Kecanduan Gadget pada Anak Berdampak Negatif Terhadap Kesehatan Mental

Masalah ini bukan hanya masalah anak, namun juga masalah orang dewasa

Jika anak sudah terbiasa dengan stimulasi konstan, maka penarikan emosional akan makin sulit [foto:Lorna Whiston Schools]

Bahaya neurologis yang terlibat dalam penggunaan perangkat atau secara berlebihan telah ditemukan dalam berbagai kasus dan . Mulanya ditemukan beberapa data kejadian bahwa penggunaan ketika berkendara dapat membahayakan karena bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas hingga berakibat kematian. Meskipun tidak ada penelitian jangka panjang yang menelusuri masalah ini dari masa kanak-kanak sampai dewasa, namun satu fakta sederhana tidak dapat dihindari: terlalu banyak waktu di depan layar adalah kebiasaan yang tidak sehat.

Kini sebuah penelitian longitudinal terhadap lebih dari ratusan siswa sekolah menengah di Australia telah mengungkapkan aspek lain dari teknologi, yaitu penurunan mental.

Tidak dapat tidur hingga larut malam, digunakan dengan menelepon dan mengirim SMS, adalah perilaku yang dapat menyebabkan penurunan kesehatan mental. Kelompok anak berusia tiga belas sampai enam belas tahun ini mengalami penurunan kinerja selama periode empat tahun, mulai 2010 hingga 2013.

Penelitian sebelumnya telah menghubungkan cahaya biru yang dipancarkan dari telepon atau perangkat yang membuat tidur menjadi buruk, padahal tidur diperlukan untuk kesehatan dan regulasi emosional yang optimal. Penelitian ini dianggap variabel pertama untuk menghubungkan ketiganya, walaupun secara anekdot guru telah memperhatikan peningkatan kelesuan pada siswa mereka selama bertahun-tahun sebagai dampak penggunaan perangkat mobile pada malam hari.

Penggunaan gadget berlebih pada malam hari juga akan berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Jika anak mengalami ketergantungan dengan gadget, maka mereka akan sangat sulit menangkap pelajaran di sekolah. Karena apa yanga ada dipikiran mereka sebagian besar hanya tertuju pada gadget.

Banyak yang beranggapan bahwa gadget adalah salah satu sarana edukasi yang efektif. Namun, para ahli berpendapat bahwa edukasi yang berasal dari gadget tidak bersifat tahan lama dan berkelanjutan dalam memori anak. Karena bagaimanapun juga, sumber edukasi yang baik untuk otak adalah alam dan lingkungan.

“Tidak hanya kinerja pendidikan yang terhambat. Keterampilan yang penting juga berkurang”, kata Lynette Vernon, peneliti utama studi di Universitas Murdoch di Perth: Hasil dari penelitian tersebut adalah: rendahnya harga diri, perasaan moody, perilaku eksternalisasi dan kurang mengatur diri, perilaku agresif dan nakal – dan semakin meningkat saat masalah tidur turut andil menambahkan tekanan.

akan gadget juga diyakini dapat membuat anak menjadi lebih agresif dan sulit dikendalikan. Orang tua menjadi diabaikan ketika memerintah sesuatu pada anak, karena anak hanya berfokus pada gadget.

Penggunaan gadget berlebihan akan berdampak pada pertumbuhan otak. Balita yang otaknya terlalu diekspos dengan gadget cenderung mengalami penundaan kognitif, peningkatan perilaku impulsif, dan penurunan kemampuan untuk mengatur diri sendiri. Perkembangan otak awal ditentukan oleh rangsangan alam dan lingkungan. Rangsangan yang berasal dari gadget akan berhubungan dengan eksekutif dan defisit perhatian, gangguan kognitif, kesulitan dalam belajar, peningkatan perilaku impulsif dan menurunkan kemampuan dalam mengendalikan diri.

Orang tua harusnya menjadi contoh

Bukan hanya cahaya pada perangkat yang mempengaruhi anak, menurut amatan Vernon. Gairah kognitif saat menerima teks atau reaksi media sosial seperti juga membuat pengguna gadget tetap siap untuk menanggapi lebih lanjut pada saat tubuh dan pikiran mereka harusnya dapat beristirahat. Alih-alih hanyut tertidur, otak mereka tetap waspada untuk balasan (pada perangkat) berikutnya.

Sebagai tindakan pencegahan Vernon menyarankan “batas fisik” sehingga remaja tidak bisa mengakses telepon mereka di malam hari. Namun Vernon berada di tempat yang goyah di sini. Teknologi adalah salah satu kecanduan yang paling jarang didiskusikan namun paling merasuk di era kita. Banyak orang dewasa yang juga mengalami kecanduan gadget.

Jika anak sudah terbiasa dengan stimulasi konstan, maka penarikan emosional tidak akan berubah dengan mudah. Ini menjadikan pertarungan kekuasaan antara anak dan orang dewasa selama anak masih saja adiktif dengan gadget pada malam hari. Orang tua harus benar-benar dapat bersikap dewasa dalam kasus ini. Vernon menganggap perubahan itu mungkin dilakukan melalui integritas dan komunikasi.

Yang Anda lakukan akan menjadi panutan bagi Anak
[foto: Addiction.com]

Kembali ketika mereka berusia tujuh sampai sepuluh tahun, orang tua harusnya menjadi panutan – Anda memasukkan ponsel Anda ke dalam laci di malam hari, tidak di bawa masuk ke kamar tidur Anda, itu menjadi langkah awal yang bisa Anda lakukan untuk menjadi panutan bagi Anak. Cara sederhana ini masih saja dianggap sulit bagi sebagian orang tua yang memang kerap menggunakan perangkat mobile hingga larut malam.

Selama kita belum benar-benar menyadari betapa bahayanya kecanduan teknologi, maka tidak akan banyak kemajuan terkait permasalahan ini. Kecanduan menggunakan perangkat saat malam hari adalah berbahaya mengingat berapa banyak ponsel kita yang menjadi selimut keamanan, selalu terpasang dan dapat dengan mudah terjangkau.

Mudah-mudahan dengan lebih banyaknya penelitian seperti ini, menyadarkan orang dewasa sebagai panutan bagi anak-anaknya. Jika tidak, siklusnya hanya akan bertambah buruk saat anak-anak mereka tumbuh dengan menganggap normal perilaku menghabiskan hidupnya di depan layar perangkat.

Gagdet tidak hanya berdampak buruk pada anak-anak saja, melainkan juga orang dewasa. Risiko-risiko menggunakan gadget perlu untuk diwaspadai bagi siapapun, terlebih pada anak-anak.  Karena itu, orangtua harus bersikap lebih bijak dalam hal ini. Orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak agar mereka terlepas dari ketergantungan berlebih terhadap gadget.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: