Apa Bedanya Jerawat Kulit Sensitif dengan Gejala Herpes Simpleks?

Ilustrasi: wajah ruam (sumber: drkors.de)Ilustrasi: wajah ruam (sumber: drkors.de)

Ruam dengan jerawat kecil-kecil atau biasa disebut dengan bruntusan sering dikaitkan dengan kondisi kulit yang sensitif. Padahal, tidak semua kulit yang bruntusan adalah sensitif dan bisa saja Anda sedang mengalami gejala herpes simpleks. Lalu, apa bedanya jerawat kulit sensitif dengan gejala herpes simpleks?

Tanda dan Gejala

Kulit merupakan organ terluar dari tubuh yang melapisi atau membungkus seluruh komponen tubuh manusia. Kulit membentuk sekitar 15% dari berat badan manusia. Pada permukaan kulit, terdapat pori-pori (rongga) yang menjadi keluarnya keringat. Kondisi setiap kulit manusia tidak sama dan ini disebabkan oleh kadar keringat, bentuk pori-pori, serta jumlah minyak dalam kulit.[1]

Kondisi kulit yang sering dialami oleh orang dengan pori-pori lebar dan kadar minyak berlebih adalah sensitif. Kondisi kulit seperti ini biasanya ditandai dengan sering muncul jerawat. Jerawat pada kulit sensitif terbilang unik dan biasanya muncul secara tiba-tiba, karena Anda tidak sadar sejak kapan jerawat tersebut ada.

Ruam gejala herpes simpleks (sumber: healthism.co)

Ruam gejala herpes simpleks (sumber: healthism.co)

Berbeda dengan jerawat karena kulit sensitif, jerawat herpes simpleks tidak muncul secara tiba-tiba. Jerawat ini hanya akan muncul ketika Anda secara tidak sengaja terserang virus herpes. Dilansir dari allure, jerawat herpes juga ditandai dengan sensasi terbakar dan rasa kesemutan sebelum jerawat tersebut muncul.

Baca juga:  Sering Dianggap Sama, Apa Saja Perbedaan Primer dan Pelembap?

Sensasi panas dan rasa kesemutan tersebut dikenal dengan fase prodromal, yaitu saat orang mengalami perubahan pada dirinya sendiri tetapi belum mendapatkan gejalanya secara jelas. Fase prodromal ini terjadi ketika virus HSV-1 mulai menyerang kulit. Biasanya ditandai dengan ruam dan benjolan seperti jerawat berair di area bibir. Jerawat ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu hingga dua minggu.

Penyebab dan Pemicu

Jerawat pada kulit sensitif dan pada pasien herpes sangatlah berbeda meskipun ada kemiripan pada bentuk fisiknya. Untuk mengetahui lebih lanjut, Anda bisa membedakan lewat penyebabnya. Pada kulit sensitif, jerawat bisa muncul kapan saja dengan penyebab infeksi bakteri, jamur, pori-pori tersumbat, minyak berlebih, sel kulit mati yang menumpuk, skincare yang tidak cocok, dan alkohol.

Selain itu, pada beberapa pasien berkulit sensitif, jerawat juga bisa muncul jika mereka stres, mengalami gangguan hormon, tidak cocok mengonsumsi pil KB, dan kesalahan dalam menggunakan alat make up. Karena itu pula, jerawat pada kulit sensitif biasanya akan muncul di bagian kulit yang bermasalah saja atau terkena imbas dari bahan kosmetik.

Baca juga:  Jangan Asal Pakai Krim! Ini Merk Pelembab yang Diklaim Aman untuk Ibu Hamil

Hal tersebut berbeda dengan jerawat herpes. Jerawat herpes, yang biasa disebut dengan luka dingin, hanya akan muncul ketika pasien terkena virus herpes dan tidak ada penyebab lainnya. Virus herpes simpleks-1 (virus herpes oral) termasuk jenis virus yang menular. Virus dapat ditularkan jika orang yang sehat berkontak fisik secara langsung maupun tidak langsung dengan pasien herpes. Sebagai contoh, virus dapat ditularkan melalui penggunaan cangkir dan peralatan makan yang sama, penggunaan kamar mandi yang sama, dan saat berhubungan seksual.

Ilustrasi: pengobatan herpes (sumber: medicalnewstoday.com)

Ilustrasi: pengobatan herpes (sumber: medicalnewstoday.com)

Pengobatan

Karena penyebab luka dingin atau jerawat herpes berbeda dengan jerawat pada kulit sensitif, Anda tidak bisa menggunakan obat yang sama. Jerawat pada kulit sensitif bisa diobati dan dihentikan dengan memakai skincare, produk berbahan dasar asam salisilat, serum retinoid, benzoil peroksida, tretinoin, adapalene, dan dalam kasus yang parah, bisa memakai accutane.

Baca juga:  Cara Membuat Shampo Kemiri untuk Kesehatan dan Kecantikan Rambut

Selain itu, jerawat pada kulit sensitif bisa dicegah dengan memakai skincare yang berbasis air, tidak terlalu sering terpapar sinar matahari, memakai sunscreen atau sunblock, dan menggunakan peralatan make up pribadi tanpa meminjam dari orang lain.

Sementara itu, cold sore atau jerawat karena herpes tidak bisa diobati dengan obat jerawat tersebut. Pasien bisa mengobati jerawat herpes menggunakan obat antivirus khusus seperti abreva. Selain itu, pasien bisa menggunakan obat antibiotik khusus yang diresepkan oleh dokter atau perawat kesehatan.

Perlu Anda ketahui, pengobatan jerawat herpes sifatnya tidak permanen seperti jerawat pada kulit sensitif. Seiring berjalannya waktu, jerawat herpes dapat muncul kembali pada pasien jika gejala herpesnya kambuh. Bisa dibilang, penyakit herpes adalah salah satu jenis penyakit permanen yang bisa timbul akibat sejumlah faktor tertentu.

[1] Santi, Indyah Hartami & Bina Andari. 2019. Sistem Pakar Untuk Mengidentifikasi Jenis Kulit Wajah dengan Metode Certainty Factor. INTENSIF: Jurnal Ilmiah Penelitian dan Penerapan Teknologi Sistem Informasi, Vol. 3(2): 159-177.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: