Hukum Adat Pernikahan Sepupu Berisiko Kelainan Genetik, Ini Alasannya

Pernikahan adat Pakistan (sumber: herculture.org)Pernikahan adat Pakistan (sumber: herculture.org)

Kondisi sosial, ekonomi, dan hukum adat masih menjadi faktor keberadaan perkawinan sedarah. Umumnya, pernikahan semacam ini dilakukan antar saudara sepupu dan salah satu negara yang masih melakukan perkawinan sedarah adalah Pakistan. Meskipun para ilmuwan mengatakan bahwa pernikahan antar sepupu sangat berisiko terhadap kelainan genetik, masih saja banyak komunitas di Pakistan yang menjunjung tinggi perkawinan antar sepupu.

Kenapa Hukum Adat Pernikahan Sepupu Masih Eksis?

Perkawinan merupakan salah satu fakta dasar dalam kehidupan. Saat ini, masyarakat memiliki beragam pilihan dalam menentukan perkawinan seperti apa yang mereka inginkan. Hal ini juga tidak lepas dari teknologi yang semakin canggih. Bahkan, orang bebas menggelar acara pernikahannya terlepas dari pergeseran adat dan agama. Hingga saat ini, sudah banyak orang yang melakukan pernikahan tanpa memperhatikan nilai adat, bahkan ada yang menikah beda agama.

Namun, tampaknya masih ada beberapa komunitas yang menjunjung tinggi hukum adat dalam sebuah pernikahan dan salah satu hukum adat pernikahan yang unik adalah di negara Pakistan. Di Pakistan, masih banyak yang menjalankan aturan perkawinan adat sepupu. Fenomena perkawinan kerabat adalah perkawinan yang banyak diminati di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, perkawinan sepupu dilakukan orang Batak untuk menjaga keutuhan harta keturunan mereka supaya tidak jatuh ke keluarga lain.[1]

Baca juga:  Penyebab Rambut Rontok Tidak Biasa pada Wanita dan Cara Mengatasinya

Sementara itu, alasan banyak orang Pakistan masih menjalankan hukum pernikahan adat sepupu adalah doktrin agama Islam. Dilansir dari Deutsche Welle, pakar kesehatan Eraj ud Daulah di Karachi mengatakan bahwa praktik pernikahan sepupu di Pakistan dapat ditelusuri melalui doktrin agama Islam.

“Saya meminta para ulama untuk membantu menciptakan kesadaran tentang penyakit genetik yang bisa terjadi kepada masyarakat yang melakukan pernikahan sepupu,” kata Daulah. “Para ulama perlu menjelaskan kepada orang-orang bagaimana pernikahan sepupu berkontribusi pada peningkatan penyakit genetik.”

Namun, Daulah mengatakan bahwa ulama yang diajak bicara dengan tegas menolak dan mengklaim bahwa pernikahan seperti itu sesuai dengan hukum syariat Islam dan tradisi Nabi Muhammad. Inilah kenapa hingga saat ini Pakistan masih menjunjung tinggi hukum adat pernikahan sepupu.

Pernikahan adat Pakistan (sumber: herculture.org)

Pernikahan adat Pakistan (sumber: herculture.org)

Bahaya Hukum Adat Pernikahan Sepupu

Padahal, sudah banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa perkawinan sedarah seperti ini menyebabkan tingkat mutasi genetik yang tinggi. Jika terus berlanjut, dikhawatirkan bisa menyebabkan cacat pada anak dari perkawinan sepupu. Tak hanya itu, dilansir dari detikhealth, perkawinan sepupu bisa menyebabkan kemandulan pada generasi berikutnya dan kematian bayi.

Baca juga:  Cara Mengurangi Bahaya Polusi Udara untuk Kesehatan

Salah satu kasus yang mengkhawatirkan ini dialami oleh Ghafoor Hussain Shah, seorang guru berusia 56 tahun dan ayah dari delapan anak di Kashmir, Pakistan. Menurut adat suku di Pakistan, Shah mengatakan dia diharapkan untuk mengatur pernikahan anak-anak dalam keluarga besarnya.

Namun, Shah tahu tentang potensi risiko penyakit genetik yang lazim pada anak-anak dari pernikahan antar keluarga. Dia menikah dengan sepupu dari pihak ibu pada tahun 1987, dan tiga anak mereka menderita kelainan. Shah menceritakan bahwa otak salah satu putranya tidak bisa berkembang layaknya anak normal. Selain itu, salah satu putrinya memiliki gangguan bicara dan yang lain memiliki masalah pendengaran.

“Penyesalan terbesar saya adalah mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan dengan baik,” kata Shah. “Saya selalu khawatir tentang mereka dan siapa yang akan menjaga mereka setelah saya dan istri saya pergi?”

Terlepas dari risiko kelainan genetik, Shah mengatakan ada tekanan sosial yang sangat besar untuk mematuhi hukum adat pernikahan sepupu. Siapapun yang menolak hukum adat tersebut akan dikucilkan dalam keluarga dan masyarakat. Hal ini membuat Shah harus menikahkan satu putra dan dua putrinya dengan kerabat dekat. Di sisi lain, riwayat medis terkait ketidakmampuan belajar, kebutaan, dan tuli merupakan risiko terkait perkawinan sedarah.

Baca juga:  Selain Diminum, Bisakah Kapsul Natur E Digunakan Untuk Masker?

Menurut laporan tahun 2017 tentang mutasi genetik, jumlah kelainan genetik di Pakistan sangat tinggi. Laporan tersebut memperkenalkan platform mutasi genetik Pakistan yang mengidentifikasi dan melacak berbagai jenis mutasi dan kelainan yang ditimbulkan dari perkawinan sepupu. Menurut database, lebih dari 1.000 mutasi genetik telah dilaporkan dan ada 130 jenis kelainan genetik yang ditemukan di Pakistan.

Huma Arshad Cheema, seorang dokter anak spesialis kelainan genetik, mengatakan bahwa Pakistan memiliki beban besar kelainan genetik karena hukum adat perkawinan sedarah. Salah satu kelainan genetik yang paling umum terlihat sekarang di Pakistan adalah kelainan darah bawaan, thalassemia, yang membuat sel darah merah tidak menyerap oksigen.

[1] Yusdiawati, Yayuk. 2017. Penyakit Bawaan: Kajian Resiko Kesehatan pada Perkawinan Sepupu. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Vol. 19(2): 89-99.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: