Pentingnya Dukungan Moral Merawat Anak dengan Kondisi Kesehatan khusus

Ilustrasi: orang tua anak berkebutuhan khusus (sumber: eparent.com)Ilustrasi: orang tua anak berkebutuhan khusus (sumber: eparent.com)

Peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak sangatlah penting, karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak.[1] Sayangnya, tidak semua anak memiliki kondisi kesehatan fisik maupun mental yang baik. Tak jarang, ada anak dengan kondisi mental kurang yang menghambat perkembangannya. Sebagai orang tua, mungkin akan merasa kesulitan saat merawat anak tersebut, untuk itu diperlukan dukungan moral dari berbagai pihak.

Pentingnya Dukungan Moral untuk Orang Tua

Ada banyak orang tua yang kewalahan merawat anak dengan kondisi kesehatan mental tertentu. Ini karena anak dengan kebutuhan khusus atau memiliki kondisi kesehatan tertentu biasanya membutuhkan perawatan yang berbeda dengan orang lainnya. Tak jarang, ini juga bisa menyerang mental para orang tua yang merawatnya.

Dilansir dari HuffPost, Brittany Martinez dan suaminya memiliki putra berusia 1 tahun yang tidak memenuhi beberapa tonggak perkembangan. Mereka telah mengevaluasi si kecil yang didiagnosis dengan autisme.

“Diagnosis anak kami telah memengaruhi setiap aspek kehidupannya, dan kehidupan kami sebagai sebuah keluarga,” kata Martinez. “Putra saya sekarang berusia 14 tahun dan masih kesulitan memahami dunia di sekitarnya. Ketika putra saya pertama kali didiagnosis, saya merasa kewalahan dan terisolasi. Saya juga depresi berat dan tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri dengan baik.”

Baca juga:  Kenali Daftar Mainan yang Aman dan Berbahaya untuk Anak

Pengalaman Martinez tidak jarang di antara orang tua dari anak-anak dengan autisme atau kondisi kesehatan mental lainnya. Sebuah studi baru-baru ini dari University of California, San Francisco menemukan bahwa 50% ibu dari anak autis memiliki gejala depresi yang signifikan secara klinis, dibandingkan dengan 6% -14% ibu dari anak tanpa autisme.

“Yang penting, penelitian ini juga menemukan bahwa gejala depresi ibu yang lebih tinggi tidak memprediksi peningkatan masalah perilaku anak-anak dari waktu ke waktu,” kata Danielle Roubinov, peneliti utama studi tersebut. “Temuan ini akan membantu meringankan perasaan bersalah yang mungkin dimiliki orang tua tentang perjuangan kesehatan mental mereka sendiri yang memengaruhi anak mereka.”

Sebagian besar orang tua, akan mendahulukan kebutuhan anak mereka. Tak jarang ini membuat kebutuhan orang tua tidak bisa terpenuhi. Ketika ada anak berkebutuhan khusus, hampir semua sumber daya dari orang tua yang ada akan ditujukan kepada anak tersebut. Besarnya sumber daya tersebut sama pentingnya bagi orang tua yang mengasuh. Ini membuat mereka memerlukan dukungan supaya memiliki sumber daya lebih untuk menjaga kesehatan mental mereka.

Ilustrasi: mengasuh anak berkebutuhan khusus (sumber: biblestudytools.com)

Ilustrasi: mengasuh anak berkebutuhan khusus (sumber: biblestudytools.com)

Kesehatan Mental Orang Tua Bisa Krisis

Selain menguras mental orang tua dengan anak berkebutuhan khusus, mental orang tua bisa terguncang saat merawat anak dengan penyakit kronis. Ini dirasakan Taylor T., yang memiliki anak perempuan dengan riwayat leukemia limfoblastik akut sel-B pada usia 20 bulan. Saat ini, putrinya menjalani perawatan kemoterapi dengan perawatan yang berlangsung selama 29 bulan.

Baca juga:  Mengapa Diet Tidak Memiliki Manfaat Jangka Panjang?

“Begitu banyak orang berkata, ‘Apa yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri?’ yang merupakan sentimen yang bagus, tetapi itu semakin membuat saya kesulitan,” kata Taylor. “Apa yang tidak mereka pahami adalah bahwa saya tidak punya waktu, energi, atau kapasitas mental untuk diri saya sendiri. Saya benar-benar harus berjuang 24/7 untuk menjaga putri saya agar tetap hidup. ”

Di sisi lain, Taylor sebenarnya sudah memiliki anxiety disorder sebelum mengetahui penyakit anaknya. Kondisi mentalnya semakin parah dengan kondisi kanker putrinya. Taylor dan orang tua lain seperti dia mengatakan bahwa menerima diagnosis anaknya, membuat hidupnya tidak mudah.

“Dukungan dari ibu lain yang mengalami situasi yang sama atau sangat mirip lebih baik daripada terapi apapun yang bisa saya temukan,” kata Taylor. “Saya bertemu dengan seorang teman yang memiliki seorang putri dengan kondisi yang sama seperti anak saya. Kami langsung terhubung dan dia menjadi sumber pemahaman yang konstan, saya benar-benar tidak berpikir saya bisa melewatinya sebaik yang saya lakukan tanpa dia.”

Baca juga:  Makanan Organik Dianggap Lebih Sehat, Benarkah?

Tips Meningkatkan Kesehatan Mental Orang Tua

Bersama temannya, Taylor secara teratur bertemu dengan sekelompok orang tua yang bernasib sama untuk saling memberikan dukungan moral demi Kesehatan mental masing-masing. Sementara itu, bagi Laurie Foos, ibu dari seorang putra berusia 15 tahun yang menderita autisme, kecemasan, dan cacat perkembangan, media sosial telah memberikan sumber dukungan.

Foos mengatakan bahwa media sosial, seringkali memberikan ruang yang aman bagi orang tua sepertinya yang mungkin tidak tahu ke mana harus mencari dukungan moral. Banyak dari orang-orang yang belum pernah dia temui dalam kehidupan nyata, telah memberinya kekuatan, keberanian, dan membuatnya merasa tidak sendirian.

Selain itu, terapi individu juga dapat membantu orang tua meningkatkan kesehatan mentalnya. Banyak terapis yang menawarkan layanan kesehatan mental online yang bisa Anda ikuti dengan mudah.

[1] Hasbi, Muhammad, dkk. 2020. Menjaga Kesehatan Anak Usia Dini. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 1.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: