Diet Anti Inflamasi, Kurangi Makanan Bersifat Proinflamasi

Ilustrasi: peradangan pergelangan tanganIlustrasi: peradangan pergelangan tangan

Semakin banyak penyakit yang ditemukan, maka semakin banyak pula jenis diet yang dikembangkan. Memang, diet terbilang cukup ampuh untuk membantu proses pemulihan sekaligus menurunkan risiko penyakit. Jenis diet yang terbilang ampuh untuk mengatasi sekaligus mencegah penyakit dengan gejala peradangan adalah diet anti inflamasi dengan mengurangi makanan yang bersifat proinflamasi. Diet ini biasa dilakukan oleh pasien yang mengalami gejala peradangan akut hingga kronis.

Bahaya Diet Proinflamasi dan Manfaat Diet Anti Inflamasi

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai diet anti inflamasi, Anda perlu mengetahui jenis inflamasi secara umum. Dilansir dari Harvard Health Publishing, inflamasi atau peradangan dibedakan menjadi dua jenis, yakni akut dan kronis. Peradangan akut adalah respon perlindungan tubuh terhadap cedera dan infeksi. Sebagai contoh, peradangan akut terjadi ketika jari Anda tidak sengaja terpotong. Tubuh Anda akan mengirimkan sel darah putih di bagian yang terluka. Hal ini membuat jari Anda terlihat bengkak, kemerahan, dan terasa nyeri. Proses ini sangat penting untuk mencegah infeksi, meskipun Anda harus merasa kesakitan dalam waktu yang lama.

Baca juga:  Manfaat & Cara Pakai Masker Naturgo

Sementara, inflamasi kronis lebih parah dan berbahaya dibanding peradangan akut. Ini bisa terjadi saat sel-sel di tubuh mencoba melepaskan diri dari zat berbahaya, seperti racun pada asap rokok. Peningkatan peradangan kronis juga dikaitkan dengan kelebihan lemak di tubuh, terutama di sekitar perut.

Ilustrasi: peradangan/inflamasi persendian (sumber: cancercenter.com)

Ilustrasi: peradangan/inflamasi persendian (sumber: cancercenter.com)

Peradangan kronis rendah tidak berlangsung dalam waktu yang cepat seperti ketika jari Anda terpotong, tetapi efeknya lebih berbahaya dari sekadar nyeri atau berdarah. Inflamasi kronis tingkat rendah bisa merusak pembuluh darah arteri, saraf, dan usus. Pada akhirnya, bisa menyebabkan penyakit seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan gangguan pada usus.

Untuk mencegah sekaligus mengurangi risiko yang disebabkan oleh inflamasi, banyak yang mencoba diet anti inflamasi, yaitu mengonsumsi banyak makanan yang tidak bersifat proinflamasi. Makanan bersifat proinflamasi adalah makanan yang mengandung berbagai macam zat yang mampu meningkatkan level peradangan pada tubuh.

Masih dilansir dari sumber yang sama, ada beberapa komponen yang memengaruhi makanan bersifat proinflamasi, seperti CRP (C-reactive protein), TNF-α (tumor necrosis factor alpha), dan interleukin-6 (IL-6). Dari semua komponen ini, paling sering ditemukan pada makanan adalah interleukin-6 (IL-6).

Baca juga:  Mengapa Anda Harus Selalu Menghapus Makeup Sebelum Tidur?

Interleukin-6 (IL-6) merupakan sitokin proinflamasi yang bersifat pleiotropik dan merupakan pengatur respon fase akut pada Rheumatoid Arthritis (RA).[1] Penyakit ini adalah salah satu jenis penyakit autoimun inflamasi kronis yang terkait di beberapa jaringan organ, khususnya sinovia dan sendi.

Mengurangi jumlah konsumsi makanan dengan komponen tersebut, tampaknya terbukti bisa menurunkan berbagai risiko penyakit kronis dengan gejala inflamasi. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC), yang melibatkan sekitar 200.000 wanita dan pria yang harus mengisi kuesioner frekuensi makanan setiap 4 tahun hingga 32 tahun selama hidupnya.

Ilustrasi: makanan sumber inflamasi (sumber: eatthis.com)

Ilustrasi: makanan sumber inflamasi (sumber: eatthis.com)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi makanan paling proinflamasi memiliki risiko 38% lebih tinggi terkena CVD (penyakit kardiovaskular) dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi diet anti inflamasi. Studi ini juga menunjukkan bahwa diet proinflamasi dikaitkan dengan profil kolesterol yang buruk.

Baca juga:  Rekomendasi Terbaru Produk Skin Care Wardah untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat

Makanan Proinflamasi dan Anti Inflamasi

Untuk menghindari diet proinflamasi selama hidup Anda, Anda harus menjalankan diet antiinflamasi dengan menjaga ketat jenis asupan yang Anda konsumsi. Lalu, apa saja makanan yang termasuk proinflamasi dan anti inflamasi? Asupan yang termasuk proinflamasi, di antaranya daging merah, daging olahan, karbohidrat olahan, roti putih, nasi putih, minuman manis, soft drink, dan minuman berenergi. Sebaiknya Anda tidak sering mengonsumsi makanan dan minuman ini jika ingin menghindari penyakit dengan gejala inflamasi kronis. Lebih baik lagi jika Anda menghindari asupan ini dan menggantinya dengan makanan atau minuman yang bersifat antiinflamasi.

Makanan yang memiliki potensi antiinflamasi, antara lain kangkung, bayam, labu, paprika, gandum, quinoa, roti gandum, buah-buahan, dan oatmeal. Sementara itu, minuman yang bersifat anti inflamasi adalah teh dan kopi. Hampir semua bahan pangan ini mengandung senyawa anti inflamasi tertentu, seperti karotenoid, flavonoid, vitamin, dan serat.

[1] Tania, Putu Oky Ari, dkk. 2014. Kadar Interleukin 6 (Il-6) sebagai Indikator Progresivitas Penyakit Rheumatoid Arthritis (RA). Jurnal Ilmiah Kedokteran, Vol. 3(1): 40-47.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: