Kebiasaan Orang Tua Membersihkan Dot Dengan Cara Diisap Dinilai Baik Bagi Kesehatan Anak

mengisap, diisap, dot, bayi, anak, orang, tua, kebiasaan, ASI, cara, teknik, alergi, langsung, penyapihan, dini, berhubungan, alergi, asma, tingkat, IgE, alergen, kebiasaan, motivasi, faktor, psikologis, membersihkan, penelitian Bayi tidur sambil mengisap dot

Memiliki seorang menjadikan Anda mempunyai tugas baru. Selain menjaga asupan nutrisinya melalui ASI, juga memastikan bahwa tersedia cukup pakaian bersih, hingga steril tidaknya peralatan yang biasa digunakan si kecil, termasuk dot.

Ada beberapa orangtua yang biasa membersihkan dot bayi menggunakan mulut dengan cara mengisap peralatan itu. Hal itu dilakukan karena dipercaya mampu mencegah si kecil dari .

Sebuah penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap 128 ribu ibu di Amerika Serikat selama kurang lebih 18 bulan. Di antara semua ibu yang menggunakan dot, 30 orang di antaranya mengaku membersihkan dot dengan sterilisasi. Sementara 53 orang lain ketika membersihkan dot, mereka mencucinya dengan tangan. Dan, sebanyak 9 orang membersihkan dot dengan cara mengisapnya.

Menurut ketua penelitian, Dr. Eliane Abou-Jaoude, dari Henry Ford Health System di Detroit mengatakan, -anak dari ibu yang memiliki kebiasaan membersihkan dot dengan mengisap memiliki tingkat IgE yang rendah. Itu merupakan kadar imunoglobulin E (IgE) dalam plasma untuk mendiagnosis alergi serta mendeteksi alergen (zat pemicu alergi).

Kadar IgE pada pasien penderita alergi akan meningkat apabila bertemu dengan alergen. Ada berbagai jenis alergen yang menyebabkan gejala alergi, seperti bulu, makanan, serbuk sari, jamur, racun serangga, obat-obatan dan faktor-faktor lain di lingkungan kerja.

IgE bisa juga disebut sebagai jenis antibodi yang terkait dengan respons alergi dalam tubuh. Tingkat IgE yang lebih tinggi biasanya menunjukkan risiko yang lebih tinggi memiliki alergi dan asma alergik. Para peneliti memeriksa tingkat IgE bayi saat lahir, 6 bulan dan 18 bulan.

Hasilnya, Dr. Edward Zoratti yang juga seorang peneliti, menemukan bahwa kebiasaan orang tua mengisap dot terkait dengan tingkat IgE yang ditekan mulai sekitar 10 bulan, dan berlanjut hingga 18 bulan.

mengisap, diisap, dot, bayi, anak, orang, tua, kebiasaan, ASI, cara, teknik, alergi, langsung, penyapihan, dini, berhubungan, alergi, asma, tingkat, IgE, alergen, kebiasaan, motivasi, faktor, psikologis, membersihkan, penelitian

Ilustrasi: orang tua mengisap dot bayi

Studi tersebut dipresentasikan pada pertemuan tahunan American College of Allergy, Asthma dan Imunologi (ACAAI), di Seattle. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan, tetapi peneliti percaya, efek turunnya level IgE mungkin dikarenakan transfer mikroba dari mulut orang tua. Namun, masih belum jelas apakah produksi IgE yang lebih rendah terlihat di antara anak-anak akan berlanjut hingga tahun-tahun mendatang.

Dr. Elliane Abou-Jaoude mengatakan, paparan mikroorganisme tertentu di awal kehidupan bayi akan merangsang pengembangan sistem kekebalan tubuh dan dapat melindungi terhadap alergi nantinya.

Kebiasaan mengisap dot oleh orang tua bisa menjadi contoh cara orang tua mentransfer mikroorganisme yang kepada anak-anaknya. Studi yang dilakukan oleh Jaoude dan kawan-kawan menunjukkan hubungan antara orang tua yang mengisap dot anak mereka dan anak-anak dengan tingkat IgE yang lebih rendah, tetapi tidak berarti bahwa mengisap dot menyebabkan IgE yang lebih rendah.

Berkaitan dengan membersihkan dot bayi dengan cara mengisapnya, sudah ada beberapa yang percaya bahwa itu bisa membawa dampak baik bagi anak. Salah satunya adalah bisa menghindarkan anak dari risiko asma dan gatal-gatal.

Namun, belum diketahui tentang bagaimana teknik tersebut bisa melindungi anak dari asma atau alergi. Namun, beberapa peneliti beranggapan bahwa kemungkinan adanya transfer mulut dan mikroba dari orang tua pada anak bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan sistem pencernaan anak yang pada akhirnya membuat mereka berisiko kecil terkena alergi atau asma.

Menurut Dr. Wilfried Karmaus dari University of Memphis, bakteri juga penting untuk pertumbuhan anak. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Karmaus, partisipannya adalah wanita hamil di salah satu rumah sakit Swedia dan peneliti telah mengikuti perkembangan ibu hamil itu selama tiga tahun. Dari 184 bayi yang diamati, 80 persen memiliki orang tua dengan alergi. Setelah itu bayi diuji pada usia 18 dan 36 bulan.

Pada pengujian pertama, sekitar 46 bayi memiliki eczema dan 10 memiliki gejala asma. Anak yang menggunakan dot yang biasa dibersihkan dengan cara diisap oleh ibunya berkemungkinan 63 persen lebih kecil untuk memiliki eczema dan 88 persen lebih kecil terkena asma.

mengisap, diisap, dot, bayi, anak, orang, tua, kebiasaan, ASI, cara, teknik, alergi, langsung, penyapihan, dini, berhubungan, alergi, asma, tingkat, IgE, alergen, kebiasaan, motivasi, faktor, psikologis, membersihkan, penelitian

Ilustrasi: dot bayi telah bersih (twitter: @fla_videos)

Sementara pada pengujian kedua, saat bayi berusia 36 bulan, perbedaan untuk asma mulai hilang, sementara bayi dengan dot yang dibersihkan dengan cara diisap ibunya masih memiliki risiko 49 persen lebih rendah untuk terkena eczema. Namun, peneliti beranggapan bahwa penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk membuktikan lebih jelas mengenai manfaat membersihkan dot dengan mengisapnya.

Selain cara membersihkannya, penggunaan dot pada bayi sendiri masih menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah masalah penyapihan dini. Ada berbagai pendapat mengenai hubungan antara dot dan inisiasi serta durasi menyusu. Satu hipotesis menunjukkan bahwa pengenalan dot secara awal dapat menyebabkan teknik mengisap yang salah pada bayi. Bayi mungkin menjadi terbiasa dengan puting buatan dan menolak payudara alami. Akibatnya, bayi kurang sering menyusu pada payudara ibunya, dan akhirnya akan menyebabkan penyapihan secara dini.

Dari beberapa penelitian, penggunaan dot telah terbukti mengakibatkan penyapihan dini pada bayi. Bayi menemukan kesenangan dengan menghisap dot, sehingga tidak berselera lagi untuk minum dari payudara ibu. Akibatnya, rangsangan isapan bayi ke puting berkurang, sehingga produksi ASI akan menurun.

Pendapat berbeda datang dari Schubiger & Tonz (1997), yang meneliti efek penggunaan dot pada 602 bayi sehat, menyebutkan bahwa penggunaan dot sampai 5 hari pertama kehidupan bayi, tidak memiliki korelasi dengan menurunnya frekuensi dan singkatnya durasi menyusu pada ibu. Howard dkk. (1999), menambahkan bahwa menurunnya durasi menyusu, lebih berhubungan dengan menurunnya pemberian ASI daripada penggunaan dot. Kramer dkk. (2001), menyimpulkan bahwa penggunaan dot dan hubungannya dengan penyapihan dini ternyata lebih berkaitan dengan adat kebiasaan, motivasi dan faktor psikologis.

Sementara, menurut Kornborg & Vaeth (2009) penggunaan dot tidak berhubungan langsung dengan penyapihan dini, karena durasi pemberian ASI lebih sering berkaitan dengan cara dan teknik dalam proses .

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: