Fitness Turunkan Risiko Penyakit pada Orang Obesitas

Ilustrasi: olahraga kebugaran untuk obesitas (sumber: pond5.com) Ilustrasi: olahraga kebugaran untuk obesitas (sumber: pond5.com)

Fitness atau lebih dikenal sebagai olahraga kebugaran adalah sebuah latihan yang dilakukan oleh individu dengan berbagai macam motivasi dan tujuan, seperti kesenangan, interaksi sosial, kesehatan, dan meningkatkan penampilan tubuh.[1] Selain itu, fitness dipercaya mampu melawan risiko penyakit pada orang yang terkena obesitas, seperti hipertensi dan jantung.

Penelitian Fitness pada Orang Obesitas

Dilansir dari Harvard Health Publishing, fitness atau biasa dikenal kebugaran kardiovaskular atau kebugaran kardiorespirasi (CRF) adalah ukuran kinerja jantung, paru-paru, dan otot tubuh yang mencakup ukuran, kekuatan, dan daya tahan tubuh. Kebugaran dapat memengaruhi tingkat kewaspadaan mental dan stabilisasi emosi, karena berhubungan dengan pikiran dan tubuh.

Sementara itu, masih dilansir dari sumber yang sama, kegemukan dapat didefinisikan dengan berbagai cara, tetapi lebih sering memakai Indeks Massa Tubuh (BMI). Untuk memperhitungkan kegemukan memakai BMI, Anda perlu mengukur tinggi badan dan mengetahui berat badan Anda.

Namun, Anda juga bisa mengecek kondisi kegemukan Anda dengan mengukur lingkar pinggang dan pinggul. Lingkar pinggang dan pinggul di atas rata-rata berdasarkan usia dan tinggi badan dapat menandakan Anda mengalami kegemukan atau obesitas. Diketahui, obesitas dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti gangguan metabolisme, penyakit jantung, kolesterol, hingga kematian.

Baca juga:  Atur Pola Makan Dengan Food Diary, Anda Ingin Coba?

Secara umum, orang bisa mengalami obesitas karena beberapa faktor dan salah satunya adalah gangguan metabolisme. Dengan proses metabolisme yang melambat, lemak jenuh dalam tubuh tidak dapat dibakar secara cepat, sehingga menyebabkan kegemuka dan berat badan bertambah.

Ilustrasi: pusat kebugaran (unsplash: Danielle Cerullo)

Ilustrasi: pusat kebugaran (unsplash: Danielle Cerullo)

Kadar lemak jenuh yang terus menumpuk jika dibiarkan bisa menyebabkan gangguan kolesterol. Biasanya ini juga berpengaruh terhadap tekanan darah yang semakin naik. Inilah penyebab orang obesitas sering mengalami gejala hipertensi disertai kolesterol.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam European Journal of Preventive Cardiology,  para cendekiawan memeriksa paradoks ‘bugar tetapi gemuk’. Dijelaskan oleh beberapa ahli bahwa paradoks ini menunjukkan individu dengan kasus obesitas yang mengalami penurunan risiko kardiovaskular karena fitness.

Untuk mengulik paradoks yang terjadi, peneliti telah menilai hubungan antara kategori BMI yang berbeda dan tingkatan aktivitas fisik dan prevalensi tiga faktor risiko penyakit kardiovaskular utama (CVD). Penyakit yang termasuk kategori CVD adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Baca juga:  Apa Itu Irritable Bowel Syndrome dan Bagaimana Cara Mengobatinya?

Studi ini dilakukan dengan mengumpulkan data kondisi fisik dan kesehatan dari 527.662 peserta. Analisis ini menggunakan batas BMI standar untuk mengategorikan orang yang mempunyai berat badan normal, kelebihan berat badan, dan obesitas.

Selain itu, uji coba ini memakai beberapa kategori tingkat aktivitas fisik untuk menyimpulkan hasilnya. Kategori ini terdiri dari tiga golongan, antara lain tidak aktif (tidak melakukan aktivitas fisik sedang atau berat), kurang aktif (melakukan aktivitas fisik kurang dari 150 menit per minggu dengan aktivitas sedang atau kurang dari 75 menit per minggu untuk aktivitas fisik kuat), dan aktif (melakukan aktivitas fisik sedang selama 150 menit atau lebih per minggu atau aktivitas fisik kual selama 75 menit per minggu).

Ilustrasi: olahraga kebugaran untuk obesitas (sumber: healthcred.news)

Ilustrasi: olahraga kebugaran untuk obesitas (sumber: healthcred.news)

Para peneliti menyimpulkan, aktif secara teratur atau kurang aktif melakukan aktivitas fisik ternyata mampu melindungi pasien obesitas atau kegemukan dari penyakit hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes, dibanding dengan tidak aktif sama sekali. Tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi mampu mengurangi risiko penyakit ke tingkat yang lebih tinggi.

Baca juga:  Berbahaya Jika Kita Sering Kentut? Apa Penyebabnya?

Namun, aktivitas fisik yang teratur atau tidak mencukupi sama-sama mengompensasi efek negatif dari kondisi kelebihan berat badan atau obesitas. Dengan kata lain, individu dengan kelebihan berat badan memiliki risiko CVD yang lebih besar daripada rekan mereka dengan berat badan normal, terlepas dari tingkat aktivitas fisiknya.

Temuan penelitian ini mungkin membuat beberapa orang percaya bahwa semua upaya untuk meningkatkan kesehatan dan umur panjang harus diarahkan pada pengelolaan berat badan. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang ideal sangat penting untuk mengurangi risiko penyakit kronis.

Tak jarang dokter akan merekomendasikan diet menurunkan berat badan pada pasien yang berisiko obesitas atau mengalami kenaikan berat badan secara drastis. Anda juga harus ingat bahwa obesitas itu sendiri adalah penyakit kronis, yang seringkali tidak dapat diatasi secara langsung.

[1] Muttaqin, Andi, Ifwandi, Muhammad Jafar. 2016. Motivasi Member Fitness Center dalam Melakukan Latihan Kebugaran Jasmani (Studi Kasus pada Member Wana Gym Banda Aceh Tahun 2015). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Universitas Syiah Kuala, Vol. 2(2): 100-113.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*