Mudah Kenyang? Bisa Jadi itu Gejala Gastroparesis

Ilustrasi: anatomi lambung (sumber: brainstudy.info)Ilustrasi: anatomi lambung (sumber: brainstudy.info)

Bagi Anda yang sering merasa cepat kenyang dan mual, bisa jadi ini adalah gejala gastroparesis. Gejala penyakit ini seringkali membuat penderitanya merasa tidak nyaman dan beberapa orang juga ada yang mengalami sulit makan. Nah, untuk pengobatannya sendiri ada tiga cara, yakni terapi obat-obatan, teknik endoskopi, dan operasi.

Gejala Gastroparesis

Gastroparesis atau kelumpuhan lambung merupakan kondisi yang dapat memperlambat pengosongan lambung dan mengarah pada kondisi dispepsia dengan keluhan mual, muntah, dan mudah kekenyangan.[1] Dilansir dari Harvard Health Publishing, meskipun gastroparesis memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, banyak orang yang jauh lebih akrab dengan masalah usus lain, seperti seperti refluks asam dan batu empedu yang gejalanya hampir sama dengan kelumpuhan lambung.

Secara teori, pasien gastroparesis mengalami gangguan fungsi pencernaan. Ketika Anda menelan makanan, makanan akan berjalan melalui mulut menuju kerongkongan sebelum memasuki perut (lambung). Perut memiliki dua fungsi terpisah, yakni bersantai sejenak untuk menampung makanan serta cairan hingga Anda merasa kenyang dan mengaduk makanan serta cairan supaya menjadi bubur, yang kemudian masuk ke usus kecil untuk dicerna. Ketika salah satu fungsi ini terganggu, pengosongan lambung akan berjalan lebih lambat dari biasanya.

Jika pengosongan lambung terjadi lebih lama daripada biasanya, ada efek samping yang timbul, yakni gejala gastroparesis. Mual dan muntah adalah dua gejala gastroparesis yang paling umum. Biasanya, gejala ini terjadi menjelang Anda selesai makan. Gejala umum lainnya adalah sakit perut yang disebabkan kombinasi disfungsi saraf motorik dan saraf sensorik. Ketika saraf motorik tidak bekerja dengan baik, makanan dan cairan dapat tertahan di perut. Sementara itu, jika saraf sensorik tidak bekerja dengan baik, sinyal antara usus dan otak tidak dikomunikasikan secara efektif, sehingga menyebabkan rasa sakit, mual, dan muntah.

Baca juga:  Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Saat Hamil

Gejala yang timbul pada gastroparesis ini mirip seperti dispepsia fungsional, yakni gangguan interaksi antara otak dan usus secara berulang tanpa sebab yang jelas. Tak hanya itu, penyakit obstruksi saluran keluar lambung dan sindrom muntah siklik juga bergejala seperti gastroparesis. Nah, untuk mengetahui apakah Anda mengalami gastroparesis atau penyakit lainnya, Anda harus memeriksakan diri ke dokter.

Dengan gejala yang hampir sama seperti penyakit pencernaan lain, ada banyak kesalahpahaman tentang tipikal orang dengan gastroparesis. Misalnya, tidak benar bahwa orang dengan diabetes mengalami gastroparesis. Diketahui, hanya 25% orang dengan gastroparesis yang menderita diabetes. Berikut adalah mereka yang berisiko gastroparesis.

Siapa Saja yang Berisiko Gastroparesis?

Ilustrasi: penderita gastroparesis (sumber: steadyhealth.com)

Ilustrasi: penderita gastroparesis (sumber: steadyhealth.com)

  • Pasien dengan terapi obat-obatan tertentu, seperti obat nyeri opiat dan beberapa obat diabetes khusus.
  • Orang yang pernah menjalani operasi, radiasi, atau gangguan jaringan ikat yang memengaruhi fungsi saraf usus.
  • Wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami gastroparesis daripada pria, karena siklus menstruasi.
Baca juga:  Meski Dipercaya Berkhasiat, Ternyata Buah Pinang Punya Efek Samping Negatif untuk Wanita

Sejauh ini, ada informasi terbatas tentang kesenjangan kesehatan di antara orang-orang dengan gastroparesis, meskipun satu penelitian menunjukkan bahwa diabetes lebih mungkin menjadi penyebab gastroparesis di antara pasien kulit hitam dan Hispanik daripada pasien kulit putih. Belum jelas mengapa, meskipun ketidaksetaraan sosial ekonomi yang memengaruhi hasil kesehatan mungkin menjadi faktor (seperti yang berlaku untuk banyak kondisi lainnya).

Jika Anda termasuk salah satu kategori yang berisiko terkena gastroparesis, bahkan mengalami gejalanya, Anda harus segera memeriksakan diri. Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan tes darah, imaging test, dan endoskopi. Dengan melakukan serangkaian tes tersebut, dokter bisa menentukan jenis pengobatan apa yang tepat dan Anda butuhkan.

Ada tiga jenis pengobatan gastroparesis, yakni obat-obatan, teknik endoskopi, dan prosedur pembedahan atau operasi. Tujuan utama pengobatan ini adalah untuk mengatasi gejala yang paling mengganggu Anda. Inilah alasan mengapa Anda juga harus menceritakan gejala gastroparesis apa yang paling tidak sanggup Anda hadapi.

Pengobatan Gastroparesis

  • Obat-obatan. Pasien bisa menggunakan obat eritromisin, prucalopride, dan metoklopramid untuk mempercepat pengosongan lambung. Obat lain yang bisa dipakai untuk mengatasi nyeri dan mual adalah obat neuromodulator, seperti antidepresan dan neuropatik. Obat-obatan ini bekerja untuk memperbaiki interaksi usus dan otak, sehingga saluran pencernaan berfungsi dengan baik.
  • Teknik endoskopi piloroplasti per-oral. Seorang ahli gastroenterologi mungkin menyarankan teknik endoskopi yang berbeda untuk meningkatkan pengosongan lambung dengan mengganggu katup antara lambung dan usus kecil yang disebut pilorus. Salah satu pendekatan, yang disebut piloroplasti per-oral, tidak memerlukan pembedahan.
  • Pendekatan bedah yang disebut laparoskopi pyloroplasty bertujuan membentuk kembali otot katup antara lambung dan usus kecil supaya perut kosong lebih cepat. Lebih jarang, pembedahan menanamkan stimulator lambung untuk membantu meningkatkan sinyal antara usus dan otak dapat dipertimbangkan.
Baca juga:  Pond’s Clear Balance Oil Control Facial Foam, Pembersih Wajah yang Diklaim Mampu Atasi Kulit Berminyak dan Kusam

Dilansir dari hellosehat, bagi Anda yang mengalami gejala gastroparesis ringan, juga bisa mencegah dan mengatasi gejalanya dengan cara mengubah pola makan. Ini dilakukan jika gastroparesis yang Anda idap adalah bentuk komplikasi dari diabetes tipe 2. Dengan mengubah pola makan, kadar gula darah bisa dikendalikan, sehingga gejala gangguan motilitas lambung seperti gastroparesis bisa diredakan.

[1] Lestari, Diana Putri, Willy Brodus Uwan, Muhammad In’am Ilmiawan. 2019. Hubungan Antara Kadar Glycosylated Hemoglobin (HbA1c) dan Angka Kejadian Sindrom Dispepsia pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Kesehatan Khatulistiwa UNTAN, Vol. 5(2B): 859-872.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: