Segala Hal yang Perlu Anda Tahu Seputar KB Steril Ikat

Ilustrasi: suami istri berkonsultasi kepada dokter (sumber: yournewfoundation.com)Ilustrasi: suami istri berkonsultasi kepada dokter (sumber: yournewfoundation.com)

KB steril menjadi alternatif kontrasepsi permanen bagi pasangan suami istri yang sudah berkomitmen untuk tidak ingin memiliki anak lagi. Sterilisasi bisa dilakukan oleh pihak laki-laki melalui vasektomi atau oleh pihak perempuan melalui tubektomi. Metode ini disebut-sebut aman dan tidak memengaruhi hormon.

Ligasi tuba atau tubektomi adalah strategi bedah untuk pembersihan di mana tuba fallopi wanita dijepit dan diblokir atau dipisahkan dan diperbaiki yang tujuannya menjaga sel telur agar tidak mampu mencapai rahim untuk implantasi. Tubektomi merupakan metode kontrasepsi permanen untuk disinfeksi dan pencegahan konsepsi selamanya. Metode ini memerlukan tindakan operasi dengan anestesi. Jenis anestesi yang biasanya digunakan pada tindakan tubektomi adalah lokal, umum, dan regional.

Tubektomi dapat bekerja dengan baik sekitar 99% pada tahun pertama. Pada tahun-tahun berikutnya, efikasi tubektomi mungkin menurun karena tuba fallopi dapat berubah atau tersambung kembali sehingga menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan seperti kehamilan ektopik sebesar 15-20%. Bahaya kehamilan ektopik sebesar 12,5% pada wanita yang menjalani tubektomi adalah lebih serius dibandingkan wanita yang tidak menjalani tubektomi.

Baca juga:  ‘Snapchat Dysmorphia’, Kaum Milenial Lakukan Operasi Agar Mirip Filter di Media Sosial

Tubektomi atau sterilisasi wanita adalah salah satu tindakan operasi paling aman, dengan komplikasi yang jarang dan tingkat kejadiannya kurang dari 1% pada seluruh wanita yang menjalani tindakan ini. Prosedur sterilisasi wanita dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu prosedur untuk mencapai tuba fallopi (terutama pendekatan abdomen seperti minilaparotomy, laparoskopi, dan laparotomy) dan metode penyumbatan tuba fallopi (terutama ligasi dan eksisi, menggunakan peralatan mekanik seperti penjepit atau cincin dan elektrokoagulasi).[1]

Metode KB Steril

Dilansir dari Mommies Daily, secara umum ada beberapa metode KB steril atau tubektomi yang bisa Anda jalani, yaitu:

  • Diikat: saluran tuba dibuat semacam simpul, kemudian diikat atau diberi penjepit khusus.
  • Diputus dengan beberapa cara: diikat terlebih dahulu kemudian dipotong ujungnya (metode Pomeroy, termasuk metode yang paling banyak dipakai), dipotong dulu ujung-ujung lalu diikat masing-masing, atau dipotong lalu ujungnya di-cauter (dilaser) untuk menyumbat saluran tuba.
  • Disisipi spiral (metode Essure-Adiana): dengan disisipi semacam spiral logal. Metode ini biasanya akan membuat jaringan terluka dan membentuk jaringan baru yang membuat saluran tuba buntu.
  • Fimbriectomy: pemotongan bagian fimbria atau bagian berumbai di ujung saluran tuba.
Ilustrasi: prosedur operasi steril KB (sumber: mamapapa.id)

Ilustrasi: prosedur operasi steril KB (sumber: mamapapa.id)

Kelebihan KB Steril Ikat

Dari beberapa metode sterilisasi yang telah dijelaskan sebelumnya, KB steril dengan metode ikat atau jepit kabarnya menjadi metode yang memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi untuk direkanalisasi atau disambungkan kembali bagi Anda yang berencana untuk hamil lagi setelah menjalani tubektomi.

Baca juga:  Info Lengkap Biaya Pernikahan Sederhana Tanpa Pelaminan

Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan dr. Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya. “Ikatan masih bisa dibuka, prosedur ini dinamakan operasi tubal anastomosis,” kata dr. Hari, seperti dilansir dari Detik.

Lebih lanjut dr Hari menjelaskan, proses simpel dari prosedur tersebut adalah dengan membuka ikatan atau klip atau karet yang sebelumnya digunakan untuk menghambat pertemuan antara sel telur dengan sperma. Kemudian, setelah ikatan dibuka maka dokter akan melakukan penyambungan kembali bagian yang terpotong.

Persiapan yang perlu dilakukan ibu sebelum proses operasi membuka kembali ikatan tersebut sama seperti persiapan operasi pada umumnya. Misalnya saja, pasien diizinkan makan dan minum terakhir minimal 8 jam sebelum dilakukan operasi. Akan tetapi, apabila wanita berusia 40 tahun lebih dan ingin memiliki anak lagi melalui metode penyambungan tersebut, menurut dr Hari prosedur ini tak memiliki angka keberhasilan hingga 100%.

Baca juga:  5 Perlengkapan Umroh Wanita 9 Hari yang Tidak Boleh Dilewatkan

Selain faktor usia, faktor lain yang juga turut memengaruhi tingkat keberhasilan pembukaan ikatan tuba falopi adalah berapa lama sterilisasi dilakukan dan teknik apa yang dilakukan sebelumnya. “Untuk pembukaan tubektomi pun tidak ada perbedaan jika sebelumnya si ibu melahirkan melalui operasi caesar atau bersalin normal,” ungkap dr Hari.

Menurut informasi beberapa tahun lalu, metode penyambungan kembali saluran tuba setelah tubektomi atau tubal ligation reversal ini memakan biaya yang cukup mahal, berkisar Rp12 juta. Di luar negeri sana beberapa orang menyatakan sukses hamil lagi dalam waktu kurang dari setahun usai menjalani prosedur tersebut. Namun kembali lagi, tiap wanita tentunya memiliki kondisi fisik yang berbeda-beda.

[1]Yunita, EP. 2019. Penggunaan Kontrasepsi dalam Praktik Klinik dan Komunitas(hlm. 63-64). Malang: UB Press.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: