Pentingnya Menghindari Alkohol Sebelum Program Kehamilan untuk Suami-Istri

Ilustrasi: konsumsi minuman beralkoholIlustrasi: konsumsi minuman beralkohol

Kebiasaan buruk, seperti mengonsumsi minuman atau makanan beralkohol tidak hanya terjadi di negeri sub-tropika. Banyak juga orang membiasakan dirinya untuk mengonsumsi alkohol di Indonesia. Masyarakat Indonesia dengan kondisi beragam suku, budaya, dan agama juga tidak menolak bahwa alkohol menjadi salah satu minuman mewah dan harus ada di setiap perjamuan makan malam. Bagi keluarga tertentu atau sepasang suami istri, makan malam tanpa ditemani segelas wine atau bir tidaklah nikmat dan akan terasa hambar.

Dampak Mengonsumsi Alkohol untuk Ibu Hamil

Sangat disayangkan jika Anda memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol, apalagi jika Anda ingin memiliki seorang buah hati setelah menikah. Di masa remaja, mungkin sulit untuk menghindari minuman beralkohol. Banyaknya teman dengan kondisi lingkungan kotor dan menjadi budak alkohol, adalah salah satu kesulitan bagi sebagian besar remaja. Tak jarang pula ditemukan kasus remaja di usia belia mengonsumsi bir beramai-ramai hingga mabuk.

Kebiasaan seperti ini di masyarakat perlu ditindak dengan tegas. Sudah ada undang-undang dan peraturan yang tidak memperbolehkan remaja di bawah umur mengonsumsi atau membeli minuman beralkol tampaknya seringkali di langgar. Kebiasaan minum alkohol di usia remaja akan dibawa hingga dewasa. Bagi Anda yang memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dari remaja, juga perlu waspada. Ini tidak hanya berdampak bagi kesehatan Anda saja tetapi juga orang di sekitar.

Ilustrasi: konsumsi minuman beralkohol

Ilustrasi: konsumsi minuman beralkohol

Kebiasaan buruk yang dibawa dari remaja hingga dewasa, apalagi jika Anda sudah memiliki pasangan dan menikah sangat berbahaya. Dampaknya akan dirasakan jika Anda ingin memiliki momongan. Bagi seorang wanita, kebiasaan minum alkohol tidak bisa dimaafkan lagi jika itu dalam keadaan hami. Seorang wanita hamil tentu harus menghentikan kebiasaannya di mulai sejak 6 bulan sebelum masa kehamilan.

Mengonsumsi alkohol dalam kondisi hamil tidak hanya berdampak buruk bagi sang ibu, tetapi juga janin dalam kandungannya. Apalagi jika Anda sedang hamil besar, sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi alkohol saat usia kehamilan sudah menginjak 5 hingga 9 bulan dan setelah melahirkan. Dalam kondisi menyusui, Anda juga tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi alkohol.

Seorang wanita hamil yang mengonsumsi alkohol dapat membuat kondisi bayi menjadi lahir prematur, cacat fisik, kelainan, terjangkit penyaki kronis, hingga penurunan fungsi otak. Kandungan alkohol dalam ASI juga dapat menyebabkan bayi mudah sakit, mengalami penurunan fungsi otak, hingga keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Untuk ibu hamil yang mengonsumsi alkohol, biasanya akan mudah terkena serangan jantung dan gagal ginjal.

Untuk mencegah kondisi tersebut, ada baiknya jika Anda mulai berhenti mengonsumsi alkohol sejak dini. Ini bertujuan agar Anda tidak terbiasa mengonsumsi alkohol sehingga sulit untuk menghentikannya ketika sedang hamil. Beberapa orang wanita bahkan sempat kecanduan alkohol dan harus menjalani rehabilitasi ketika akan memulai program hamil. 

Minum, meminum, konsumsi, alkohol, kanker, sel, kulit, pertumbuhan, kematian, Amerika Serikat, penyakit, penelitian, studi, hasil, peneliti, jurnal, risiko, pemicu, kasus, membunuh, melanoma, karsinoma, berbahaya, kesehatan, tubuh, minuman, per, hari, pria, wanita, DNA, wine, anggur, antioksidan, studi,

Ilustrasi: minuman beralkohol jenis wiski

Tidak Hanya Istri, Suami Juga Harus Menghindari Alkohol

Ketika ingin memulai program hamil, tidak hanya seorang istri yang harus menjaga kesehatannya, begitu juga dengan pria. Dampak dari kebiasaan mengonsumsi alkohol pada pri dan wanita tentu berbeda karena hanya seorang wanita yang bisa hamil. Wanita hamil memang tidak dianjurkan untuk mengonsumsi alkohol, tetapi bagaimana dengan suaminya?. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa pria yang berharap menjadi ayah juga harus menjauhi alkohol selama setidaknya enam bulan sebelum mencoba untuk menjalani program kehamilan.

Dalam penelitian tersebut, menyimpulkan jika calon ibu dan ayah minum bir dalam tiga bulan sebelum kehamilan, apalagi jika ibu minum bir selama trimester pertama, mereka berisiko melahirkan bayi dengan penyakit jantung bawaan. Kebiasaan minum bir pada pria dapat meningkatkan risiko 44%, dan pada wanita 16% untuk dampak tersebut. Sebagai info yang mengejutkan, menurut penelitian, pesta minuman keras dengan jumlah lima botol minuman beralkohol atau lebih sekaligus dapat meningkatkan risiko pada pria sebesar 52%, dan pada wanita, 16% untuk bayi dengan kondisi penyakit jantung bawaan.

“Pesta minuman keras oleh calon orang tua adalah risiko tinggi dan perilaku berbahaya yang tidak hanya dapat meningkatkan kemungkinan bayi mereka dilahirkan dengan cacat jantung, tetapi juga sangat merusak kesehatan mereka sendiri,” kata penulis studi Dr. Jiabi Qin, seorang peneliti di sekolah kesehatan masyarakat Central South University di Changsha, Cina.

Ilustrasi: konsumsi minuman beralkohol

Ilustrasi: konsumsi minuman beralkohol

Untuk hasil penelitian tersebut, para peneliti menganalisis 55 kasus dan penelitian sebelumnya yang sudah diterbitkan, ini mencakup hampir 42.000 bayi dengan penyakit jantung bawaan dan hampir 298.000 tanpa.

“Kami mengamati risiko penyakit jantung bawaan yang meningkat secara bertahap ketika konsumsi alkohol orang tua meningkat,” kata Qin dalam rilis berita dari European Society of Cardiology.

Dalam pengamatan yang dilakukan Qin tersebut, ibu hamil yang mengonsumsi minuman beralkohol juga dikaitkan dengan risiko 20% lebih tinggi dari bayi yang lahir dengan kombinasi empat kelainan jantung struktural yang dikenal sebagai Tetralogy of Fallot. Lebih dari satu juta bayi per tahun dilahirkan dengan kelainan jantung. Kondisi-kondisi ini adalah penyebab utama kematian bayi dan meningkatkan kemungkinan penyakit jantung di masa depan.

“Meskipun analisis kami memiliki batasan – misalnya, jenis alkohol tidak dicatat – itu menunjukkan bahwa pria dan wanita yang merencanakan ingin memiliki buah hati harus berhenti minum alkohol,” kata Qin. Adanya penelitian ini bertujuan untuk mengurangi kasus bayi lahir dalam kondisi kelainan jantung dan cacat mental, selain itu penelitian ini juga bertujuan agar angka kebiasaan konsumen minuman beralkohol dapat berkurang walaupun hanya sedikit.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: