Sedang Marak di Kalangan Remaja, Yuk Lindungi Anak dari Digital Self-Harm!

Ilustrasi: digital self harm (sumber: edweek.org)Ilustrasi: digital self harm (sumber: edweek.org)

Self-harm merupakan perilaku yang dilakukan untuk mengatasi tekanan emosional atau rasa sakit secara emosional dengan cara menyakiti dan merugikan diri sendiri tanpa maksud bunuh diri.[1] Dengan canggihnya teknologi yang ada, self-harm tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga bisa secara digital. Lebih dikenal dengan digital self-harm, perlakuan ini tampaknya sedang marak di kalangan remaja. Untuk itu, bagi Anda yang memiliki anak remaja, sebaiknya waspada dan lindungi buah hati Anda dari tindakan tersebut.

Apa Itu Digital Self-Harm?

Dilaporkan dalam HuffPost, setelah remaja Inggris Hanna Smith bunuh diri pada tahun 2013, ayahnya mengatakan kepada media Inggris bahwa dia telah menjadi sasaran intimidasi online. Tragedi keluarganya memicu seruan untuk regulasi media sosial yang lebih besar untuk menindak perilaku semacam itu.

Namun, beberapa hari kemudian, sebuah platform online tempat Smith diintimidasi mengatakan bahwa banyak pesan yang dipermasalahkan berasal dari alamat IP Smith sendiri. Bukti menunjukkan bahwa remaja itu telah mengirimnya sendiri sebagai bentuk self-harm. Perilaku ini dikenal oleh para peneliti dan psikolog sebagai tindakan melukai diri sendiri secara digital (digital self-harm) dan kesadaran akan masalah ini telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Pada bulan Juli 2022, sebuah penelitian menemukan hubungan antara remaja yang melakukan tindakan menyakiti diri sendiri secara digital dengan percobaan bunuh diri. Para peneliti mengatakan, remaja yang terlibat dalam tindakan menyakiti diri sendiri secara digital berisiko 5 hingga 7 kali lebih besar memiliki pikiran untuk bunuh diri dan 9 hingga 15 kali lebih mungkin melakukan percobaan bunuh diri.

Baca juga:  Teknik Pelekatan Yang Baik & Cerita Di Balik Proses Menyusui

Bentuk Digital Self-Harm

Justin W. Patchin, seorang profesor peradilan pidana di University of Wisconsin-Eau Claire, mengatakan bahwa dia terkejut setelah mengetahui kasus Smith. Setelah itu, ia bekerja dengan rekan-rekannya dalam beberapa penelitian seputar digital self-harm pada remaja.

“Melukai diri secara digital terjadi ketika seseorang membuat akun online anonim dan menggunakannya untuk mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan kepada diri sendiri secara publik,” kata Patchin. “Paling sering, itu bermanifestasi sebagai ancaman atau pesan kebencian yang ditargetkan sebagai bentuk cyberbullying yang lebih ekstrem.”

Ilustrasi: digital self harm (sumber: fiu.edu)

Ilustrasi: digital self harm (sumber: fiu.edu)

Menyakiti diri sendiri secara digital terlihat seperti cyberbullying, sehingga banyak orang yang salah mengira, termasuk orang tua Smith. Satu-satunya perbedaannya adalah bahwa pengganggu dan korban adalah orang yang sama.

Pada tahun 2017, Patchin mengerjakan sebuah penelitian yang mensurvei 5.593 remaja dan menemukan bahwa sekitar 6% melaporkan memposting sesuatu yang jahat tentang diri mereka sendiri secara online. Laki-laki lebih mungkin dibandingkan perempuan untuk melakukannya, dengan perbandingan masing-masing 7,1% dibandingkan 5,3%.

Baca juga:  Cegah Penuaan Dini Dengan Cream Siang & Malam La Tulipe

Apa Penyebab Digital Self-Harm?

“Ini bukan sesuatu yang dilakukan anak-anak hanya karena mereka pikir itu keren,” kata Cindy Graham, seorang psikolog anak di Maryland. “Mereka melihatnya sebagai cara untuk mengatasi masalah yang mereka alami.”

Menyakiti diri sendiri dapat menjadi strategi untuk mengelola perasaan terkait dengan masalah kesehatan mental yang lebih dalam dan lebih signifikan. Dr. Shairi Turner, seorang dokter anak dan kepala petugas medis di Crisis Text Line, menjelaskan bahwa melukai diri secara digital bisa menjadi cara untuk menarik perhatian atau simpati bagi seorang remaja yang sedang berjuang dan tidak merasa siap untuk meminta bantuan secara langsung.

Selain itu, Patchin menambahkan, beberapa remaja dalam penelitiannya yang melakukan digital self-harm memiliki masalah dengan harga diri yang rendah dan kebencian terhadap diri sendiri. Namun, dalam beberapa kasus, remaja mencari perhatian dari orang-orang tertentu dengan memposting komentar online sebagai upaya untuk melihat apakah ada orang yang akan membela mereka.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

“Bullying dan menyakiti diri sendiri, semakin menjadi masalah yang kompleks bagi remaja,” kata Turner. “Di Crisis Text Line, percakapan tentang intimidasi meningkat sebesar 20% pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020, dan percakapan tentang menyakiti diri sendiri meningkat sebesar 10% dibandingkan dengan tahun 2020.”

Baca juga:  Apa Saja Tips Atasi Sulit Tidur untuk Lansia?

Sayangnya, orang tua sering tidak tahu bahwa anak mereka terlibat dalam tindakan menyakiti diri sendiri secara digital. Patchin mengatakan, dia telah melihat kasus seorang anak terungkap sebagai sumber intimidasi dirinya sendiri setelah orang tuanya melibatkan pihak berwenang.

Tidak mungkin untuk mengawasi segala sesuatu yang dilakukan remaja secara online, dan karena mereka seringkali sangat ahli dalam menghindari perlindungan digital orang tua, cobalah untuk menjadi teman bagi anak Anda. Sumber informasi terbaik adalah anak Anda sendiri. Ini yang membuat Anda harus bisa menjaga komunikasi yang baik dengan anak.

“Yang terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah berada di sisi mereka, jadi jika mereka mengalami sesuatu yang menyakitkan secara online atau offline, mereka merasa nyaman untuk meminta bantuan orang tuanya,” kata Patchin. “Ini tidak hanya sebagai bentuk pencegahan digital self-harm, tetapi juga mengatasinya.”

[1] Thesalonika & Nurliana Cipta Apsari. 2021. Perilaku Self-Harm atau Melukai Diri Sendiri yang Dilakukan oleh Remaja. Jurnal Pekerjaan Sosial UNPAD, Vol. 4(2): 213-224.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: