Jangan Mudah Tertipu, Banyak Brand Kosmetik Berikan Klaim Produk Palsu

Klaim, produk, target, pemasaran, riset, pelanggan, konsumen, strategi, produk, kosmetik, bohong, palsu, edit, foto, editor, photoshop, foundation, swatch, trik, model, makeup artist, penata rias, fotografer, kecantikan, brand, produsen, lokal, internasional, kebutuhan, laris, di, pasaran, perusahaan, faktor, Ilustrasi: tata rias artis

Agar pemasaran produk berjalan sesuai harapan, atau dapat menggaet banyak pelanggan, banyak perusahan kosmetik lokal maupun internasional yang mempromosikan produknya bisa bekerja untuk semua jenis kulit pelanggan – meskipun mereka harus memalsukannya atau terlebih dahulu mengedit dengan bantuan foto editor. Hal ini dilakukan agar produk mereka bisa laris di pasaran.

Klaim produk kecantikan memang menjadi salah satu faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam memilih produk kosmetik yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan berkembangnya era digital dan mudahnya dalam mengakses informasi, masyarakat juga semakin paham dan sadar dengan label klaim pada saat membeli produk.

Produk kosmetik dan klaimnya sebaiknya sesuai dengan regulasi produk kosmetika, mencantumkan klaim yang tepat dan sesuai, tidak membingungkan konsumen, melakukan penilaian mandiri terhadap klaim kosmetika yang dicantumkan dalam produk dan dapat dibuktikan kebenarannya, serta tentunya mengikuti Pedoman Klaim Kosmetika BPOM RI.

Namun nyatanya masih banyak brand kosmetik, yang terkenal sekalipun yang melakukan ‘penipuan’ klaim agar tetap dipilih oleh masyarakat. Kebanyakan dari mereka harus terlebih dahulu mengedit melalui photoshop agar swatch produk sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Christina Grant, salah seorang model tangan berwarna gelap, mengaku sudah sering melihat fotonya diedit secara digital. “Saya sudah sering melihat gambar tangan saya dibuat semakin terang atau semakin gelap, tidak sesuai dengan tone kulit asli saya,” tuturnya kepada Refinery29.

Grant sendiri telah bekerja sebagai foto model untuk 15 brand kecantikan yang berbeda. Ia mengaku jepretan pertama seringkali sangat berbeda dengan hasil akhir sebuah foto, tentu saja ini disesuaikan dengan kemauan dan klaim brand kosmetik tersebut. “Saya ingat saat itu saya sedang melakukan pemotretan untuk sebuah produk, kemudian seorang penata rias mengaplikasikan banyak make up di tangan saya, ini memang normal, namun ia membuat tangan saya tiga tingkat lebih gelap.”

Baca juga:  Manfaat Laneige Lip Sleeping Mask, Ampuh Untuk Atasi Bibir Kering

Fotografer kecantikan dan makeup artist, Hayley Kassel, juga mengaku tak asing dengan proses panjang brand kosmetik untuk mendapatkan klaim produk yang sempurna. Apalagi jika brand kecantikan tersebut tidak membuat produk yang sesuai dengan warna kulit model yang mereka rekrut. “Terkadang sebuah brand tidak memiliki tone kulit model yang sesuai dengan produk foundation. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengeditnya lewat Photoshop. Sejujurnya ini sangat membingungkan. Saya merasa brand kosmetik tersebut tidak berpikir konsumen akan memperhatikan, tapi saya perhatikan itu.”

Klaim, produk, target, pemasaran, riset, pelanggan, konsumen, strategi, produk, kosmetik, bohong, palsu, edit, foto, editor, photoshop, foundation, swatch, trik, model, makeup artist, penata rias, fotografer, kecantikan, brand, produsen, lokal, internasional, kebutuhan, laris, di, pasaran, perusahaan, faktor,

Salah satu varian produk kosmetik

Terlepas dari semua klaim yang diajukan oleh produsen kosmetik, pada akhirnya konsumen harus mengingat kalau tujuan utama sebuah perusahaan manufaktur adalah mendapatkan profit. Sementara cara terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menjual produk sebanyak-banyaknya kepada konsumen. Karena itulah, pemasaran menjadi faktor kunci dalam hidup dan matinya sebuah perusahaan kosmetik.

Nikki Stopford dari lembaga riset Which? Menyebutnya ‘pemasaran yang membingungkan’. Nah, selain melakukan pengeditan melalui foto editor, banyak trik yang biasa digunakan produsen kosmetik untuk ‘menyesatkan’ calon konsumen. Dilansir dari DailyMail, berikut sejumlah trik yang kerap digunakan oleh brand kosmetik untuk menarik minat pelanggan.

Memakai Istilah Ilmiah

Anda pasti sering membaca sejumlah istilah seperti hyaluronic gel matrix, clinical dark spot corrector, super-potent anti-oxidant, pada kemasan atau iklan sebuah produk kecantikan. Nah, ini termasuk salah satu cara produsen membuat konsumen yakin atas khasiat produk yang terlihat ‘di atas rata-rata’.

Baca juga:  Meski Termasuk Lini Produk Premium, Harga Wardah Instaperfect Tetap Terjangkau

Tekankan Kata ‘Alami’ atau ‘Organik’

Emma Kohring, konsultan perawatan kulit mengatakan, ada keyakinan yang melekat pada banyak konsumen jika sesuatu alami, maka itu baik bagi mereka. Meskipun hal itu tidak selalu benar, namun jelas ada peningkatan jumlah konsumen yang tertarik untuk membeli produk alami dan organik, dan pasar pun memainkannya. Tak hanya menekankan kata organik dan alami, bisa jadi produsen akan menyoroti kandungan alami produk atau menambahkan gambar bahan alami seperti herbal, madu, dan telur pada kemasan atau iklan.

Perkuat Kesan Medis dengan Kemasan Hijau

Jika Anda pernah menjumpai produk kecantikan yang dikemas dalam botol atau tube dengan warna hijau seperti pakaian dokter di rumah sakit, maka produsen memang sengaja menggunakan warna tersebut untuk memperkuat kesan klinis dan teruji yang identik dengan dunia medis.

Pakai Figur Terkenal dalam Kampanye Iklan

Klaim, produk, target, pemasaran, riset, pelanggan, konsumen, strategi, produk, kosmetik, bohong, palsu, edit, foto, editor, photoshop, foundation, swatch, trik, model, makeup artist, penata rias, fotografer, kecantikan, brand, produsen, lokal, internasional, kebutuhan, laris, di, pasaran, perusahaan, faktor,

Raline Shah & Dewi Sandra, dua brand ambassador dari Wardah (sumber: hot-detik.com)

Memakai nama selebritis untuk membentuk kesan eksklusif dan terpercaya dari sebuah produk memang sudah diterapkan para produsen kecantikan sejak lama. Semakin terkenal artis yang mengiklankan atau menjadi brand ambassador sebuah produk, maka semakin tinggi pula ekspektasi konsumen terhadap produk tersebut. Namun tetap saja, image yang ditampilkan oleh pengiklan tidak selalu sebanding dengan khasiat produk yang sebenarnya.

Baca juga:  Manfaat Minyak Kemiri Mustika Ratu Untuk Mengatasi Masalah Rambut

Kemasan dalam kotak khusus

Produk kecantikan yang sudah dikemas dalam tube dan botol kaca masih dikemas ulang dalam kotak khusus yang memberikan kesan eksklusif. Menurut Which?, produk yang disimpan dalam kotak akan menekankan khasiat di dalamnya, seperti halnya obat kemoterapi yang harus dihindarkan dari cahaya matahari. Dengan begitu, konsumen akan semakin percaya akan manfaat yang diklaim oleh produsen.

Klaim Kandungan Bahan-bahan Mewah

Jangan langsung tergoda dengan produk kecantikan yang diklaim mengandung emas, berlian, atau kaviar. Menurut Rachael Dunseath, kemungkinan besar itu cuma salah satu cara produsen untuk meningkatkan harga produk. Bisa jadi, bahan mewah yang digunakan sangat sedikit hingga tidak memberikan efek apapun pada pemakainya.

‘Terbukti Secara Klinis’

Tak mau kalah dengan produk obat-obatan, kini banyak produk kosmetik yang menyebutkan produk mereka telah melalui uji ilmiah dan terbukti efektif seperti yang mereka iklankan. Sayangnya, banyak iklan kosmetik tak akurat atau salah. Hanya 18 persen klaim dalam iklan dapat dipercaya menurut riset yang baru dirilis. Perusahaan-perusahaan kosmetik kerap menggunakan kata-kata ‘terbukti secara klinis’ atau ‘terinspirasi riset DNA inovatif’. Periset menyisir klaim-klaim itu dan menemukan mayoritas klaim tersebut tak jelas dan banyak di antaranya bohong. Penemuan itu baru saja dipublikasikan di jurnal Global Fashion Marketing.

Sejalan dengan peningkatan industri Beauty & Personal Care di Indonesia, serta inovasi produk kosmetik yang terus berkembang, klaim produk berkembang pesat terutama dari segi metode yang digunakan untuk pembuktian suatu klaim. Sementara itu Dermatology Testing juga diprediksi akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan industrinya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: