Makan Saat Larut Malam Lebih Membahayakan Dari yang Anda Kira

[foto: Unsplash/pixabay]

Puasa telah menjadi topik panas baru-baru ini, dengan puasa intermiten khususnya (memiliki periode makan selama 8 jam dan waktu puasa selama 16 jam setiap hari), berhasil menarik perhatian banyak kalangan. Hasil studi telah menunjukkan bahwa puasa dapat memiliki efek positif pada penurunan berat badan, regenerasi sel kekebalan tubuh, pencegahan kanker, sensitif insulin dan memperpanjang umur.

Banyak orang yang menjalankan puasa meyakini bahwa pola waktu makan tidak menjadi masalah. Sebagian banyak memilih untuk melewatkan sarapan atau sahur, misalnya. Sebuah studi baru dari fakultas Kesehatan Universitas Pennsylvania menunjukkan bahwa mengatur pola waktu adalah penting dan bisa menjadi masalah.

Penelitian tersebut mulanya untuk melihat pola waktu makan dengan mengontrol siklus bangun tidur, latihan atau olahraga dan asupan makronutrien (asupan dan rasio protein, karbohidrat dan lemak).

Dalam studi ini menyertakan  9 orang dewasa dengan berat badan yang sehat dan ideal melalui dua  jadwal makan yang berbeda. Untuk periode delapan minggu pertama,  partisipan disarankan untuk memiliki jadwal makan pada pukul 8 pagi dan 7 malam. Kemudian, setelah dua minggu istirahat, mereka dikembalikan pada pola makan dasarnya. Mereka memulai 8 minggu periode kedua dan dianjurkan untuk makan dari siang hari hingga pukul 11 malam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola makan pada periode kedua, yang dibandingkan dengan jadwal siang hari, menyebabkan peningkatan berat badan, insulin, glukosa, kolesterol dan kadar trigliserida. Kadar glukosa dan insulin yang tinggi dapat memicu diabetes, sementara kolesterol tinggi dan trigliserida terkait dengan masalah kardiovaskular.

Baca juga:  Info Lengkap Manfaat DHA untuk Ibu Hamil

Di samping itu, ketika peserta makan di pagi hari, profil hormonal mereka berubah. Ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan, memuncak daripada sebelumnya. Sementara leptin, hormon yang membuat Anda kenyang, memuncak pada sore hari. Temuan ini menunjukkan bahwa makan pada pagi harihata makanan  dapat mencegah makan berlebihan di sore dan malam hari.

[foto:Steve Buissinne]

Kelly Allison, PhD, seorang profesor psikologi di Psikiatri dan Direktur di Pusat gangguan berat badan dan gangguan makan, dan penulis senior, dalam penelitiannya mengatakan, “Sementara mengubah gaya hidup tidak pernah mudah, temuan ini menunjukkan bahwa makan lebih pagi dianggap penting dalam upaya untuk membantu mencegah efek kesehatan kronis yang merugikan. Kami memiliki pengetahuan yang luas tentang bagaimana makan berlebihan mempengaruhi berat badan, gangguan kesehatan dan tubuh, tapi sekarang kita memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana proses makanan pada tubuh kita pada waktu yang berbeda, berdampak dalam jangka waktu panjang.”

Studi awal yang keluar pada tahun 2016, membandingkan bahwa makan dengan waktu lebih awal (antara pukul 8 pagi hingga 2 sore) dengan makan antara pukul 8 pagi hingga 8 malam, ditemukan bukti bahwa meskipun pada pola makan lebih awal dibatasi waktu makan, namun tidak mempengaruhi berapa banyak kalori dibakar dalam beberapa waktu, mengurangi rasa lapar dan meningkatkan pembakaran lemak selama beberapa jam pada malam hari. Ini juga meningkatkan fleksibilitas metabolis, yang mana memiliki kemampuan untuk membakar karbo dan lemak.

Baca juga:  Studi: Peminum Alkohol Berisiko Terkena Kanker, Termasuk Kanker Kulit

Menurut Erica Blackburg dalam wawancara dengan ABC News, orang sering memilih kripik dan es krim untuk dikonsumsi di malam hari. Makanan seperti itu padat akan kalori, rendah nutrisi dan ringan, sehingga tidak memberikan rasa kenyang yang akhirnya mengakibatkan pengonsumsian berlebihan. Jika Anda membatasi kalori pada keesokan harinya dengan tujuan kompensasi, maka siklus makan ini bisa terjadi lagi dan menyebabkan berat badan meningkat drastis.

Makanan mengandung kalori pada tengah malam sebenarnya dapat meningkatkan kesehatan, namun hal ini hanya berlaku bagi mereka yang sakit atau sedang dalam perawatan medis dan memiliki nafsu makan yang kurang. Jika Anda salah satunya, pilih makanan sehat kaya kalori seperti kacang-kacangan, alpukat, keju atau makanan ringan olahan.

Makan larut malam mungkin merupakan gejala depresi yang berkaitan dengan kondisi yang disebut Nighttime Eating Syndrome (NES atau sindrom makan malam hari). Orang dengan NES makan sebagian besar kebutuhan kalori setelah jam 6 sore, menurut Dr. Michael Craig Miller dari Harvard Health Publications.

Orang dengan NES kebanyakan mengalami depresi dan makan larut malam karena ketidakseimbangan hormon. Makan larut malam biasanya melibatkan gula dan karbohidrat, yang merupakan makanan pemicu rasa nyaman sehingga dapat mengobati diri sendiri.

Baca juga:  Harga & Review Maybelline Super BB Cream Fresh Matte

Pola tidur dan kualitas tidur Anda juga pasti akan ikut terpengaruh, apabila memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan berat atau mengkonsumsi camilan pada malam hari sebelum pergi tidur.

Kalori merupakan suatu bahan bakar yang diperlukan tubuh, sehingga tidak bisa membuatnya cepat tidur dan pasti akan terjaga sejenak. Hal ini karena makanan yang mengenyangkan akan memberi stimulus untuk melakukan suatu pekerjaan, bukannya tidur. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tidur, sehingga membuatnya sulit bangun keesokan harinya.

Dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan berat atau camilan pada malam hari sebelum tidur, akan meningkatkan lemak dalam tubuh dan memungkinkan anda untuk mengalami serangan jantung.

Serangan jantung dapat terjadi sebagai akibat lemak yang menumpuk, dan memiliki resiko menyumbat bagian-bagian pembuluh darah. Hal ini akan meningkatkan resiko dalam mengalami serangan jantung, disamping faktor-faktor lainnya.

Bahaya makan sebelum tidur ini juga berhubungan dengan jenis makanan yang dikonsumsi saat malam hari, beberapa makanan yang membahayakan jika dikonsumsi saat akan beranjak tidur adalah gorengan, pasta, minuman bersoda, kafein, es krim dan mie instan. Mie instan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan cenderung sulit untuk dicerna. Hal ini akan membuat asam lambung bekerja lebih ekstra, yang nantinya akan mempengaruhi tidur  dan akan menjadi lemak, karena belum dicerna secara sempurna.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: