Kebiasaan Buruk Ini Cenderung Pada Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Cinta

kekerasan, secara, psikis, emosional, pasangan, meledak-ledak, amarah, maaf, perempuan, mengendalikan, mengirimi, pesan, mengetahui, keberadaan, ruang, pribadi, fisik, pakaian, kritikKebiasaan Buruk Ini Cenderung Pada Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Cinta (lifehack.org)

Dalam sebuah hubungan, rasa saling menghargai penting ditumbuhkan. Walaupun, Anda dengan pasangan memiliki perbedaan, misalnya perbedaan selera atau bisa juga pandangan.

Mungkin, bagi beberapa pasangan sikap saling menghargai sudah menjadi kebiasaan, tetapi tidak jarang pula ada pasangan yang mengaku sulit melakukannya. Hal tersebut bisa memicu terjadinya kekerasan secara emosional (psikis) terhadap pasangan.

Kekerasan secara psikis berbahaya, sama saja dengan kekerasan fisik, terlebih bagi perempuan. Jika digambarkan, mungkin kekerasan psikis tidak memiliki bentuk, sehingga agak lebih susah untuk mendeteksinya.

Berdasarkan pendapat Denise Renye, seorang psikolog, mengatakan bahwa kekerasan secara emosional dapat berupa teriakan, membuat pasangan merasa rendah diri, berkomentar terhadap bentuk fisik pasangan, secara sengaja tidak menghormati batas-batas pada pasangan, dan lainnya.

Kekerasan secara emosional mungkin juga disertai dengan kekerasan secara fisik, seksual, atau menyinggung soal keuangan. Walaupun itu tidak terjadi pada Anda, tetapi hal itu dapat menghancurkan penderita.

Pada awalnya, pelaku mungkin akan tampak seperti orang yang kharismatik dan menarik, menunggu beberapa waktu berjalan, misalnya saja ketika mereka telah menikah dan pelaku mulai menunjukkan sifat aslinya.

Psikolog Renye menekankan bahwa kekerasan juga sering memanipulasi pasangan mereka sampai berpikir bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah hal yang romantis. Kelakuan atau kebiasaan pelaku mungkin merupakan produk atau hasil dari kecemburuan yang tidak terkendali. Kadang, apa yang dilakukan pelaku kekerasan merupakan sebuah tanda bahwa mereka benar-benar menyayangi pasangannya. Namun, hal tersebut merupakan sebuah kontrol jika pelaku tidak dapat menahan dan menghadapi perasaannya sendiri secara internal.

Faktor lain yang bisa memicu kekerasan psikis adalah masalah keuangan, di mana pelaku mendikte akses pasangan mereka ke sumber ekonomi, yang dapat membuat lebih sulit bagi penderita atau korban untuk ‘melarikan diri’.

Berikut ini akan disajikan beberapa kebiasaan yang mengarah kepada kekerasan secara psikis yang mungkin terlihat seolah-olah romantis, tetapi di dalam kehidupan nyatanya, berupa ‘racun; atau sesuatu yang tidak baik dan juga bersifat manipulatif.

Amarah sering meledak-ledak kepada pasangan

Baca juga:  Mengapa Saya Terbiasa Membuang Banyak Waktu?

Hasrat dalam sebuah hubungan dapat berarti keintiman, dapat tertawa bersama, dan juga kehangatan dari pasangan, begitu pula sebaliknya. Setiap pasangan pasti memiliki selisih pendapat, tetapi tidak berarti hal tersebut disampaikan dengan cara berteriak dengan nada emosi. Seharusnya dibicarakan secara baik-baik, dengan kalimat yang baik, serta tidak dengan nada tinggi.

Dapat diambil contoh, ketika Anda keliru membeli susu yang masa kedaluwarsanya terlewat, ada beberapa pasangan yang mungkin akan menerima kesalahan tersebut dengan solusi langsung membuang susu tersebut. Tetapi, mungkin ada juga pasangan yang berteriak untuk menunjukkan kekecewaan mereka. Jika Anda mengalami atau mengetahui hal tersebut, itu bukan hasrat dalam hubungan, itu adalah kekerasan.

Memberi kritik terhadap fisik atau pakaian Anda

Memberi kritik terhadap bagaimana fisik atau penampilan Anda, mungkin akan dianggap sebagai bentuk perlindungan pasangan. Misalnya, ketika pasangan meminta Anda untuk tidak berpakaian terlalu terbuka supaya tidak menarik perhatian orang lain.

Begitu pula sebaliknya, jika Anda merasa nyaman dengan gaya berpakaian yang tertutup, pasangan sebaiknya tidak memaksa berpenampilan terbuka untuk mengesankan teman-temannya atau orang sekitar.

Meskipun tidak apa-apa meminta pendapat pasangan Anda tentang pakaian, tetapi tidak ada gunanya bagi pelaku kekerasan untuk mempermalukan, menghina, atau menekan Anda, terlebih di hadapan orang lain.

Pasangan menghina dan ‘mengutuk’ Anda ketika mereka marah, lalu meminta maaf setelahnya

Baca juga:  Sederet Produk Pelembab Untuk Atasi Kulit Kering Pada Bayi

Ketika marah, pasangan mungkin akan menggunakan kata-kata tidak pantas. Contoh sederhana saja dengan memanggil pasangan dengan sebutan yang menyedihkan atau memanggilnya ‘bodoh’, atau bisa juga memberi tahu sesuatu dengan perkataan yang tidak jelas, bisa menjadi salah satu bentuk pelecehan verbal.

Pelaku mungkin akan sering memanggil nama dan bersumpah pada pasangan mereka sebagai bagian dari fase ledakan emosi mereka. Setelah mereka melakukan hal tersebut, kemudian meminta maaf (mungkin disertai dengan tindakan permohonan maaf yang berlebihan).

Pelaku kekerasan sering kali menggunakan kata-kata ketika mereka marah (mengutuk) dikarenakan mereka menyayangi Anda dan hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Seringkali pelaku kekerasan mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan bukan merupakan pelecehan, atau mengatakan sebagai ‘kebaikan hubungan’, atau bisa jadi menyebutnya sebagai sesuatu yang romantis.

Kebiasaan marah yang meledak-ledak, disertai dengan bahasa kasar yang tidak enak didengar telinga, mungkin akan sedikit terobati dengan permohonan maaf, terlebih jika diiringi dengan tindakan yang berlebihan. Tetapi, yang perlu diingat, kebiasaan seperti itu akan terulang kembali, seperti sebuah siklus.

Pasangan sering mengirimi pesan teks dan menelepon untuk mengecek keberadaan Anda

Baca juga:  Tradisi Unik Tentang Kecantikan Yang Dilakukan di Jepang

Hal tersebut menjadi sesuatu yang menyebalkan bagi pasangan ketika Anda tidak membalas pesan mereka atau teleponnya. Jika Anda pernah mengalami saat di mana pasangan melakukan permintaan berulang untuk mengetahui keberadaan Anda, dan menjadikan sebuah komunikasi yang tidak bisa dihindarkan, itu mungkin sudah di luar batas.

Ketika pasangan Anda kesal ketika Anda tidak segera menjawab pesan, mungkin mereka akan memberi tahu bahwa mereka merindukan Anda. Tetapi, sebaiknya hal yang dilakukan pasangan tidak sampai membuat Anda harus terus-terusan terpaku pada ponsel.

Pasangan menolak untuk memberikan Anda ‘ruang pribadi’

Meskipun Anda dan pasangan sedang berada dalam sebuah hubungan, tetapi bukan berarti pasangan atau bahkan Anda sendiri tidak memiliki ruang untuk diri sendiri. Ada kalanya Anda membutuhkan waktu untuk sendiri, bukan berarti menjauh, mungkin hanya untuk lebih menenangkan pikiran.

Pasangan mengatur dengan siapa Anda harus bersama untuk menghabiskan waktu

Dalam sebuah hubungan, sebaiknya pasangan tidak menghalang-halangi Anda untuk bersahabat dengan siapapun. Atau, pasangan sebaiknya tidak mengkritik dengan siapa biasanya Anda menghabiskan waktu.

Misalnya, ketika Anda harus berpartisipasi dalam acara sosial, tetapi karena pasangan tidak menyukai, atau tidak memberi izin, sehingga menyebabkan Anda tidak jadi menghadiri acara tersebut, itu bukan suatu tindakan yang berarti ‘aku tidak bisa hidup tanpamu’, atau sesuatu yang romantis, tetapi itu merupakan suatu bentuk pengendalian dalam hubungan.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: