Jangan Asal Praktik, Diet Viral Ala Instagram dan TikTok Juga Ada Risikonya

Ilustrasi: diet sehat (sumber: cnn)Ilustrasi: diet sehat (sumber: cnn)

Banyak orang awam mengenai gizi, tetapi ingin menjalani diet. Bukannya malah mendapatkan badan yang ideal, ini justru bisa memicu gizi buruk. Umumnya, kasus seperti ini dialami remaja pada usia 16-18 tahun dengan prevalensi hingga 7,3%.[1] Sumber diet tidak sehat ini beragam, yang paling umum adalah dari Instagram dan TikTok.

Banyak inovasi diet yang dibagikan di dua platform tersebut dan viral, membuat para remaja ingin mencobanya. Apalagi jika para pembuat konten memberikan embel-embel bisa menurunkan berat badan secara drastis dalam waktu seminggu.

Dilansir dari South China Morning Post, tidak semua tren diet yang dipromosikan oleh para influencer media sosial, seperti Instagram dan TikTok sehat secara nutrisi. Bahkan menurut para ahli, beberapa macam diet ada yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Beberapa konten mengenai diet di Instagram dan TikTok dikaitkan dengan masalah kurang gizi dan kesehatan mental oleh para ahli. Ini juga bisa meningkatkan risiko pengguna media sosial mengembangkan gangguan makan. Sebuah penelitian menemukan, penggunaan Instagram berlebihan dikaitkan dengan gejala orthorexia lebih besar. Orthorexia adalah obsesi untuk makan-makanan sehat.

“Anda tidak boleh membabi buta mengikuti tren diet atau makan dengan cara tertentu hanya karena orang lain melakukannya,” kata Cyrus Luk, ahli diet di Matilda International Hospital. “Diet atau rencana makan yang berhasil untuk satu orang mungkin tidak memberikan hasil yang sama untuk Anda, karena perbedaan usia, jenis kelamin, gaya hidup, dan sebagainya.”

Baca juga:  Ternyata Mudah Kok, Begini Cara Membuat Granola Panggang & Tanpa Oven

Luk juga membagikan diet apa yang sedang viral di Instagram dan TikTok. Dirinya bahkan membedah manfaat dan efek sampingnya seperti berikut.

Diet Viral di Instagram dan TikTok

Ilustrasi: menuangkan air mineral (sumber: classpass.com)

Ilustrasi: menuangkan air mineral (sumber: classpass.com)

Diet Air Mineral

Sementara penelitian pada manusia tentang diet air sangat minim, Luk mengatakan bahwa orang bisa kehilangan hingga 0,9 kg (2 pon) sehari selama 24-72 jam karena diet air. Minum air mineral dalam waktu yang singkat dengan takaran tepat mungkin memiliki beberapa manfaat.

“Studi skala kecil dan jangka pendek dari hewan dan sel menunjukkan bahwa diet air dapat mengurangi beberapa faktor risiko penyakit, seperti dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan tekanan darah,” kata Luk.  “Ini juga dapat merangsang autophagy, sebuah proses yang membantu tubuh kita memecah dan mendaur ulang molekul yang rusak dari sel. Namun, banyak dari manfaat ini mungkin berumur pendek dan belum diuji pada manusia dalam skala besar.”

Di sisi lain, diet air juga menyebabkan efek samping jangka pendek, seperti penurunan kadar gula darah dan anemia. Jika ini terjadi, mungkin Anda akan merasa pusing dan berisiko tidak sadarkan diri. Apalagi air mineral tidak memberikan kalori atau energi dan nutrisi.

Baca juga:  Meski Bermanfaat, Efek Samping Kulit dan Buah Manggis Ini Juga Perlu Diwaspadai!

Diet Jus

Jus segar tidak hanya mengandung air, tetapi juga fruktosa, vitamin, dan antioksidan. Minuman sehat ini termasuk salah satu cara praktis mendapatkan nutrisi penting, terutama bagi Anda yang sulit makan buah dan sayur.

Diet jus dalam jangka pendek memang baik, tetapi tidak jika dalam jangka panjang dan dalam jumlah besar. Diet jus dengan takaran terlalu berlebihan dan rutin dikaitkan dengan sindrom metabolik dan obesitas, karena kandungan fruktosa tinggi.

“Konsumsi jus yang banyak juga telah dikaitkan dengan gagal ginjal bagi mereka yang memiliki masalah ginjal, karena asupan oksalat yang berlebihan,” kata Luk. “Jenis makanan kaya oksalat termasuk bit, bayam, raspberry, buah kiwi dan anggur ungu.”

Clean Eating

Clean eating merupakan diet dengan menghindari makanan olahan dan hanya mengonsumsi produk organik. Sisi positifnya, cara ini dapat membuat tubuh mengelola asupan gula, lemak, garam, dan mineral dengan baik, sehingga mengurangi risiko obesitas.

Selain itu, diet tersebut dikaitkan dengan menurunkan tekanan darah dan mencegah kadar kolesterol tinggi. Namun, efek sampingnya adalah, orang akan mudah terobsesi dengan apa yang mereka konsumsi. Ini bisa berkembang menjadi anoreksia dan orthorexia.

Ilustrasi: clean eating (sumber: limone.id)

Ilustrasi: clean eating (sumber: limone.id)

Diet What I Eat in A Day

Seperti yang kita ketahui banyak influencer membagikan apa yang mereka makan dalam sehari untuk membentuk tubuh yang langsing. Diet hiper-restriktif ini bisa menyebabkan gangguan pada pola makan yang tidak teratur.

Baca juga:  Tangan Tremor? Ini Tips Mudah Mengaplikasikan Riasan Mata

“Rencana makan ini sering dikaitkan dengan kekurangan nutrisi, dan Anda mungkin kehilangan berat badan pada awalnya, tetapi dalam jangka panjang Anda akan merasa sulit untuk mempertahankannya,” kata Luk.

Diet Detox

“Diet detoks jarang mengidentifikasi racun spesifik yang diklaim dapat dihilangkan,” kata Luk. “Selain itu, tubuh manusia dapat membersihkan dirinya sendiri dari sebagian besar racun melalui hati, keringat, urine, dan feses. Tidak perlu menghilangkan makanan untuk mendetoksifikasi sistem kita.”

Menghindari Kelompok Makanan Tertentu

Menghindari karbohidrat dengan mengadopsi gaya diet keto telah disebut-sebut efektif untuk menurunkan berat badan. Namun, Luk mengatakan bahwa hanya hasil jangka pendek yang dipelajari dan hasil ini beragam. Hanya beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang keamanan dan efektivitas diet jangka panjang.

Risiko jangka panjang menghindari biji-bijian dan buah-buahan termasuk kekurangan nutrisi seperti selenium, magnesium, fosfor, serta vitamin B dan C. Anda juga kehilangan serat makanan, yang penting untuk kesehatan usus dan keteraturan usus.

[1] Sazani, Achmad. 2016. Efektivitas Media Nutrizan Diet untuk Meningkatkan Pengetahuan Tentang Diet yang Sehat pada Remaja Putri SMK Jurusan Kecantikan di Kota Tegal. Journal of Health Education Universitas Negeri Semarang, Vol. 1(2): 8-12.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: