Pemaksaan Reproduksi pada Gadis Remaja, Awasi Gaya Pacaran Anak Anda

Ilustrasi: gadis remajaIlustrasi: gadis remaja

Banyak sekali kasus asusila yang dialami oleh kaum remaja putri, salah satunya karena gaya pacaran yang berlebihan. Di Indonesia sendiri, sudah banyak ditemukan kasus remaja hamil di luar nikah. Menikah setelah hamil di usia remaja ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa saja, tetapi juga para pelajar SMP. Tidak heran jika pasien di klinik kandungan kebanyakan adalah remaja di bawah umur.

Kasus seperti ini juga sudah tidak mengejutkan lagi, terlebih para orang tua juga sudah tidak bisa menentang remaja untuk melakukan hubungan pacaran. Dalam hubungan pacaran remaja saat ini, terlebih remaja putri, sering mengalami bentuk penyalahgunaan hubungan yang berbahaya. Tidak hanya kekerasan, tetapi juga pemaksaan reproduksi atau penyalahgunaan seks. 

Hasil Studi Tentang Pemaksaan Reproduksi pada Remaja Putri

Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti menyimpulkan bahwa setidaknya ada 1 remaja di antara 8 remaja yang mengalami perlakuan pemaksaan reproduksi oleh pasangannya. Semua remaja tersebut tentunya merupakan remaja dengan fungsi seksual yang aktif. Perlu diketahui pula, kasus pemaksaan reproduksi pada remaja putri tampaknya sudah sering terjadi dan tidak asing lagi untuk didengar. 

Pemaksaan reproduksi pada remaja putri sendiri merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual. Gadis remaja atau wanita ditekan dan dipaksa untuk memasuki masa kehamilan yang tidak diharapkan. Pemaksaan kehamilan pada gadis remaja tidak hanya menyulitkan hidup mereka, karena seringkali pasangannya tak mau bertanggung jawab, sehingga ini juga menyulitkan keluarga dari pihak gadis tersebut. 

Dalam praktik kasus pemaksaan reproduksi pada remaja, pasangan pria seringkali mengancam akan pergi jika gadis tersebut menolak untuk melakukan hubungan intim yang dapat menyebabkan kehamilan. Walaupun ada banyak sekali alat kontrasepsi seperti kondom dan lain sebagainya, tampaknya dalam kasus pemaksaan reproduksi tidak menggunakannya dengan baik.

Ilustrasi: stop pemaksaan seksual remaja (sumber: dailydot.com)

Ilustrasi: stop pemaksaan seksual remaja (sumber: dailydot.com)

Menurut studi tersebut, pemaksaan reproduksi pada gadis remaja merupakan salah satu bentuk kekuasaan dan kontrol yang diberikan melalui adanya beberapa pengaruh. Pengaruh tersebut, seperti kesehatan, seksualitas, dan perilaku perawatan kesehatan wanita. Dalam hal ini, kasus pemaksaan reproduksi juga termasuk ke dalam permasalahan kesehatan masyarakat secara luas yang serius. 

Penelitian lain mengenai pemaksaan reproduksi pada remaja menggambarkan bahwa gadis remaja dengan pemaksaan reproduksi juga akan mengalami kemungkinan stress dan depresi tinggi. Dalam analisis ini, kasus terfokus pada wanita dewasa muda. Penelitian meriset data yang telah dikumpulkan dari 550 gadis remaja dengan kriteria aktif secara seksual dan berusia antara 14 hingga 19 tahun. 

Dari hasil yang ada, dapat disimpulkan sekitar 12% gadis remaja mengalami pemaksaan reproduksi dalam waktu 3 bulan sebelum penelitian dan ditemukan sekitar 17% gadis remaja yang tidak hanya mengalami pemaksaan reproduksi tetapi juga kekerasan seksual. Dalam kasus-kasus yang dialami oleh remaja-remaja tersebut, pelaku pemaksaan reproduksi kebanyakan memiliki usia jauh di atas korban. 

Selain itu, 17% gadis remaja tersebut juga diperkirakan dapat mengalami hal lebih buruk lagi selain kekerasan seksual dan pemaksaan reproduksi. Banyaknya korban dari pemaksaan seksual juga semakin meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini pun semakin memperburuk kualitas kehidupan para gadis remaja saat ini.

Kasus Pemaksaan Reproduksi pada Gadis Remaja dari Sudut Pandang Masyarakat

Sayangnya, masyarakat seringkali menganggap normal pengalaman kasar yang dialami oleh para gadis remaja dan wanita dalam hubungan pacaran. Hal ini membuat remaja putri seringkali sulit menyadari bahwa apa yang mereka alami merupakan salah satu tindakan yang tidak sehat dan berbahaya. 

Ilustrasi: gadis remaja

Ilustrasi: gadis remaja

Dengan adanya kasus dan penelitian lebih lanjut mengenai pemaksaan reproduksi pada remaja putri, penting bagi orang tua untuk lebih memahami putri mereka. Sangat penting bagi gadis remaja untuk memahami pentingnya dunia kesehatan, terutama tentang kesehatan reproduksi. Juga, sangat penting untuk bisa menjaga diri sebagai bentuk pencegahan kasus tersebut. Jika kasus tersebut sudah terjadi, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh seorang gadis seperti kehamilan di luar pernikahan.

Kehamilan di luar nikah, apalagi di usia remaja, dapat berdampak buruk. Beberapa dampak buruk yang dapat terjadi pada remaja dengan usia kehamilan di bawah umur seperti anemia, keguguran, bayi lahir prematur, pendarahan, stress, bayi cacat bawaan, depresi, dan yang paling parah yaitu kematian pada ibunya. Tampaknya ini seringkali dianggap remeh oleh sebagian besar remaja.

Dengan menganggap kasus tersebut remeh, tak jarang banyak sekali remaja melakukan hubungan terlarang. Inilah yang akhirnya menjadi salah satu penyebab umum adanya kasus pemaksaan reproduksi pada wanita, khususnya pada gadis remaja. Pemaksaan reproduksi ini tentunya tidak bisa dianggap remeh begitu saja, apalagi sebagian besar kaum pria tidak mau menanggung akibatnya. 

Kebanyakan kasus yang terjadi adalah ketika seorang pria memaksa pasangannya untuk melakukan hubungan tanpa alat kontrasepsi. Tentunya ini sangat berbahaya, selain dapat menyebabkan kehamilan di luar nikah, ada beberapa macam penyakit yang perlu diwaspadai. Beberapa penyakit kelamin serius dapat ditularkan dengan cepat dengan penyembuhan yang lama dan menelan biaya mahal. 

Ada baiknya pendidikan seks sudah diajarkan sejak usia dini. Selain sebagai bentuk pencegahan dari kasus asusila, juga dapat menghindarkan seorang gadis dari penyakit menular seksual. Ini sangat penting, terlebih sudah banyak sekali kasus persebaran penyakit menular seksual saat ini. 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: