah satunya adalah fermentasi dari bahan baku alkohol. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan bakteri dari genus Acetobacter dalam kondisi aerobik. Salah satu spesies yang banyak digunakan untuk fermentasi asam asetat adalah Acetobacteraceti.[1]

Baca juga:  Ternyata Gampang, Begini Cara Membuat Minyak Daun Kelor Sendiri

Asam asetat atau lebih dikenal dengan nama asam cuka adalah golongan asam karboksilat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Asam asetat murni dikenal dengan nama asam asetat glasial yang memiliki titi leleh 16,6°C. Dalam kehidupan sehari-hari, asam cuka digunakan sebagai pemberi rasa asam pada makanan. Di dalam industri makanan, asam cuk digunakan untuk menurunkan pH. Asam cuka juga berfungsi sebagai zat pengawet yang di dalam industri, asam asetat biasa digunakan pada pembuatan serat selulosa asetat, plastik, zat warna, obat-obatan, dan lain-lain.[2]

Agar lebih jelas, berikut uraian lengkap manfaat asam asetat dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sektor rumah tangga maupun industri.

Aneka ragam cuka (sumber: pure-chemical.com)

Aneka ragam cuka (sumber: pure-chemical.com)

Manfaat Asetat di Kehidupan Sehari-hari

Dalam dunia industri, asam asetat sering dipakai dalam pembuatan prekursor untuk cat dan perekat. Misalnya saja digunakan dalam sintesis pewarna dan tinta, digunakan dalam sintesis wewangian, untuk industri karet dan plastik. Kemudian, asam asetat juga digunakan sebagai pelarut dan bahan awal untuk banyak polimer penting dalam industri karet dan plastik seperti PVA, PET, dan lain-lain. Digunakan sebagai bahan awal untuk bahan dasar cat dan perekat, hingga dipakai dalam industri pengolahan makanan sebagai zat aditif serta pengawet makanan dalam keju dan saus.

Baca juga:  Diburu Kolektor Tanaman Hias, Ini Jenis Aglaonema Termahal

Menariknya lagi, asam asetat juga memiliki kegunaan dalam dunia medis. Bahan kimia satu ini sering dipakai dalam teknik yang disebut kromoendoskopi, yakni alternatif endoskopi tradisional. Selanjutnya, asam asetat digunakan untuk inspeksi visual dari kanker dan lesi serviks, dipakai dalam skrining kanker serviks, untuk pengobatan otitis eksterna, kadang untuk mengobati infeksi baterai dan jamur, dan sebagainya.

Nah, untuk rumah tangga, asam asetat paling mudah ditemukan dalam cuka. Cuka masak untuk kebutuhan rumah tangga biasanya mengandung sekitar 4% asam asetat. Seperti diketahui, cuka punya banyak sekali kegunaan. Misalnya saja untuk pengawetan sayur, pembuatan acar, digunakan dalam bumbu salad dressing, digunakan untuk proses memanggang, digunakan sebagai anti jamur, serta bisa bereaksi dengan soda kue untuk melepaskan gas karbon dioksida yang membuat makanan mengembang.

Baca juga:  Wardah White Secret Sebaiknya Untuk Umur Berapa?

Bahaya Asam Asetat

Dilansir dari Wikipedia, asam asetat pekat bersifat korosif terhadap kulit. Oleh sebab itu, asam asetat harus digunakan dengan hati-hati, karena dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen, serta iritasi pada membran mukosa. Luka bakar atau lepuhan bisa jadi tidak terlihat hingga beberapa jam setelah kontak.

Sarung tangan lateks tidak melindungi dari asam asetat, sehingga dalam menangani senyawa ini perlu digunakan sarung tangan berbahan karet nitril. Asam asetat sulit terbakar di laboratorium. Ia menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 39°C, dan dapat membentuk campuran yang mudah meledak dengan udara di atas suhu ini (ambang ledakan: 5,4%–16%).

[1]Hardoyo, dkk. 2007. Kondisi Optimum Fermentasi Asam Asetat Menggunakan AcetobacteracetiB166. Jurnal Sains MIPA. 13(1): 17-20.

[2]Sutresna, N. 2007. Cerdas Belajar Kimia untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Muhammad R, editor. Bandung: Grafindo Media Pratama, hlm 229.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: