Kemunduran Perilaku, Ini Gejala Regresi pada Anak

Anak regresiAnak regresi

Pada suatu titik, tidak sedikit anak yang mengalami kemunduran perilaku. Sebagai contoh, ada anak yang berusia 6 tahun dan kembali bertingkah seperti balita yang membutuhkan dot untuk minum susu. Ini adalah salah satu tanda atau gejala regresi. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Penyebab Regresi pada Anak

Dilansir dari HuffPost, regresi merupakan sebuah tanda ketika anak-anak sedang berjuang melawan stres. Anak-anak akan mengalami fase kemunduran perilaku, yang artinya mereka akan kembali ke kebiasaan lama atau mengalami kehilangan keterampilan yang pernah mereka miliki.

Dalam masa regresi, anak-anak akan cenderung memiliki sifat seperti balita yang manja dan sangat bergantung pada orang tuanya.[1] Selain itu, mereka juga menjadi individu yang menuntut banyak hal pada Anda. Sebenarnya, regresi ini bisa terjadi kapan saja dan hilang kapan saja, tergantung kondisi psikologis mereka.

Secara umum, regresi bisa muncul dalam diri anak jika mereka mengalami stres tertentu. Banyak anak yang dikekang dan tidak boleh keluar rumah dengan alasan kesehatan dan bahaya lingkungan. Padahal, mengurung anak terlalu lama di dalam rumah, dapat membuat mereka merasa kebingungan saat harus berada di luar rumah.

Baca juga:  Hubungan Nyata Antara Menyusui Dengan Pencegahan Obesitas

Saat berada di dalam rumah, mereka hanya memiliki kegiatan seadanya dan bersosialisasi dengan orang di rumah. Sementara itu, saat ada di luar rumah, mau tak mau, mereka harus mampu bersosialisasi dengan banyak orang dan melakukan hal-hal yang tidak akan mereka lakukan di dalam rumah. Ini yang membuat mereka menjadi stres.

Selain stres, regresi pada anak bisa disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya rasa cemas berlebihan, rasa kurang percaya diri, rasa kurang nyaman dengan lingkungan sekitar, dan tekanan dari berbagai macam hal seperti nilai yang kurang bagus atau terlalu sering dibentak orang tua.

Secara tidak sadar, gangguan perasaan tersebut akan memengaruhi alam bawah sadar mereka dan sesaat anak akan merasa bingung dengan keadaan sekitar. Sehingga, untuk mengatasi kebingungannya, mereka cenderung berubah dan suka mengulang atau melakukan hal-hal yang dulu mereka lakukan dengan melupakan apa yang harus dan akan mereka lakukan saat ini.

Gejala Regresi Anak

Anak regresi

Anak regresi

Selain mengulang perilaku di masa lalu, anak-anak yang mengalami regresi juga kerap berbohong. Dilansir dari dosenpsikologi.com, anak-anak dengan gangguan regresi, suka menyangkal omongan orang dan memalsukan atau mendistorsikan kenyataan. Gejala regresi lainnya adalah menjerit-jerit, berguling-guling di tanah, menangis, meraung-raung, membanting kaki, mengisap ibu jari, mengompol, berbicara gagap, merusak barang-barang di dekatnya, menggunakan pola tingkah laku histeris, dan bekerja atau berbuat secara tidak sadar.

Baca juga:  Kapan Bayi Mulai Merangkak? Berikut Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui

Gejala yang timbul tersebut tentu membuat orang tua merasa cemas. Kebanyakan orang tua bahkan berpikir bahwa anak mereka autis. Selain membuat orang tua merasa cemas, gejala kemunduran perilaku kerap membuat anak-anak merasa kesulitan menjalani aktivitas hariannya. Ini juga berkaitan dengan perilaku yang mereka lakukan secara tidak sadar.

Anak-anak yang berperilaku secara tidak sadar, tidak bisa dihentikan secara langsung. Anda perlu mengulur waktu hingga apa yang mereka kerjakan selesai. Pertanyaan mengenai apa yang sudah mereka lakukan, mungkin tidak akan berlaku pada gejala regresi. Karena, anak-anak akan menjawab tidak tahu atau lupa.

Untuk menangani kasus tersebut, sebaiknya Anda segera mendaftarkan anak-anak ke psikiater khusus anak. Ini akan membantu menghentikan gejala tersebut secara bertahap. Selain itu, untuk menghadapi anak yang mengalami kemunduran perilaku, Anda harus sabar dan tidak boleh menekan mereka. Anak-anak dengan gejala regresi, jika ditekan akan membuat mereka semakin stres. Tingkat stres yang semakin tinggi dan tak kunjung mereda, membuat gejala regresi semakin parah dan tidak bisa cepat mereda.

Baca juga:  Tips dan Cara Membuat Anak Disiplin Tanpa Kekerasan

Dilansir dari parenting.orami, Anda harus memberikan perhatian secara lebih kepada anak yang mengidap regresi. Sebagai contoh, Anda bisa memberikan pelukan atau membuatkannya makanan dan minuman kesukaan mereka setelah pulang sekolah. Cara ini akan membangkitkan kondisi psikologis serta mental mereka, sehingga gejala regresi akan berangsur hilang.

Selain itu, Anda juga bisa menghilangkan regresi pada anak dengan cara mengajak mereka berlibur atau ke tempat yang mereka sukai. Rasa bahagia yang timbul, akan mampu meningkatkan mood dan mengatasi stres penyebab gejala regresi.

[1] Wardianti, Yuanita & Dian Mayasari. 2016. Pengaruh Fase Oral Terhadap Perkembangan Anak. Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia STKIP Singkawang, Vol. 1(2): 36-37.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: