Kebiasaan Makan Secara Emosional & Pengaruhnya Terhadap Berat Badan

mindfulness, makan, emosional, secara, anak-anak, perasaan, emosi, isyarat, fisik, pendekatan, berat, badan, penurunan, orang, tua, peneliti, kue, coklat, kecanduan, penerimaan, diri, delusi, niat, lingkungan Menahan diri untuk tidak memakan makanan berlemak

Salah satu hal terberat dalam menurunkan berat badan bukanlah memilih apa yang seharusnya dimakan. Misalnya Anda harus fokus terhadap makanan segar, rendah kalori, hindari gula, sarat lemak, dan lainnya.

Seringkali, tantangan sebenarnya adalah tentang bagaimana dan alasan mengapa Anda perlu makan. Menurut Current Obesity Reports, salah satu strategi yang mungkin bisa membantu adalah mengubah pola pikir dengan menjadi ‘mindfulness’.
Salah satu utama pendekatan ‘mindfulness’ untuk menurunkan berat badan adalah membantu orang mengenali makan secara emosional, kata Ronald D. Siegel, asisten profesor di Harvard Medical School.

Sangat sedikit dari yang Anda makan hanya berdasarkan isyarat kelaparan. Siegel mengatakan bahwa makan juga untuk menenangkan kecemasan, kesedihan, atau iritasi. Hal itu adalah resep untuk makan tanpa banyak berpikir yaitu Anda makan secara otomatis, tanpa memerhatikan bagaimana perasaan Anda, secara emosi atau fisik.

Praktik ‘mindfulness’ membantu Anda melihat pola umum yang mirip dengan apa yang terjadi dengan banyak jenis , kata Dr. Siegel. Kebanyakan perilaku manusia didasarkan pada pola yang dikondisikan untuk mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit. Perilaku-perilaku yang disebut sebagai , yang memiliki konsekuensi jangka pendek yang baik (contohnya kesenangan memakan sepotong coklat) tetapi konsekuensi jangka panjang yang buruk (menjadi kelebihan berat badan).

Kesadaran diri untuk menurunkan berat badan? Perhatikan keinginan Anda

Perilaku kecanduan cenderung kepada apa yang dikatakan oleh ahlinya, G. Alan Marlatt. Ia menyebutkan bahwa kecanduan adalah efek pelecehan abstinensi. Misalnya, Anda mungkin memiliki rencana untuk makan dengan , tetapi kemudian Anda melihat kue coklat. Anda makan sepotong kue, tetapi kemudian merasa bersalah tentang kurangnya kendali diri yang dirasakan.

mindfulness, makan, emosional, secara, anak-anak, perasaan, emosi, isyarat, fisik, pendekatan, berat, badan, penurunan, orang, tua, peneliti, kue, coklat, kecanduan, penerimaan, diri, delusi, niat, lingkungan

Bimbang memilih makanan sehat atau enak

Setelah Anda menyadari pola-pola kecanduan makanan, langkah selanjutnya adalah menemukan cara untuk mengendalikan keinginan. Hanya menghindari makanan yang menggoda itu sulit, karena makanan yang lezat tersedia di mana-mana. Perhatian penuh (mindfulness) dapat membantu untuk menyadari keinginan dan mengenali bahwa Anda dapat mengatasi ketidaknyamanan itu, yang mungkin ditekankan oleh emosi yang tidak bahagia. Dengan mengalihkan perhatian Anda pada perasaan-perasaan itu dan melatih kesadaran diri, Anda dapat memperhatikan bahwa perasaan itu datang dan pergi.

Penerimaan diri dan defusi

Aspek lain dari pelatihan mindfulness adalah penerimaan diri. Jika Anda menyerah pada keinginan, maafkan diri Anda dan lakukan hal lain. Menurut Dr. Siegel,  tidak ada satupun dari seorang manusia yang sempurna, Anda tidak perlu menyiksa diri sendiri. Empat dari dua belas studi dalam artikel ulasan terbaru berfokus pada pelatihan perilaku berbasis penerimaan, yang bergantung pada strategi kesadaran untuk mengidentifikasi emosi daripada menghindarinya.

Dalam satu penelitian kecil terhadap orang-orang dengan jantung, peserta didorong untuk mengenali bahwa makan dengan sehat dan berolahraga benar-benar menantang, dan bukan merupakan sesuatu yang menyedihkan. Sebaliknya, para peserta diajarkan praktik yang disebut defusi, di mana Anda menjauhkan diri dari pikiran, perasaan, dan keyakinan yang tidak membantu. Hal itu membantu peserta memberikan toleransi kesulitan dengan mencoba membuat perubahan perilaku yang sehat bagi jantung. Para peserta memberikan nilai tinggi untuk program itu dan melakukan perubahan positif dalam pola makan dan kebiasaan olahraga mereka.

Strategi lain yang menjanjikan yang dicatat yaitu mencakup berbagai jenis meditasi kesadaran, seperti praktik yang berfokus pada makan, di mana orang diajarkan untuk mengakui tingkat rasa lapar, emosi, pikiran, motivasi, dan lingkungan makan mereka dengan penerimaan, tetapi tanpa penilaian. Latihan itu dinilai paling efektif bila berkombinasi dengan rasa sayang pada diri sendiri, yang melibatkan pengulangan ungkapan niat baik dan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

mindfulness, makan, emosional, secara, anak-anak, perasaan, emosi, isyarat, fisik, pendekatan, berat, badan, penurunan, orang, tua, peneliti, kue, coklat, kecanduan, penerimaan, diri, delusi, niat, lingkungan

Makan secara emosional juga bisa terjadi pada anak

Makan secara emosional tidak hanya bermanfaat bagi orang dewasa, tetapi juga untuk anak-anak. Sebuah penelitian dilakukan oleh tim peneliti dari University College London. Dr. Moritz Herle, kepala penelitian mengatakan bahwa dan emosi negatif dapat memiliki efek berbeda pada selera makan di setiap orang.

Herle mengatakan bahwa sebagian orang menginginkan makanan kesukaan mereka, sementara sebagian lain justru kehilangan keinginan makan ketika sedang stres atau sedih. Begitu pula pada anak-anak. Penelitian yang dilakukan oleh Herle mendukung temuan bahwa anak-anak yang dipengaruhi oleh emosi akan menjadi terlalu banyak makan atau justru tidak makan. Hal itu sebagian besar karena pengaruh faktor lingkungan.

Penelitian dilakukan dengan melibatkan 398 anak kembar di Inggris yang berusia empat tahun dari Twins Early Development Study (TEDS). Sebagian anak kembar berasal dari keluarga dengan orang tua gemuk atau obesitas, sehingga membuat anak-anak berisiko lebih besar menjadi obesitas. Sementara, sebagian lainnya berasal dari orang tua dengan berat badan normal atau sehat.

Para orang tua melaporkan kebiasaan makan anak-anak mereka, serta kecenderungan makan secara emosional dengan kuesioner. Lalu,para ahli membandingkan data-data kuesioner antara kembar identik dan non-identik, bersama tingkat makan secara emosional anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan jauh lebih berperan daripada genetik.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kebiasaan atau perilaku makan benar-benar dipengaruhi oleh faktor genetis pada anak dalam usia dini, seperti memilih makanan atau rewel soal makanan.

Penelitian yang dilakukan oleh Herle juga menunjukkan hasil yang sama dengan sebelumnya. Hal itu semakin menegaskan bahwa lingkungan berperan besar dalam membentuk kebiasaan makan secara emosi. Dan, menurut Herle, kebiasaan makan itu berkembang di masa pra-sekolah.

Oleh karena itu, Dr. Clare Llewellyn, peneliti senior dari University College London, Institute of Epidemiology and Health mengatakan bahwa para orang tua sebaiknya tidak menggunakan makanan untuk membujuk anak-anak. Sebaiknya gunakan strategi yang lebih positif untuk menenangkan anak-anak, seperti berbicara secara terbuka mengenai perasaan anak-anak, dan memberi mereka pelukan.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: