Perbandingan Kompor Induksi vs Kompor Listrik, Ini Kelebihan & Kekurangannya

Ilustrasi: nyala api kompor (Torsten Dettlaff via pexels)Ilustrasi: nyala api kompor (Torsten Dettlaff via pexels)

Jenis kompor di pasaran memang begitu beragam. Tak melulu kompor gas LPG, ada juga jenis kompor butana, kompor listrik, hingga kompor induksi. Setiap kompor memiliki kelebihan dan juga kekurangan masing-masing. Namun kali ini kami akan membahas lebih lanjut mengenai kompor induksi vs kompor listrik.

Sejarah kompor listrik memang cukup panjang. Pada 20 September 1858, George B. Simpson mematenkan kompor listrik yang menggunakan pemanas dari kumparan. Kini bahkan ada jenis kompor yang tidak akan mengeluarkan api sama sekali. Kompor itu dikenal dengan nama kompor induksi. Pada kompor listrik biasa, panas dihasilkan dari kumparan yang dialiri listrik. Adapun pada kompor induksi, panas dihasilkan dari medan magnet yang menginduksi panci. Sehingga, pada kompor induksi, panci yang digunakan harus panci khusus yang bersifat ferromagnetik dengan ciri magnet dapat menempel pada panci tersebut.[1]

Kompor induksi berbeda dari kompor listrik dalam hal sebagai berikut: kompor listrik membangkitkan panas melalui hambatan listrik logam (burner coil atau elemen), sedangkan kompor induksi membangkitkan panas melalui hambatan magnetik logam, yakni logam dalam alat memasak sendiri.[2]

Baca juga:  Dengan Berbagai Varian Produk dan Rasa, Bisnis Kue Basah Mendatangkan Keuntungan Hingga Ratusan Juta Rupiah

Cara kerja kompor induksi sama seperti cara kerja induksi magnetik pada motor listrik dan generator. Ketika konduktor listrik ditempatkan pada daerah bermedan magnet, akan dihasilkan listrik pada konduktor tersebut.

Kompor induksi (sumber: picclick.com)

Kompor induksi (sumber: picclick.com)

Bagaimana hal tersebut digunakan untuk memasak? Pada kompor induksi, elektromagnet ditempatkan di bawah permukaan masak. Ketika arus bolak-balik (arus AC) mengalir dalam elektromagnet, medan magnet terbentuk secara cepat. Arus Eddy akan dihasilkan di atas pelat logam yang dijadikan elektromagnet menimbulkan resistensi panas. Tidak seperti kompor listrik, resistensi panas timbul di dalam alat masak saja, tidak memanaskan elemen pemanas.

Selain elemen pemanas tidak panas, kompor induksi memiliki keunggulan lain. Derajat suhu pemanasan kompor bisa diatur lebih baik daripada kompor-kompor lainnya. Hal itu terjadi karena ketika mengubah besar kuat elektromagnetik, panas yang dihasilkan kompor hampir segera berubah.

Kompor induksi juga memiliki efisiensi panas yang tinggi, yaitu hampir semua energi listrik diubah menjadi kalor dan tidak hilang ke lingkungan. Hal ini menyebabkan cepatnya proses memasak, ruangan panas yang lebih dingin. Menurut penelitian, kompor induksi berefisiensi sekitar 80%, kompor listrik biasa sekitar 50%, dan kompor gas sekitar 30%. Dalam hal ini dapat menyingkat waktu memasak hingga setengahnya.

Baca juga:  Makanan ‘Super’ Untuk Wanita

Akan tetapi, salah satu kerugian dari kompor induksi adalah keharusan untuk menggunakan alat masak berbahan besi. Dengan demikian, alat masak dari aluminium, tembaga, keramik, atau gelas akan tetap dingin jika diletakkan di atas kompor induksi. Selain itu, daya listrik yang diperlukan minimal 800 watt.[3]

Perbedaan Kompor Induksi vs Kompor Listrik

Kompor listrik (sumber: thespruce.com)

Kompor listrik (sumber: thespruce.com)

Cara Pemanasan

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, kompor induksi memakai energi elektromagnetik untuk memanaskan panci dan wajan secara langsung. Sedangkan kompor listrik memakai elemen pemanas dan mengalirkan energi radiasi ke makanan.

Tingkat Keamanan

Kompor induksi disebut-sebut lebih aman dibanding kompor listrik kumparan atau kompor gas. Pasalnya, kompor induksi hanya memanaskan item dengan partikel besi di dalamnya. Kompor induksi cocok untuk Anda yang memiliki anak kecil di rumah, sebab jauh lebih aman jika disentuh atau terkena tangan. Beberapa produk kompor induksi bahkan akan mati secara otomatis ketika panci/wajan diangkat dari kompor, sehingga mengurangi risiko korsleting.

Baca juga:  Proyeksi Keuntungan Jualan Bisnis Sosis Bakar Dengan Omzet Fantastis

Suhu Maksimum

Kompor induksi rata-rata memiliki suhu maksimum hingga 351 derajat celsius, sedangkan kompor listrik biasa ternyata suhunya bisa lebih panas, rata-rata mencapai 393 derajat celsius. Kompor listrik pun butuh waktu lebih lama untuk dingin saat beralih dari panas tinggi ke rendah.

Efisiensi Energi

Kompor induksi jauh lebih efisien dibandingkan kompor listrik biasa untuk memanaskan peralatan masak secara langsung.

Harga

Jika ditinjau dari segi harga, kompor listrik biasa memang relatif lebih murah dari kompor induksi. Harganya berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Sementara itu, kompor induksi harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

[1] Fayeldi, T dkk. 2012. Teknologi Modern: Pemikiran Fenomenal Menuju Modernisasi ke Masa Depan (hlm 56). Dede A, editor. Jakarta: Bestari Kids.

[2] Wolke, RL. 2006. Kalo Einstein Jadi Koki: Sains di Balik Urusan Dapur (hlm 323). Terjemahan oleh: Alex TKW. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

[3] Mundilarto, dkk. 2007. Fisika 3 SMP Kelas IX (hlm 128). Saepul Q dkk, editor. Jakarta: Yudhistira.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: