Berapa Lama Depresi Post Partum Berlangsung?

Ilustrasi: depresi post partum (sumber: bibaleze.si)Ilustrasi: depresi post partum (sumber: bibaleze.si)

Setelah melahirkan, para orang tua, khususnya ibu, tentu akan merasa senang dengan kehadiran buah hatinya. Meskipun begitu, tak jarang wanita juga merasakan depresi post partum. Depresi atau stres yang mereka rasakan adalah hal yang wajar, karena mereka juga perlu beradaptasi untuk menjadi seorang ibu bagi anaknya. Namun, berapa lama depresi ini akan berlangsung?

Lamanya Depresi Post Partum

Post partum, atau lebih dikenal dengan masa nifas, merupakan periode ketika organ-organ reproduksi wanita kembali menjadi normal (keadaan tidak hamil) dan membutuhkan waktu selama kurang lebih 6 minggu.[1] Pada post partum, ibu akan mengalami perubahan, baik secara fisiologis maupun psikologis.

Perubahan yang terjadi pada adaptasi fisiologis, wanita akan mengalami perubahan sistem reproduksi berupa proses involusi uteri, laktasi, dan perubahan hormonal. Sementara itu, perubahan adaptasi psikologis yang dirasakan biasanya adalah rasa ketakutan dan kekhawatiran yang baru saja memiliki pengalaman proses melahirkan.

Perubahan secara psikologis bisa berdampak pada ibu dalam masa nifas menjadi lebih sensitif terhadap faktor-faktor yang sebenarnya bisa mereka hadapi dengan mudah dalam keadaan normal. Hal ini juga membuat wanita mengalami depresi selama post partum atau bisa dibilang post partum trauma.

Baca juga:  Review Bedak Wardah Exclusive Two Way Cake No 2 Sheer Pink

Depresi post partum bisa berlangsung jauh lebih lama dari masa post partum itu sendiri. Contohnya seperti yang dialami oleh seorang pasien bernama Jane yang menceritakan kisahnya pada seorang reporter bernama Catherine Pearson dalam HuffPost. Jane merasakan depresi tersebut lebih lama daripada yang pernah ia alami setelah melahirkan bayinya 10 tahun lalu. Wanita itu juga merasakan depresi tersebut terjadi begitu cepat sesaat setelah mendapatkan bayinya. “Rasanya seperti otak diatur ulang,” kata Jane.

Ilustrasi: wanita mengalami depresi post partum (sumber: gentlenursery.com)

Ilustrasi: wanita mengalami depresi post partum (sumber: gentlenursery.com)

Gejala depresi yang dialami ibu tersebut semakin memburuk dari waktu ke waktu. Bahkan, wanita ini juga sempat ingin mencoba bunuh diri. Pikiran ini ada selama berbulan-bulan hingga putranya berusia 3 tahun. Jane mencoba untuk lari di tengah kendaraan bermotor yang sedang melaju kencang. Namun, hal ini ia urungkan dan buru-buru menjauh dari trotoar.

Depresi tersebut masih menghantui hingga putranya berusia 4 tahun. Lalu, Jane memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan resep Prozac. Meskipun sudah mendapatkan obat dari dokter, terkadang depresi ini masih muncul ketika ia harus menjemput putranya. Ketika melihat anaknya, ibu tersebut selalu terhubung pada peristiwa saat melahirkan.

Baca juga:  Bagaimana Cara Kerja Kemoterapi Dalam Membunuh Sel Kanker?

Dilihat dari cerita Jane, depresi post partum tidak hanya menyerang wanita dalam beberapa minggu dan bulan setelah melahirkan, karena bisa bertahan selama bertahun-tahun dan bertambah buruk seiring waktu. Waktu depresi post partum pada setiap wanita memang tidak sama dan dapat berbeda gejalanya. Meskipun begitu, sebuah penelitian mengungkapkan, gejala depresi ini bisa meningkat pada 3 tahun setelah melahirkan. Studi tersebut telah melacak 5.000 ibu di New York dari waktu ke waktu.

Sebanyak 80% ibu yang baru melahirkan juga mengalami baby blues selama beberapa minggu. Mereka merasa sedih, cemas, dan banyak menangis. Selain itu, suasana hati para wanita tersebut cepat berubah karena hormon di tubuhnya yang berfluktuasi. Di samping itu, depresi post partum juga disebabkan oleh kurangnya waktu tidur akibat mengurus bayi yang rewel.

Depresi post partum sebenarnya bisa lebih mudah diatasi, jika ibu yang baru melahirkan memeriksakan diri atau menjalani skrining depresi pasca persalinan. Biasanya ini dilakukan dengan prosedur khusus memakai alat atau kuesioner resmi. Dengan mengetahui seberapa parah gejala depresi yang mungkin bisa timbul ke depannya, dokter akan memberitahu Anda bagaimana cara untuk menangani dan mencegahnya.

Baca juga:  Apa Itu Cedera Otak Traumatis dan Bagaimana Penanganannya?
Ilustrasi: ibu dan bayi (sumber: dailymail.co.uk)

Ilustrasi: ibu dan bayi (sumber: dailymail.co.uk)

Tips Atasi Depresi Post Partum

  • Dilansir dari halodoc, untuk mengatasi depresi post partum, sebaiknya Anda tidak segan untuk menceritakan kesulitan dan perasaan Anda kepada keluarga dan suami.
  • Beristirahat sebisanya dengan cara meminta bantuan kepada suami untuk bergantian menjaga bayi di malam hari.
  • Luangkan waktu sendiri untuk bersantai, berolahraga, dan melakukan hobi.
  • Menjaga asupan makanan bergizi dan menghindari minuman keras atau obat-obatan terlarang.

Itulah sejumlah tips untuk mengatasi depresi post partum. Selain itu, jika gejala post partum Anda tidak kunjung reda dan semakin melonjak, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikiater atau dokter yang bisa memberikan Anda terapi psikologis dan obat anti depresan.

[1] Sridani, Ni Wayan, Nur Asia, Fauzan, Hayati Palesa. 2019. Asuhan Keperawatan Post Partum dengan Pijat Oksitosin untuk Peningkatan Produksi ASI di Ruangan Meranti RSUD Torabelo. MEDIKA TADULAKO Jurnal Ilmiah Kedokteran UNTAD, Vol. 6(2): 41-57.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: