Studi: Suasana Hati Pengaruhi Pola dan Jumlah Asupan Makanan Anda

Ilustrasi: menyantap makanan

Suasana hati seseorang tampaknya memengaruhi banyak sedikitnya makanan yang dikonsumsi. Tidak hanya terkait dengan sedih dan senang saja, beberapa hal seperti depresi dan stress juga memengaruhi banyaknya makanan yang akan Anda konsumsi. Kebanyakan wanita bahkan mengalami ketidakstabilan suasana hati ketika menghadapi masa menstruasi. Ini juga salah satu penyebab mengapa mereka tidak makan dengan normal saat menstruasi.

Secara tidak sadar, seseorang dapat mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih besar saat stress atau depresi. Sementara, sebagian lagi akan mengalami penurunan nafsu makan drastis saat stress atau depresi, sehingga membuat mereka mengonsumsi makananan dalam jumlah lebih sedikit dari biasanya. Dalam hal ini, ada banyak sekali penelitian yang meneliti tentang keterkaitan antara suasana hati dan makanan yang mereka konsumsi.

Hubungan Suasana Hati dan Pola Makanan

Para peneliti telah menemukan cara untuk mengetahui hubungan antara perasaan dengan makanan. Ini tampaknya menjadi sebuah studi menarik, dengan periset meneliti orang-orang yang makan di saat jam makan siang berlangsung. Dalam hal ini, mereka menggunakan sebuah alat khusus berteknologi canggih untuk mengukur tingkat stress, mood, dan banyaknya jumlah asupan peserta. 

Sayangnya, banyak dari peserta penelitian berbohong atau lupa dengan makanan yang telah mereka makan ketika dipertanyakan. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya juga bingung dengan apa yang mereka makan sehari-hari. Ini membuat dokter dan para ilmuwan bingung untuk membimbing mereka pada diet dan kebiasaan makan yang baik dengan tingkat stress atau depresi mereka. 

Untuk itu, peneliti melakukan pendekatan secara inovatif terlebih dahulu kepada peserta penelitian agar mereka dapat dengan mudah mengungkapkan pola makan mereka secara normal. Setelah itu, mereka baru melakukan analisis menggunakan perangkat dengan fungsi untuk mengukur suasana hati dan perilaku makan para peserta. 

Ilustrasi: nafsu makan tergantung suasana hati (medibank.com)

Ilustrasi: nafsu makan tergantung suasana hati (medibank.com)

“Mengingat kembali makanan yang dimakan oleh peserta selama 3 kali berturut-turut, merupakan salah satu hal terpenting untuk mengukur asupan makanan mereka,” kata Spruijt-Metz, seorang profesor riset psikologi di USC Dornsife College of Letters, Seni dan Sains. “Walaupun begitu, kita juga belum bisa mengukur secara akurat diet atau asupan seseorang.”

Untuk lebih spesifik, Spruijt-Metz, juga melakukan penelitian terhadap kebiasaan makan dalam keluarga melalui perangkat kesehatan seluler. Pendekatan untuk memantau suasana hati dan makanan dengan peserta keluarga seperti ini disebut juga dengan M2FED. Dengan ini, memungkinkan analis dapat mendeteksi perilaku makan serta respon secara emosional yang diungkapkan oleh para peserta penelitian. 

Dalam melakukan proses menggunakan perangkat, para peneliti memiliki tujuan untuk mengembangkan intervensi waktu nyata yang dapat menghentikan perilaku tidak sehat. Perilaku yang dimaksud yaitu mengonsumsi makanan melebihi batas normal diet setiap harinya. Hal ini juga bertujuan untuk membuat peserta lebih sehat dan mengerti pentingnya diet agar tidak mengalami obesitas. Dari hasil penelitian, banyaknya orang yang mengonsumsi lebih banyak asupan di luar batas normal adalah anak-anak. Sementara, pada orang dewasa, ditemukan sekitar 17% orang mengonsumsi makanan secara lebih.

“Sebagai seorang behavioris, saya mulai berpikir bahwa beberapa perilaku dapat memengaruhi jumlah makanan, seperti sikap saat makan, apakah Anda marah atau tidak, dan apakah Anda depresi atau tidak,” sambung Spruijt- Metz. “Kita sekarang telah dapat mengukur asupan makanan dengan sensor.”

Dalam penelitiannya, Spruijt-Metz mengembangkan algoritma untuk sistem fisik-cyber. Ini dapat mendeteksi secara langsung berdasarkan data audio yang dikumpulkan oleh sebuah mikrofon yang terpasang. Selain itu, sistem ini juga mendeteksi perilaku makan seseorang berdasarkan pada sinyal yang ada pada jam tangan pintar. Untuk perangkat yang digunakan, telah diprogram untuk meningkatkan akurasi melalui mesin. Sehingga, dapat memungkinkan para peneliti untuk meningkatkan tingkat akurasi pemantauan mereka dengan setiap penggunanya.

Ilustrasi: nafsu makan tergantung suasana hati

Ilustrasi: nafsu makan tergantung suasana hati

“Dengan adanya jam tangan pintar ini, anggota keluarga yang menjadi peserta penelitian menggunakan jam tangan pintar di pergelangan tangan mereka,” timpal Brooke Bell, seorang kandidat doktor dalam penelitian perilaku kesehatan di Keck School of Medicine USC yang terlibat dalam proyek tersebut. “Sensor perangkat akan mengambil gerakan di pergelangan tangan untuk mendeteksi perilaku makan seseorang, termasuk waktu, durasi, dan kecepatan makan.”

Jessica Rayo, mahasiswa Universitas Negeri California, Long Beach yang membantu proyek tersebut, menambahkan bahwa salah satu komponen utama dari sistem ini, yaitu berupa deteksi percakapan, stres, dan suasana hati. Sistem ini mendeteksi kejadian pada saat pengguna makan dan laju makannya, serta suasana hati dan interaksi antar pribadi di lingkungan rumah.

“Sistem ini telah mencakup sensor penangkap sinyal akustik yang dapat menganalisis data audio untuk suasana hati dan stres,” jelas Rayo. “Selain itu, kami memasukkan kode Noldus Observer XT. Ini merupakan salah satu jenis perangkat lunak untuk melacak suasana hati saat makan.”. 

Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa orang dengan tingkat stress tinggi atau depresi di lingkungan keluarga akan mengalami gangguan asupan atau ketidakstabilan jumlah asupan setiap harinya. Kebanyakan dari mereka akan menambah jumlah asupan hingga lepas kontrol, dan ini merupakan salah satu penyebab naiknya berat badan saat stress atau depresi. Hanya sekitar 10% orang mengalami penurunan berat badan saat memiliki kondisi suasana hati tidak baik.  

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: