Dampak Rasisme pada Anak, Turunkan Kualitas Hidup Mereka

Anak-anak dari beragam latar belakang ras (sumber: kidsandclays.com)Anak-anak dari beragam latar belakang ras (sumber: kidsandclays.com)

Rasisme, meski sering dianggap sepele, tetapi punya dampak negatif yang besar. Di Indonesia, tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak juga terlibat dalam masalah tersebut. Walaupun pada tahap ini tingkat rasisme sudah mulai berkurang, tetap saja masih ada anak-anak di daerah-daerah tertentu mengalami kasus rasisme. Tidak hanya berawal dari iri atau kebencian secara turun-menurun, rasisme juga sering berawal dari perbedaan antar manusia.

Perbedaan Merujuk pada Rasisme

“Rasisme juga dapat menyakiti anak-anak, secara nyata dan mendasar. Tidak hanya menyakiti kesehatan mereka, tetapi juga memengaruhi peluang mereka terhadap kehidupan yang baik dan sukses.” Itulah pesan utama yang disampaikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP). Pesan tersebut disampaikan kepada seluruh masyarakat untuk bertindak lebih dalam permasalahan rasisme saat ini. Jika kita peduli dengan kesehatan dan masa depan semua anak kita, kita perlu mengambil langkah nyata untuk mengakhiri rasisme. Ini juga salah satu tindakan untuk membantu dan mendukung anak-anak yang terkena dampaknya.

Rasisme, merupakan sebuah tindakan ketika seorang individu memberikan nilai kepada orang lain berdasarkan interpretasinya tentang bagaimana ia melihat. Secara biologis, manusia sejatinya memiliki satu ras yang sama. Dalam hal ini, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan berbagi 99,9% gen. Jadi, seharusnya kita tidak peduli dengan apa warna kulit kita atau dari bagian dunia mana kita berasal.

Baca juga:  Resep MPASI Hati Sapi yang Lezat & Variatif untuk Anak

Tetapi, secara historis sebagai manusia, kita menemukan cara untuk tidak hanya mengidentifikasi perbedaan, tetapi juga untuk menindas orang karena perbedaan. Rasisme dapat tumbuh untuk membantu merasionalisasi kolonisasi serta perbudakan saat ini. Terlepas dari kesamaan biologis seorang manusia, mereka terus mencari perbedaan. Dengan adanya perbedaan yang mereka temukan, mereka dapat mengklaim keunggulannya masing-masing.

Ilustrasi: kontroversi gerakan rasisme (sumber: vox.com)

Ilustrasi: kontroversi gerakan rasisme (sumber: vox.com)

Dampak Rasisme terhadap Anak

Rasisme yang tumbuh dan berkembang merupakan sebuah penyakit yang sulit untuk dihilangkan. Rasisme memiliki pengaruh besar terhadap anak-anak, seperti stres kronis. Stres kronis dapat mengarah pada perubahan hormon. Ini juga dapat menyebabkan peradangan pada tubuh seorang anak sebagai tanda gejala penyakit kronis.

Tidak hanya itu, ketika seorang ibu mengalami pengaruh rasisme selama kehamilan, juga dapat memengaruhi anak-anak sebelum mereka dilahirkan. Meskipun ada peningkatan dalam perawatan kesehatan, kesenjangan rasial menyebabkan tingkat kematian bayi tinggi dan tingkat berat lahir rendah pada bayi juga tinggi.

Dampak lain dari rasisme, yaitu banyak anak yang hidup dalam ketakutan konstan. Hal ini juga didasari oleh perbedaan antar keluarga dari sepasang suami istri. Anak-anak minoritas yang dibesarkan dalam lingkungan tidak sehat dan mengalami kesenjangan ekonomi, lebih mungkin untuk tinggal di rumah dengan pengangguran yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih rendah daripada anak-anak yang dibesarkan di lingkungan dengan perekonomian tinggi.

Baca juga:  Perdebatan Mengenai Siapa Yang Lebih Percaya Diri, Pria atau Wanita?

Bahkan, ketika anak-anak minoritas tinggal di daerah yang lebih kaya, penelitian menunjukkan bahwa mereka sering diperlakukan secara berbeda oleh guru. Mereka lebih mungkin dihukum dengan keras karena pelanggaran kecil. Hal ini terjadi karena guru mereka cenderung meremehkan kemampuan mereka, karena perbedaan yang ada.Ketika seorang guru tidak percaya pada mereka, mereka lantas tidak percaya pada diri sendiri.

Tampaknya kasus rasisme tidak hanya terjadi di tanah air saja, bahkan di negara luar pun masih terjadi rasisme. Merujuk Pusat Statistik Pendidikan Nasional mengenai kasus rasisme yang terjadi di Amerika, AAP telah mencatat bahwa pada tahun ajaran 2015-2016, 88% siswa kulit putih lulus dari sekolah menengah. Sebagai perbandingan, hanya 76% orang Afrika-Amerika, 72% orang Indian Amerika, serta 79% orang Hispanik melakukan hal yang sama.

Ilustrasi: perlakuan setara tanpa membedakan ras

Ilustrasi: perlakuan setara tanpa membedakan ras

Telah dicatat pula bahwa kasus rasisme juga merambah ke dunia pendidikan. Orang dewasa dengan gelar sarjana hidup lebih lama dengan tingkat penyakit kronis yang lebih rendah daripada mereka yang tidak lulus dari perguruan tinggi. Tentu, tingginya tingkat penyakit tersebut ada, salah satunya karena tekanan rasisme.

Baca juga:  Ini yang Harus Orang Tua Lakukan Saat Remaja dengan ADHD Mengemudi Mobil

Mengurangi dan Mengubah Tindakan Rasisme

  • Sebagai bagian dari ini, kita perlu memikirkan dan mengubah cara kita berbicara tentang satu sama lain, sebagai individu dan sebagai masyarakat.
  • Kita perlu berbicara ketika kita mendengar atau melihat rasisme atau diskriminasi dalam bentuk apa pun. Memberdayakan diri kita sendiri dan satu sama lain adalah cara yang penting untuk memulai.
  • Kita perlu berbicara dengan anak-anak tentang rasisme, dan mengajari mereka cara yang lebih sehat untuk berpikir tentang diri mereka sendiri terhadap satu sama lain.
  • Kita perlu mendukung program-program mengenai penolakan rasisme. Tidak hanya membantu orang-orang yang miskin atau berjuang, tetapi mengangkat mereka dari kemiskinan.
  • Kita perlu memastikan hukum kita benar-benar melindungi semua orang, bukan hanya beberapa orang.

Dampak rasisme pada anak tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan di masa ini. Trauma yang terjadi akibat rasisme dapat menyebabkan mereka merasa ketakutan hingga dewasa nanti. Tidak hanya itu, seringkali terjadi perubahan tingkah laku pada anak karena rasisme. Anak-anak yang tertekan dampak rasisme juga memiliki siklus hidup tidak lama, dalam hal ini pula mereka menjadi merasa terdiskriminasi.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: