Studi: Hamil di Usia Tua Ternyata Pengaruhi Perilaku Anak

Ilustrasi: ibu hamil di usia tua Ilustrasi: ibu hamil di usia tua

Banyak orang menunggu sampai mereka lebih tua untuk memiliki anak, dan keputusan itu dapat meningkatkan risiko masalah seperti infertilitas dan kelainan genetik. Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan mungkin ada setidaknya satu manfaat ketika wanita memutuskan hamil pada saat usia semakin tua. 

Studi ini menemukan bahwa anak-anak dengan setidaknya satu orang tua yang lebih tua, cenderung menjadi pelanggar aturan atau agresif secara fisik. “Calon orang tua yang lebih tua dapat diyakinkan bahwa usia mereka belum tentu merupakan faktor negatif sehubungan dengan masalah perilaku pada anak mereka,” kata penulis studi, Marielle Zondervan-Zwijnenburg, seorang peneliti pasca-doktoral di Universitas Utrecht di Belanda.

Tetapi, temuan ini tidak berarti bahwa orang tua yang lebih muda pasti memiliki anak yang berperilaku buruk. Zondervan-Zwijnenburg mengatakan bahwa sekitar 3% perbedaan dalam perilaku ‘eksternalisasi’ anak-anak berhubungan dengan usia orang tua. Perilaku eksternal adalah hal-hal seperti agresi fisik, perusakan properti, dan tidak taat pada aturan. 

“Kami percaya bahwa orang tua yang lebih tua lebih sering dapat menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi anak-anak mereka,” sambung kata Zondervan-Zwijnenburg. “Orang tua yang lebih tua mungkin lebih sensitif terhadap kebutuhan anak dan menyediakan lebih banyak struktur.”

Dia menambahkan bahwa orang tua yang lebih tua juga kemungkinan memiliki sumber keuangan yang lebih baik dan mungkin memiliki pendidikan yang lebih tinggi. Namun, para peneliti juga membandingkan efek dari faktor sosial ekonomi antara orang tua yang lebih muda dan yang lebih tua. Mereka mengatakan faktor-faktor ini tidak menjelaskan perbedaan perilaku anak-anak.

Eric Herman, seorang psikolog klinis di Children’s Hospital of Michigan di Detroit, sependapat dengan penelitian ini. Dia setuju bahwa orang tua yang lebih muda mungkin mewariskan sifat yang lebih impulsif, yang dapat menyebabkan risiko masalah perilaku yang lebih tinggi.

Ilustrasi: ibu dan anak

Ilustrasi: ibu dan anak

Penelitian ini sendiri melibatkan hampir 33.000 anak-anak di Belanda antara usia 10 hingga 12 tahun. Anak-anak adalah bagian dari empat studi masa lalu yang berbeda. Sementara, usia orang tua berkisar 16 hingga 68 tahun. Perilaku bermasalah dilaporkan oleh orang tua, guru, dan bahkan anak-anak itu sendiri. Para peneliti melihat efek positif jika ibu atau ayah lebih tua. Mereka tidak melihat efek gabungan jika kedua orang tua lebih tua. Studi ini menemukan efek positif sedikit lebih jelas jika ibu lebih tua.

Eric Herman mengatakan, temuan ini masuk akal karena perilaku yang diinternalisasi seringkali berbasis genetis, dan dapat terjadi pada pola didikan anak. Namun, Herman mengatakan bahwa dia ragu orang tua akan membuat keputusan tentang waktu mendapatkan anak-anak berdasarkan penelitian ini. Tetapi, dia menyarankan bahwa itu menawarkan sedikit informasi positif untuk menimbang terhadap risiko potensial yang terlibat ketika memiliki anak di usia tua. 

“Peningkatan usia ayah telah dikaitkan dengan autisme dan skizofrenia. Ada risiko lebih tinggi kelainan kromosom dan masalah medis lainnya ketika orang memutuskan untuk menunggu usia lebih tua,” jelasnya. “Namun, apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah bahwa orang tua benar-benar dapat membuat perbedaan dalam beberapa perilaku.”

Pada dasarnya, tidak ada patokan khusus usia terbaik untuk mendapatkan kehamilan. Namun, umumnya kesuburan seorang wanita akan menurun seiring pertambahan usia. Di samping itu, kehamilan di usia tua juga berisiko menyebabkan komplikasi pada ibu hamil. Itulah sebabnya hamil di usia muda lebih disarankan.

Usia Terbaik untuk Hamil

Ilustrasi: usia kehamilan

Ilustrasi: usia kehamilan

  • Banyak orang menyarankan hamil di usia produktif. Usia produktif yang dimaksud di sini yaitu usia 20 tahunan. Dari segi biologis, usia ini adalah waktu yang tepat untuk hamil karena tingkat kesuburan Anda sangat tinggi dan sel telur yang diproduksi pun sangat melimpah. Risiko memiliki bayi lahir cacat juga lebih sedikit karena kualitas sel telur yang diproduksi pada usia ini umumnya masih sangat baik.
  • Sementara, saat memasuki usia 30 tahun, Anda harus segera merencanakan kehamilan karena kesuburan Anda sudah mulai menurun. Penurunan drastis terjadi setelah Anda menginjak usia 35 tahun. Karena itu, jangan menunda untuk memiliki momongan, terutama jika Anda berencana memiliki lebih dari satu anak.
  • Dekade berikutnya, kemampuan Anda untuk hamil secara alami menurun tajam pada usia 40-an. Kesempatan yang Anda miliki tiap bulannya untuk hamil hanya sekitar 5%. Hal ini ini terjadi karena pasokan sel telur di dalam tubuhnya berkurang secara signifikan. Kualitas yang dimiliki sel telur juga tidak sebaik ketika Anda masih muda. Sel telur pada usia ini lebih cenderung memiliki masalah kromosom. Selain itu, risiko keguguran, memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah, prematur, atau lahir cacat juga lebih tinggi. Anda juga lebih berisiko mengalami komplikasi saat hamil seperti tekanan darah tinggi, diabetes atau masalah pada plasenta.

Kesiapan memiliki anak pada tiap wanita berbeda. Namun, dari sisi biologis, wanita dengan usia 20-an merupakan usia dengan tingkat kesuburan tinggi. Demikian juga, risiko memiliki bayi lahir cacat juga lebih rendah pada wanita yang hamil usia 20-an. Anda disarankan untuk berkonsultasi ke dokter kandungan jika akan merencanakan kehamilan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: