Hati-hati, 4 Kandungan Pada Makanan Ini Diklaim Berbahaya Untuk Tubuh

Kandungan, bahan, pada, makanan, berbahaya, untuk, kesehatan, tubuh, tekanan, darah, jantung, kanker, gula, garam, nitrat, sukrosa, fruktosa, label, nutrisi, harian, lemak, trans, diet, obesitas, konsumsi, kolesterol, hipertensi, glukosa, nama, lain, jumlah, kaleng, frozen, risiko, olahan,Ilustrasi: tubuh sehat dari gaya hidup dan pola makan sehat (twitter: @rakibk634)

Masyarakat tentu sudah tahu bahwa gula atau garam tercantum pertama pada label nutrisi. Namun gula dan garam dikenal dengan banyak nama lain, dan itu bukanlah satu-satunya hal yang harus dihindari ketika Anda tengah menjaga tekanan darah Anda. Anda harus mencari tahu bahan-bahan ‘tersembunyi’ yang juga tak kalah penting untuk dihindari.

Ada beberapa bahan atau kandungan pada makanan yang ‘tersembunyi’ yang diklaim tidak baik untuk kesehatan. Berikut ulasannya:

Gula

Gula, secara umum, akan menambah kalori dengan sedikit atau tanpa nilai gizi. Tapi benda putih ini juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti agave, sukrosa, sirup jagung fruktosa tinggi, madu, molase, gula merah, turbinado, gula mentah, sirup maple, gula kurma, sirup malt, sirup pancake, konsentrat jus buah dan dekstrosa.

Asupan gula berlebih dalam tubuh ternyata tak hanya berdampak pada kenaikan berat badan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Research menunjukkan, terlalu banyak mengonsumsi gula yang berasal dari sukrosa bisa meningkatkan risiko perkembangan tumor, kanker payudara, dan penyebarannya.

Ilustrasi: konsumsi gula berlebihan (sumber: cnbc.com)

American Chemical Society menjelaskan, gula meja, secara teknis dikenal sebagai sukrosa, dibentuk dari kombinasi antara fruktosa dan glukosa. Berbeda dengan gula alami yang berasal dari buah-buahan, kebanyakan gula meja mengandung tinggi fruktosa sirup jagung yang ditambahkan untuk meningkatkan rasa, penampilan, maupun tekstur. Fruktosa sendiri berbeda dari glukosa.

Bila glukosa dapat dipecah oleh hampir semua sel dalam tubuh untuk diubah menjadi energi, menurut Harvard Medical School fruktosa hanya bisa dipecah oleh sel-sel hati. “Kami menemukan bahwa asupan sukrosa pada tikus menyebabkan pertumbuhan tumor, bila dibandingkan dengan pati non-gula,” kata salah satu penulis studi, Lorenzo Cohen, seorang profesor di University of Texas MD Anderson Cancer Center. Banyak pasien yang mengatakan tidak peduli dengan apa yang mereka makan hingga akhirnya mereka didiagnosis terkena kanker. Sehingga penelitian ini sangatlah penting.

Dalam studi tersebut, tumor dan kanker tumbuh lebih besar dan lebih cepat pada tikus yang menerima fruktosa lebih banyak. Cohen menjelaskan, tampaknya fruktosa lah yang mendorong proses tumorigenic lebih besar ketimbang glukosa. Untuk menghindari efek negatif dari gula, The American Heart Association merekomendasikan konsumsi gula tambahan seperti gula meja dibatasi tidak lebih dari sekitar 30 gram atau sekitar 6 sendok teh per hari untuk wanita, dan 45 gram atau sekitar 9 sendok teh untuk pria.

Nitrat

Jika Anda membeli makanan, di balik kemasan umumnya disertakan bahan-bahan yang ada di dalam makanan tersebut. Sebagian besar berisi istilah-istilah kimia yang bahkan Anda tak tahu apa artinya. Di antara bahan-bahan kimia yang terkandung dalam sebuah makanan, ada yang bermanfaat bagi tubuh, ada pula yang tidak. Zat kimia adiktif misalnya, merupakan jenis zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan karena disebutkan dapat menyebabkan ADHD serta risiko kanker.

Ilustrasi: makanan dari daging biasanya mengandung nitrat sebagai pengawet (sumber: livescience.com)

Natrium nitrat paling sering digunakan sebagai pengawet untuk daging yang diproses dengan asin seperti bacon dan deli. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak bahan-bahan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.

Umumnya dalam makanan kaleng selalu ada kandungan ini. Penelitian yang dilakukan universitas Harvard 2010 silam mengatakan bahwa peningkatan jumlah nitrat dalam makanan kemasan/kalengan ini dapat berbahaya bagi jantung dan diabetes tipe 2.

Garam

Mungkin banyak masyarakat yang sudah mengurangi konsumsi garam dalam menu makanan harian. Tapi garam masuk di makanan di mana Anda mungkin tidak mengharapkannya, di bawah nama seperti natrium fosfat, monosodium glutamat (MSG), dan trinatrium fosfat.

Garam juga ternyata dapat menjadi penyebab tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi adalah salah satu pemicu penyakit jantung dan dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh.

Kandungan, bahan, pada, makanan, berbahaya, untuk, kesehatan, tubuh, tekanan, darah, jantung, kanker, gula, garam, nitrat, sukrosa, fruktosa, label, nutrisi, harian, lemak, trans, diet, obesitas, konsumsi, kolesterol, hipertensi, glukosa, nama, lain, jumlah, kaleng, frozen, risiko, olahan,

Petani garam memanen hasil sawah garamnya (sumber: visitgozo.com)

Garam sebenarnya sangat penting untuk tubuh. Organ ginjal lah yang mengontrol tingkat garam di dalam tubuh, dengan cara dikeluarkan lewat urine. Namun, ketika tingkat asupan garam sangat tinggi, garam akan menarik banyak cairan ke dalam darah. Tekanan darah dan volumenya bisa makin meningkat karena berlebihnya cairan ini.

Anda membutuhkan sekitar 2.000 miligram garam sehari, kira-kira satu sendok teh, bagi tubuh Anda untuk berfungsi. Namun, kebanyakan orang mengonsumsi sekitar 10 kali dari jumlah tersebut setiap hari. Sedangkan jumlah garam yang disarankan untuk orang dengan tekanan darah tinggi adalah sekitar 1.500 miligram per hari.

Garam dapat tersembunyi dalam banyak makanan olahan. Cobalah untuk makan sebagian besar buah-buahan dan daging segar. Hindari bumbu-bumbu siap saji, asinan, acar, ham, bacon, salsa, keju, makanan olahan dingin, kaldu, makanan kaleng, dan makanan apapun yang diproses. Daftar ini sebenarnya lebih panjang lagi Anda perlu memeriksa kandungan sodium pada label makanan dan berpikir dua kali untuk makan makanan dengan lebih dari 100 mg garam per porsi. Beberapa makanan ini baik-baik saja jika dimakan setiap hari, tapi jangan terlalu banyak.

Hampir 80% dari asupan garam harian rata-rata orang berasal dari makanan olahan. Jika kita hanya makan makanan alami dan membatasi penggunaan garam meja, kita akan mampu untuk menghilangkan kelebihan garam dalam diet kita.

Lemak Trans

Kandungan, bahan, pada, makanan, berbahaya, untuk, kesehatan, tubuh, tekanan, darah, jantung, kanker, gula, garam, nitrat, sukrosa, fruktosa, label, nutrisi, harian, lemak, trans, diet, obesitas, konsumsi, kolesterol, hipertensi, glukosa, nama, lain, jumlah, kaleng, frozen, risiko, olahan,

Ilustrasi: aneka makanan cepat saji yang berlemak (sumber: listovative.com)

Baru-baru ini Badan Pengawasan Makanan dan Obat Amerika Serikat (US-FDA) dan British Nutrition Foundation (BNF) mempersoalkan kembali soal lemak trans. Berbagai hasil studi menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi lemak trans dengan peningkatan kolesterol darah. Lemak trans diduga menjadi penyebab utama obesitas dan jantung koroner, yang kini banyak diderita oleh golongan usia muda, antara 30-40 tahun. Karena efek negatif yang merugikan bagi kesehatan itulah US-FDA mengharuskan produsen makanan di sana mencantumkan label lemak trans dalam produk pangannya.

Lemak trans merupakan minyak yang diolah melalui proses hidrogenasi parsial (yakni dengan menambahkan hidrogen ke dalamnya). Pengolahan ini dilakukan untuk meningkatkan stabilitas oksidatif agar tak mudah mengalami proses oksidasi. Sebetulnya proses hidrogenasi parsial dilakukan industri pangan untuk membuat margarine. Secara natural, lemak trans juga terbentuk dalam rumen/lambung ternak besar seperti sapi. Jadi, produk-produk seperti mentega atau susu mengandung lemak trans dalam jumlah 2-5%.

Bentuk trans fat dari pabrik, yang dikenal sebagai minyak hidrogenasi parsial, ditemukan di berbagai produk makanan seperti makanan yang dipanggang, camilan (keripik kentang, jagung, dan tortilla), makanan gorengan, adonan yang didinginkan (biskuit kalengan, cinnamon rolls, roti pizza beku), serta krimer dan margarin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: