Anak Alami Gejala Insomnia? Jangan Anggap Remeh

Ilustrasi: insomnia anak (sumber: helpguide.org)

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang optimal bagi seorang anak.[1] Jika tidurnya terganggu, apalagi mengalami insomnia atau kurang tidur, maka tumbuh kembangnya juga akan terganggu. Untuk itu, jangan anggap remeh jika si kecil mengalami insomnia dan Anda harus segera mengatasinya.

Dilansir dari HuffPost, insomnia tidak hanya dialami orang dewasa, bahkan lebih sering dialami anak-anak. Umumnya, gejala insomnia pada si kecil tidak disadari orang tua mereka, karena para orang tua menganggapnya sebagai akibat dari lamanya waktu tidur siang anak. Padahal, begadang bagi anak-anak cukup membahayakan dan inilah yang harus diwaspadai.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan bahwa 43% anak-anak dengan gejala insomnia akan mengalami gangguan tidur lebih parah di usia 20-an hingga 30-an. Sementara itu, diperkirakan sekitar seperempat anak di dunia menderita insomnia. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai terkait kurang tidur pada anak seperti berikut.

Dampak Insomnia pada Anak

Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan waktu tidur yang cukup lama daripada orang dewasa. Menurut American Academy of Pediatrics, anak-anak membutuhkan waktu tidur hingga 16 jam sehari ketika mereka masih bayi. Ketika sudah memasuki usia balita hingga sekolah SD, si kecil membutuhkan waktu tidur selama 12 jam hingga 13 jam sehari. Semakin berkurang hingga 10 jam sehari ketika sudah tumbuh menjadi remaja.

Baca juga:  Logam Berat pada Makanan Bayi, Bagaimana Mengatasinya?

Mirisnya, banyak anak yang mengalami gangguan tidur dan tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Dalam sebuah survei yang diadakan di Amerika, setidaknya separuh anak di AS yang berusia 6-17 tahun hanya tidur selama sembilan jam per malam. Bisa dibilang, tingkat penderita insomnia di kalangan anak Amerika sangat parah.

Dampak kurang tidur pada anak sangat beragam, tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan daya fokus, daya berpikir, dan kemunduran perilaku. Selain itu, anak-anak akan mudah terkena penyakit menular, seperti flu dan demam akibat daya imun yang terus menurun jika mereka masih belum bisa lepas dari insomnia. Anak-anak dengan insomnia juga diketahui mengalami hambatan tumbuh kembang.

Ilustrasi: anak insomnia (sumber: parents.com)

Ilustrasi: anak insomnia (sumber: parents.com)

Ada banyak penyebab insomnia pada anak yang perlu Anda waspadai, termasuk kondisi medis, sleep apnea, dan genetika. Selain itu, kebiasaan seperti terlalu asyik nonton TV hingga larut, makan malam tidak teratur, terlalu banyak makan gula, dan terlalu asyik bermain adalah penyebab umum anak mengalami susah tidur. Lalu, bagaimana mengatasinya?

Baca juga:  Kedekatan dengan Tetangga Memengaruhi Kesehatan Jantung Anda

Cara Mengatasi Insomnia Anak

Gejala susah tidur pada anak adalah tantangan tersendiri bagi orang tua. Anak-anak yang lebih kecil biasanya akan rewel saat memasuki jam tidurnya, ada yang menangis karena masih ingin bermain, tidak bisa tidur jika tidak makan camilan kesukaannya, hingga ingin ditemani tidur oleh kakek neneknya yang ada di luar kota. Pakar tidur anak mengatakan, bentuk penolakan tidur seperti ini adalah hal yang biasa untuk balita, tetapi tidak jika anak-anak sudah duduk di bangku sekolah.

“Kurang tidur pada anak yang sudah sekolah berdampak pada kesejahteraan anak dan keluarga,” kata Dr. Krupa Playforth, dokter spesialis anak. “Jika itu bertambah parah, sudah waktunya Anda memeriksakan anak ke dokter spesialis anak atau psikiater anak.”

Playforth menambahkan, sebaiknya Anda segera mengambil tindakan jika insomnia berlangsung lebih dari dua minggu dan anak terlihat mudah lelah di siang hari. Anak-anak dengan insomnia parah biasanya memiliki ciri mendengkur, mengalami gangguan pernapasan yang mengganggu di malam hari, dan perubahan suasana hati terlalu cepat.

Baca juga:  Perkembangan dan Kebutuhan Susu Bayi Usia 3 Bulan

“Seringkali, orang tua merasa tidak perlu mencari bantuan dengan masalah seputar tidur atau perilaku anak, karena mereka merasa harus bisa menangani hal-hal ini sendiri, atau takut dihakimi karena pola kebiasaan tidur yang buruk telah dibudidayakan sejak dini,” kata Playforth. “Namun, dokter anak menyadari pentingnya tidur yang sehat dan nyenyak tidak hanya untuk kesehatan anak, tetapi juga untuk kesehatan keluarga.”

Biasanya, dokter dan psikiater anak akan membantu Anda untuk mengetahui penyebab insomnia yang dialami si kecil. Jika itu seputar kebiasaan, Anda harus bisa mengubah kebiasaan putra-putri Anda di rumah. Sementara itu, jika itu karena medis, maka dokter akan membantunya dengan tindakan medis dan terapi obat.

[1] Sekartini, Rini & Nuri Purwito Ad. 2006. Gangguan Tidur pada Anak Usia Bawah Tiga Tahun di Lima Kota di Indonesia. Sari Pediatri, Vol. 7(4): 188-193.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: