Apakah Fungsi Salep Hidrokortison untuk Jerawat?

Ilustrasi: mengoleskan krim pada wajah (sumber: prevention.com)

Kasus jerawat yang parah memang bisa mengganggu kepercayaan diri seseorang. Jika sudah demikian, beberapa orang mungkin akan menggunakan salep yang mengandung bahan seperti hydrocortisone. Salep dengan bahan “keras” ini kabarnya bisa membantu mengurangi peradangan. Hydrocortisone tersedia dalam bentuk obat tablet, salep, cream (krim), lotion, serta suntik. Namun, apa sebenarnya fungsi atau kegunaan salep hydrocortisone untuk jerawat?

Hidrokortison adalah hormon anak-ginjal alami. Kortikoroida ini sangat ampuh meredakan reaksi imun dan meringankan rasa gatal eksim, tetapi sayang sekali hanya untuk sementara saja. Pilihan pertama adalah hidrokortison asetat 1% karena zat ini walaupun daya kerjanya lebih lambat, namun kambuhnya gejala juga tidak begitu cepat dibanding obat-obat lainnya dengan khasiat yang 10-20 kali lebih kuat. Lagipula hidrokortison sebagai hormon tubuh sendiri adalah paling aman.

Cara menggunakannya adalah mengoleskan krim/salep hidrokortison setipis mungkin pada lokasi eksim. Untuk memperkuat efeknya dapat ditutup dengan sehelai plastik tipis. Bila setelah 5 hari belum menghasilkan efek, dapat dicoba jenis-jenis yang lebih kuat, antara lain hidrokortison butirat 0,1% (Locoid) atau triamsinolon 0,1% dan bila perlu juga dengan penutupan plastik.[1]

Baca juga:  Pelembab Wardah Perfect Bright Moisturizer, Bikin Wajah Jadi Cerah

Fungsi Salep Hydrocortisone untuk Jerawat

Ilustrasi: memakai krim di wajah (sumber: bhg.com)

Ilustrasi: memakai krim di wajah (sumber: bhg.com)

Menurut dr. DevikaYuldharia dari Alodokter, hydrocortisonetopikal/oles berguna untuk mengurangi peradangan. Obat ini sebenarnya diindikasikan untuk pengobatan dermatitis, eksim, dan alergi. “Hydrocortisone tidak diindikasikan untuk pengobatan jerawat secara khusus. Pengobatan jerawat dengan hydrocortisone hanya berfungsi untuk mengempeskan jerawat yang meradang, namun tidak menangani penyebab jerawat. Apabila hydrocortisone digunakan tidak sesuai dosis dan dihentikan tanpa anjuran dokter dapat memicu break out pada jerawat Anda/jerawat akan muncul kembali,” tuturnya.

Lebih lanjut dr Devika mengungkapkan bahwa penggunaan hydrocortisone jangka panjang bisa menimbulkan efek samping timbulnya stretch marks, perubahan warna kulit, lebam, hingga tampak pembuluh darah halus pada kulit.

Fungsi salep yang cukup terbatas ini membuat hydrocortisone lebih baik digunakan bersama obat jerawat lainnya. Misalnya saja produk hydrocortisone dipakai dengan benzoil peroksida untuk meredakan peradangan dan membuat jerawat cepat kering. Namun demikian, pemakaian krim hydrocortisone tidak boleh dilakukan dalam jangka waktu lama karena justru bisa merusak kulit dan menimbulkan bekas jerawat yang sulit hilang.

Baca juga:  Mampu Menyamarkan Noda Hitam, Bedak Garnier Ini Cocok Dipakai untuk Kulit Berjerawat

Dalam sebuah studi juga disebutkan bahwa hydrocortisone dapat dipadukan dengan bahan lain seperti asam salisilat, belerang, dan retinoid yang dikenal sebagai bahan-bahan efektif untuk mengurangi penyebab jerawat meradang. Tetapi, bagi Anda yang ingin menggunakan hydrocortisone untuk menghilangkan bekas jerawat biasanya disarankan untuk memakai produk dalam wujud krim, bukan salep. Pasalnya, salep memiliki tekstur oklusif yang justru bisa menyumbat pori-pori kulit Anda.

Cara Pemakaian Salep Hydrocortisone yang Benar

Ilustrasi: mengoleskan salep/krim (sumber: thehealthy.com)

Ilustrasi: mengoleskan salep/krim (sumber: thehealthy.com)

  • Hanya dioleskan pada bagian kulit yang bermasalah, tidak boleh mengenai kulit normal
  • Tidak dioleskan pada area kulit yang luka
  • Dioleskan secara tipis pada kulit yang telah dibersihkan
  • Tidak memakai oklusi atau kasa untuk menutupi bagian kulit yang telah dioleskan kortikosteroid apabila tak ada instruksi dari dokter

Efek Samping Hydrocortisone

  • Luka atrofik
  • Ulkus (luka menggaung)
  • Telangiektasis (pelebaran pembuluh darah bawah kulit)
  • Risiko infeksi (terutama jamur) yang meningkat
  • Jerawat
  • Rosasea
  • Hipopigmentasi, hiperpigmentasi
  • Penyembuhan luka yang lambat
Baca juga:  Minum Obat Pencahar Dulcolax untuk Ibu Hamil, Aman atau Tidak?

Efek samping tersebut tak selalu terjadi dan dapat berbeda-beda pada setiap orang. Penggunaan kortikosteroid seperti hydrocortisone sebaiknya dilakukan berdasarkan instruksi dokter dan perlu dilakukan dengan pengawasan klinis, apalagi bila dipakai untuk jangka panjang. Selain itu, pemakaian hydrocortisone di daerah wajah juga harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu lantaran kulit di daerah wajah lebih tipis dibanding kulit di bagian tubuh lainnya.

Oleh sebab itu, sebaiknya jangan sembarangan menggunakan produk krim atau salep kortikosteroid tanpa adanya resep atau anjuran dari dokter. Untuk mengurangi jerawat, Anda bisa mencoba melakukan beberapa hal seperti membersihkan wajah secara rutin sebanyak 2 kali sehari, menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan, mengurangi makanan berminyak, perbanyak minum air putih, hindari memencet jerawat, tidak menyentuh wajah sebelum mencuci tangan, memakai produk perawatan wajah berbasis air, dan juga mengelola stres dengan baik.

[1] Tan, HT dkk. 2010. Obat-obat Sederhana Gangguan Sakit Sehari-hari (hlm 28-29). Jakarta: Elex Media Komputindo.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: