Gagal Diet karena Selalu Lapar? Ada Cara Efektif Menurut Para Ahli

Ilustrasi: makan lahap (sumber: helpguide.org)Ilustrasi: makan lahap (sumber: helpguide.org)

Obesitas merupakan kondisi ketidakseimbangan antara asupan makanan dan energi yang dikeluarkan, sehingga menyebabkan akumulasi lemak berlebih dan menjadi penyebab penyakit tidak menular yang bisa menjadi faktor risiko kematian.[1] Nah, salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan diet. Meskipun begitu, tak sedikit orang gagal diet untuk menurunkan berat badan akibat selalu lapar.

Penelitian Obesitas

Dilansir dari South China Morning Post, cara paling efektif untuk menurunkan berat badan adalah mengurangi porsi makanan. Namun, dalam beberapa kondisi, orang sering mengalami kesulitan dalam mengatur diet mereka karena merasa lapar.

Kondisi ini sangat umum bagi mereka yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Apalagi jika mereka sudah terbiasa makan dalam porsi besar dan secara rutin. Sebagai solusi, sebuah penelitian yang dipimpin peneliti dari Hong Kong Baptist University, menemukan enzim yang berperan besar untuk membuat orang yang terbiasa makan dalam jumlah banyak merasa kenyang walaupun makan dalam porsi kecil.

Temuan ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Nature Metabolism, memiliki implikasi signifikan dengan China dan AS dalam tingkat obesitas. Dilaporkan dalam penelitian, lebih dari setengah miliar orang China mengalami kelebihan berat badan. Itu sekitar 50% dari populasi yang di antaranya, yakni 16,4% mengalami obesitas.

Baca juga:  Apakah Benar Minum Kopi Bisa Mencegah Diabetes Tipe 2?

Lebih dari setengah miliar orang di China kelebihan berat badan, 50% dari populasi, di antaranya 16,4 persen mengalami obesitas. Angkanya serupa di Hong Kong, dan jumlah anak-anak yang kelebihan berat badan atau obesitas berusia antara 9 hingga 13 tahun telah meningkat dari 7% menjadi 24% selama pandemi.

Kelebihan berat badan membuat orang berisiko lebih tinggi terkena penyakit yang mengancam jiwa seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Menurut Population Health Survey yang dilakukan pada tahun 2015 oleh departemen kesehatan Hong Kong, sekitar 30% orang di Hong Kong berusia 15 hingga 84 tahun mengalami obesitas, dan 20% lainnya kelebihan berat badan.

Enzim yang Menimbulkan Rasa Kenyang

Ilustrasi: kekenyangan (sumber: bamboozle.com)

Ilustrasi: kekenyangan (sumber: bamboozle.com)

Penelitian juga mengungkapkan, cara paling efektif untuk mengatasi obesitas adalah dengan makan lebih sedikit, tetapi orang gemuk sering mengalami kesulitan mengatur kebiasaan makan mereka, karena mereka kehilangan rasa kenyang. Dr Xavier Wong Hoi-leong dan Profesor Bian Zhaoxiang mengidentifikasi enzim yang dapat mengatur sinyal rasa kenyang di otak untuk membantu mengatur asupan makanan, bernama membrane-type 1 matrix metalloproteinase (MT1-MMP).

Baca juga:  Kesalahan Yang Perlu Dihindari Sebelum & Ketika Berolahraga

Wong mengatakan, penelitian menetapkan peran MT1-MMP dalam mengatur rasa kenyang, dan memberikan indikasi bahwa enzim itu adalah target yang menjanjikan untuk pengobatan obesitas. Menggunakan obat untuk menghambat MT1-MMP bisa menjadi strategi yang layak untuk mengembangkan pengobatan yang efektif.

Tim peneliti global, termasuk ilmuwan dari University of Hong Kong, Chinese University of Hong Kong, University of Texas, dan University of Helsinki juga membenarkan hal tersebut. Untuk membuktikan temuan ini, para ilmuwan menyiapkan sekelompok tikus gemuk dengan memberi mereka makanan kaya lemak sambil menghabiskan MT1-MMP di neuron kenyang mereka, dan memberi makanan yang sama ke kelompok kontrol tikus biasa.

Setelah 16 minggu, tikus dengan MT1-MMP yang terkuras makan 10% lebih sedikit, bertambah berat badan 50% lebih sedikit, dan memiliki kadar glukosa serta insulin plasma yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penipisan MT1-MMP melindungi tikus dari obesitas ketika mereka mengonsumsi makanan tinggi lemak.

Baca juga:  Jangan Tertipu Harga Mahal, Begini Cara Mengetahui Peringkat Susu Formula Terbaik

Tim peneliti juga menemukan, tikus gemuk menunjukkan peningkatan aktivitas MT1-MMP di daerah otak yang terlibat dalam pengaturan nafsu makan dan berat badan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas MT1-MMP pada otak tikus yang obesitas dapat menjadi faktor risiko kenaikan berat badan yang berkelanjutan.

Langkah selanjutnya adalah menggali potensi penargetan MT1-MMP dengan obat-obatan untuk manajemen obesitas. Tes laboratorium pada tikus gemuk menemukan bahwa mereka makan lebih sedikit setelah diberikan antibodi penetral spesifik yang menghambat MT1-MMP.

Hasilnya menunjukkan bahwa MT1-MMP adalah target potensial yang dapat digunakan dalam mengembangkan perawatan obat inovatif untuk obesitas. Penelitian tersebut telah diterbitkan pada saat para ahli memperingatkan bahwa lebih banyak warga Hong Kong yang jatuh sakit karena pola makan dan gaya hidup mereka yang kurang gerak. Hal ini menyebabkan peningkatan tajam dalam penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, dan kadar kolesterol tinggi.

[1] Amir, Sriargianti & Asma. 2021. Efektivitas Pengaturan Pola Makan Perempuan Obesitas terhadap Penurunan Berat Badan. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah, Vol. 10(2): 116-112.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: