Kesejahteraan Keluarga Menurun, Ini Dampaknya Bagi Anak

Ilustrasi: keluarga kecilIlustrasi: keluarga kecil

Tidak semua keluarga adalah keluarga yang sejahtera atau bahagia. Ini bisa dibuktikan dengan tingginya angka perceraian di Indonesia. Kesejahteraan keluarga yang kian menurun tidak hanya berimbas pada angka perceraian yang makin tinggi, tetapi juga pada perilaku dan kesehatan mental anak-anak.

Penyebab Penurunan Kesejahteraan Keluarga

Anak memiliki posisi dan proposisi strategis dalam kehidupan skala mikro seperti keluarga dan skala makro seperti komunitas. Karena posisi dan potensinya itulah, maka anak harus diberi kesempatan dan jaminan yang memadai untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, jasmani, rohani dan sosialnya.[1]

Faktanya, tidak semua anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami gangguan dalam masa tumbuh kembangnya, salah satunya adalah kesejahteraan keluarga yang menurun. Penurunan tingkat kesejahteraan pada setiap keluarga memang berbeda dan ini didasarkan pada banyak faktor.

Ada keluarga yang mengalami penurunan kesejahteraan akibat penyakit yang mudah menyebar, seperti Covid-19. Dampak penyakit tersebut tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua keluarga. Dilansir dari Harvard Health Publishing, penyakit tersebut sudah menyebabkan banyak kerugian, mulai dari kesehatan fisik hingga secara materi.

Ilustrasi: anak mengurus diri sendiri

Ilustrasi: anak mengurus diri sendiri

Kesehatan fisik yang memburuk dan dialami oleh salah satu anggota keluarga, tentunya akan berdampak pada anggota keluarga lainnya. Jika orang tua yang terkena penyakit tersebut, mau tidak mau anak-anak harus bekerja keras dalam merawat dirinya sendiri. Anak-anak yang tadinya masih kecil, tentu akan tertekan jika mereka harus ditinggal oleh orang tuanya di rumah sakit selama berminggu-minggu. Ini yang membuat anak-anak menjadi stres dan mengalami beban mental.

Baca juga:  Apa Saja Manfaat Kolagen untuk Payudara?

Selain karena penyakit, kesejahteraan keluarga bisa menurun jika mereka mengalami kekurangan ekonomi. Bisa dibilang, ekonomi yang stabil adalah hal paling penting jika Anda ingin memiliki keluarga yang berkecukupan. Tingkat ekonomi rumah tangga yang carut marut, membuat kebutuhan dapur dan kesehatan kurang terpenuhi.

Tidak hanya kebutuhan dapur, bahkan keinginan seperti membeli pakaian baru mungkin tidak bisa terpenuhi. Keinginan yang tak bisa dipenuhi membuat emosi menjadi semakin berantakan, apalagi jika pengeluaran bulanan tidak terkontrol. Inilah yang membuat keluarga menjadi tidak harmonis.

Faktor umum lainnya yang membuat keluarga menjadi kurang harmonis adalah komunikasi yang kurang. Sebagai anggota keluarga yang baik, Anda perlu menjaga komunikasi agar tetap berlangsung. Setiap anggota keluarga juga perlu berkomunikasi untuk mengetahui kondisi anggota keluarga lainnya. Dengan mengetahui kondisi setiap anggota keluarga, mudah bagi Anda untuk memupuk kasih sayang. Sehingga, keharmonisan rumah tangga akan tetap terjaga.

Baca juga:  Resep MPASI Hati Sapi yang Lezat & Variatif untuk Anak

Dengan mengetahui faktor atau penyebab penurunan tingkat kesejahteraan keluarga, Anda bisa mengetahui cara untuk membuat rumah tangga menjadi semakin harmonis. Selain itu, Anda perlu mengetahui dampak kurang harmonisnya rumah tangga bagi anak-anak. Sehingga, Anda bisa mencegah faktor yang bisa membuat rumah tangga berantakan.

Dampak Penurunan Kesejahteraan Keluarga pada Anak

Ilustrasi: anak bersikap murung

Ilustrasi: anak bersikap murung

  • Anak-anak yang mendapati keluarga mereka menjadi berantakan, biasanya cenderung suka murung tidak jelas. Kondisi tersebut adalah kondisi yang wajar, karena anak-anak merasa keluarganya sudah tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk melampiaskan rasa gembira mereka.
  • Kenakalan remaja seperti mabuk, balap liar, dan merokok di tingkat SMP, menjadi kasus yang paling banyak ditemui akibat kondisi keluarga yang kurang sejahtera. Ini karena mereka merasa keluarganya tidak lagi memperhatikan mereka. Sehingga, mereka mencari kegiatan yang terbilang tidak normal untuk usia mereka agar mendapat perhatian lagi.
  • Tingkat kesejahteraan keluarga yang menurun juga membuat anak malas melakukan berbagai macam hal, termasuk belajar. Akibatnya, prestasi mereka akan menurun dan biasanya ini dilakukan agar mereka mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Keluarga yang kurang sejahtera biasanya kurang memperhatikan anak-anak.
  • Anak-anak yang merasa keluarga mereka kurang harmonis atau sejahtera, biasanya suka berkata kasar. Ini mereka lakukan untuk menuntut kesejahteraan keluarga yang mulai berkurang.
  • Kondisi perekonomian yang sulit, bisa membuat anak menjadi mudah marah. Ini karena keinginan mereka kerap tidak bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Dalam hal ini, sebaiknya orang tua memberikan pengertian pada anak mengenai kondisi keuangan keluarga. Cara ini akan membantu anak-anak untuk mengontrol emosi dan keinginannya.
Baca juga:  Perbedaan Usus Bayi yang Lahir Normal dan Operasi Caesar

Itulah beberapa dampak penurunan kesejahteraan keluarga pada anak. Selain itu, anak-anak yang hidup di keluarga yang kurang sejahtera, biasanya berisiko mengalami gangguan mental, seperti stres dan depresi. Ini juga akan berdampak bagi kesehatan fisik mereka, seperti mudah sakit.

[1] Dina, Ekmil Lana. 2018. Penanganan Kasus Anak Korban Perceraian Orang Tua Melalui Parent Child Interaction Therapy di Save The Children Yogyakarta. Welfare: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga, Vol. 7(2): 168-185.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: