Dampak Hidup Berjauhan Dengan Orang Tua Terhadap Anak

anak, orang tua, tinggal, perceraian, pengasuhan, stres, beracun, psikologis, kesehatan, penelitian, depresi, penyakit, respon, tubuh, buruk, komunikasi, janji, pola, asuh, berbeda, hal, dilarang, masalah Gagalnya ikatan pernikahan

Memisahkan dengan orang tua, karena perceraian misalnya, akan membawa dampak yang kurang baik bagi kehidupan ke depannya. Menurut penelitian, yang sering menghadapi kesulitan atau masalah, ataupun masalah yang berkepanjangan tanpa adanya dukungan dari orang dewasa (khususnya orang tua) akan lebih mungkin terkena stres. Stres yang dapat dialami bukan hanya stres yang bisa hilang dalam waktu yang sebentar, tetapi bisa juga disebut stres yang beracun, karena dapat berdampak ke berbagai hal, sebut saja kesehatan badan dan psikologisnya.

stres yang demikian itu tentunya akan dapat mengganggu perkembangan otak yang normal. Tidak hanya mengarah ke masalah emosional, tetapi juga masalah dengan pemikiran dan pembelajaran. Anak-anak yang terpapar stres memiliki risiko lebih tinggi akan mengalami depresi dan melakukan penyalahgunaan zat/-obatan. Selain itu, anak akan lebih berisiko untuk putus sekolah, terlibat dalam perilaku berisiko (misalnya tawuran atau kriminalitas), hingga bunuh diri.

Hal lain yang bisa terkena dampak stres adalah kesehatan. Ketika mendapatkan respon stres fisik, maka akan mengakibatkan seseorang cenderung ingin lari/menghindar, bisa juga melawan. Dan, respons itu lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan pada organ . Anak-anak yang mengalami stres akan memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit seperti jantung, obesitas, diabetes, kanker, stroke, dan penyakit paru-paru, sampai kematian dini.

Semakin awal stres mulai dirasakan oleh anak-anak, maka akan semakin membahayakan. Pada anak-anak di usia muda, stres bisa membuat otak menjadi kurang bisa berkembang. Agar otak dapat berkembang secara normal, anak-anak membutuhkan interaksi berkelanjutan dengan orang dewasa. Ketika interaksi tidak terjadi, secara harfiah dan permanen akan mengubah ‘arsitektur dari otak’, dan perlahan akan mengakibatkan kerusakan otak.

Anak-anak yang tinggal terpisah dari orang tua (khususnya yang terpaksa dipisahkan) bukan hanya mengalami stres karena perpisahan itu. Cara penyembuhannya bukan hanya dibawa ke psikolog misalnya. Tetapi, lebih kepada peran orang tua dalam berkomunikasi dengan anak-anak.

Membawa anak ke pengasuhan atau terpaksa tinggal berjauhan dengan orang tua dapat membawa hal buruk tidak hanya bagi psikologis, tetapi juga ke kesehatan. Bahkan, jika akhirnya orang tua dan anak tinggal satu rumah pun, mungkin saja tidak akan membawa perubahan baik yang signifikan.

anak, orang tua, tinggal, perceraian, pengasuhan, stres, beracun, psikologis, kesehatan, penelitian, depresi, penyakit, respon, tubuh, buruk, komunikasi, janji, pola, asuh, berbeda, hal, dilarang, masalah

Anak merasa kesepian dan sedih

Tetapi, mungkin akan menjadi persoalan lain ketika situasinya orang tua yang akan bekerja ke luar negeri, sehingga harus tinggal berjauhan dengan anak. Jika Anda termasuk dalam kategori itu, ada beberapa cara untuk menyiasati dalam berkomunikasi.

Berpisah dengan anak bukan merupakan hal mudah, dan tentunya memerlukan banyak pertimbangan. Apalagi jika anak masih kecil, pasti membutuhkan sosok orang tua, terlebih ibu. Namun, jika kondisi memaksa hingga tidak ada pilihan lain, Anda sebagai orang tua bisa melakukan beberapa cara berikut.

Hal pertama yang perlu disiapkan sebelum orang tua akan tinggal jauh dengan anak dalam jangka waktu cukup lama adalah anak itu sendiri. Menurut Sukma Rani Moekardjono, seorang psikolog mengatakan bahwa awalnya anak akan memberontak, marah, kecewa karena tidak tinggal serumah dan mempertanyakan mengapa orang tua harus bekerja di tempat yang jauh.

Sukma pun memberi saran kepada orang tua untuk memberi pengertian kepada anak bahwa mereka bekerja demi anak. Berikan penjelasan kepada anak sambil ditenangkan hingga ada perasaan nyaman. Kemudian, cari orang yang bisa dipercaya dalam menitipkan anak. Misalnya saja orang tua, paman, tante, adik, atau kakak. Anda bisa membuat kesepakatan antara kedua belah pihak (Anda sebagai orang tua dengan orang yang dipercaya) tentang pola asuh, dan lakukan komunikasi. Komunikasi yang dijalin bisa melalui telepon (suara), atau bisa juga menggunakan video call.

Komunikasi dianggap berperan penting untuk menjaga kedekatan orang tua dengan anak. Jika kondisinya orang tua akan bekerja berjauhan dengan anak, otomatis anak mengalami proses tumbuh kembang tanpa kehadiran orang tua yang lebih sering. Sehingga, disarankan bagi orang tua untuk tidak bosan menelepon, karena anak akan merasa diperhatikan apabila komunikasi dilakukan sesering mungkin.

Dalam berkomunikasi, harus ada interaksinya. Misalnya, pada saat pagi hari, orang tua mengingatkan anak untuk sekolah, pada saat siang atau sore hari bertanya mengenai kabar pulang sekolah, lalu pada saat malam menanyakan belajarnya, atau hal lainnya.

anak, orang tua, tinggal, perceraian, pengasuhan, stres, beracun, psikologis, kesehatan, penelitian, depresi, penyakit, respon, tubuh, buruk, komunikasi, janji, pola, asuh, berbeda, hal, dilarang, masalah

Terjalin komunikasi antara orang tua dan anak

Selain itu, komunikasi juga perlu dilakukan dengan orang yang Anda percaya. Psikolog Sukma tidak menyarankan untuk asal menitipkan anak dan memberi biaya hidup, tetapi anak tidak dipantau.

Selanjutnya, orang tua sebaiknya menepati janji. Misalnya ketika anak sakit, dan Anda sebagai orang tua berjanji akan menjenguknya. Jika ada jadwal pulang tiap akhir minggu, disarankan untuk menjenguk anak. Kecuali, jika ada hal mendesak yang menjadikan orang tua tidak bisa menepati janjinya.

Saat anak bertanya mengapa orang tuanya tidak bisa sering pulang, sebaiknya orang tua menjelaskan mengenai jarak, atau biaya, atau hal lain yang sekiranya bisa diterima oleh anak. Apabila Anda tidak memiliki waktu untuk menjenguk anak, maka anaklah yang dibawa menjenguk orang tuanya. Intinya, harus ada pertemuan antara anak dan orang tua.

Di samping komunikasi, pola asuh juga perlu diperhatikan. Hal itu dapat didiskusikan dengan orang yang dipercaya untuk dititipi sejak awal. Contohnya pemilihan . Orang tua tidak menyarankan anak untuk mi instan sering-sering. Tetapi, ternyata ketika anak diasuh oleh sanak saudara atau Anda, malah diperbolehkan. Ketika orang tua mengetahui kebiasaan mi instan dan melarang anak mengonsumsi, anak akan membandingkan dengan saudara/keluarga Anda yang tidak pernah melarang mengonsumsi mi instan.

Apabila pola asuh yang berbeda antara orang tua kandung dengan saudara atau keluarga lain dibiarkan, maka bisa jadi memberi jarak antara orang tua kandung dengan anak. Ketika masalah pola asuh yang berbeda terjadi, maka orang tua dapat memberikan penjelasan dengan contoh konkret. Anda bisa mengajak anak untuk mengobrol atau berdiskusi mengenai hal-hal yang dilarang.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: