Awas, Ternyata Daging Putih Sama Bahayanya dengan Daging Merah!

Ilustrasi: daging putih & daging merah (sumber: wsbradio.com)Ilustrasi: daging putih & daging merah (sumber: wsbradio.com)

Sebuah penelitian yang diterbitkan baru-baru ini di American Journal of Clinical Nutrition memicu minat ketika melaporkan bahwa daging merah dan putih memiliki efek yang sama pada kolesterol low-density lipoprotein (LDL), yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Sebelumnya, daging merah selama ini dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan daging putih.

Daging merah, daging putih, atau non-daging?

Studi ini meneliti apakah kadar kolesterol berbeda setelah mengonsumsi makanan tinggi daging merah dibandingkan dengan diet dengan jumlah protein yang sama dari daging putih atau sumber non-daging (kacang-kacangan, biji-bijian, dan produk kedelai). Ini juga mempelajari apakah hasilnya dipengaruhi oleh jumlah lemak jenuh di masing-masing diet.

113 pria dan wanita sehat, berusia 21 hingga 65 tahun, berpartisipasi dalam penelitian ini. Setiap peserta penelitian secara acak ditugaskan untuk diet lemak jenuh tinggi atau rendah. Kemudian, masing-masing selama empat minggu, dan dalam urutan yang berbeda, mengonsumsi protein, baik dari daging merah, daging putih, atau sumber non-daging.

Semua makanan yang dikonsumsi selama penelitian disediakan oleh para peneliti (kecuali sayuran dan buah-buahan, untuk memastikan kesegaran pada saat dikonsumsi). Untuk mengurangi kemungkinan faktor-faktor lain yang akan memengaruhi kadar kolesterol, para partisipan diminta untuk mempertahankan tingkat aktivitas dasar mereka dan menjauhkan diri dari alkohol. Mereka juga disarankan untuk mempertahankan berat badan selama masa studi, dan kalori mereka disesuaikan jika berat badan mereka berubah.

Daging putih memiliki efek yang sama dengan daging merah pada kadar kolesterol

Ilustrasi: daging putih & daging merah

Ilustrasi: daging putih & daging merah

Pengelompokan daging merah dan daging putih ini dilakukan sebab tampilan dagingnya memang berwarna merah untuk daging yang merah, sedangkan daging putih berwarna putih. Namun, warna daging bukanlah patokan mutlak karena dalam kelompok daging putih ada pula ikan yang ketika mentah berwarna putih, tetapi setelah dimasak berubah warna menjadi merah. 

Tampilan warna daging dipengaruhi oleh protein bernama mioglobin yang terdapat di semua otot, termasuk daging. Mioglobin, seperti halnya hemoglobin, adalah protein yang mengikat oksigen. Hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel di seluruh tubuh, sementara mioglobin menyimpan oksigen di dalam sel. Umumnya, kelompok daging merah memiliki mioglobin lebih banyak. 

Secara rata-rata, daging sapi mengandung lebih banyak mioglobin dalam jaringannya, yakni sekitar 8 miligram per gram daging daripada jenis daging lain. Kambing (domba) rata-rata punya 6 miligram dan babi hanya punya 2 miligram. Adapun unggas, mengandung 1-3 miligram mioglobin.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang, kita memang sebaiknya mengonsumsi kedua kelompok daging tersebut. Tidak hanya mengonsumsi satu kelompok daging, karena tiap-tiap kelompok memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat saling melengkapi. Daging putih mempunyai kadar protein lebih tinggi dibandingkan dengan daging merah. Namun, daging merah memiliki kadar lemak jenuh dan kolesterol yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging putih.

Studi ini menemukan bahwa kolesterol LDL secara signifikan lebih tinggi setelah mengonsumsi daging merah dan diet daging putih, dibandingkan dengan diet non-daging. Hasil ini ditemukan terlepas dari apakah diet tinggi atau rendah lemak jenuh, meskipun diet tinggi lemak jenuh memiliki efek berbahaya yang lebih besar pada kadar kolesterol LDL daripada diet rendah lemak jenuh. High-density lipoprotein (HDL, atau kolesterol ‘baik’) tidak terpengaruh oleh sumber protein.

Meski mencolok, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Ukuran penelitian, 113 peserta, dikatakan relatif kecil; durasinya juga pendek (hanya 16 minggu); dan ada tingkat drop out peserta yang relatif tinggi. Penelitian ini juga tidak memasukkan daging olahan seperti sosis, potongan daging dingin, atau daging asap, yang dikenal sangat berbahaya bagi kesehatan jantung, atau daging sapi yang makan rumput, yang sering disebut-sebut sebagai pilihan daging merah yang lebih sehat.

Fokus pada protein nabati

Ilustrasi: sayuran dan buah-buahan (sumber: popsugar.com)

Ilustrasi: sayuran dan buah-buahan (sumber: popsugar.com)

Poin penting yang mungkin hilang dalam percakapan daging merah versus daging putih adalah efek menguntungkan dari sumber protein non-daging pada kadar kolesterol. Seperti yang dinyatakan oleh penulis penelitian, temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya tentang pola makan nabati, lacto-ovo-vegetarian, atau pola makan vegan yang melaporkan konsentrasi kolesterol total, LDL, dan HDL yang secara signifikan lebih rendah daripada diet, termasuk protein hewani.

Tes menunjukkan hasil yang berbeda saat partisipan diminta mengonsumsi tanpa daging. Penelitian mengindikasikan protein nabati memiliki dampak paling sehat pada kolesterol darah. Studi ini menyimpulkan protein non-daging seperti sayuran, susu, dan kacang-kacangan memberikan manfaat yang baik bagi kolesterol.

“Jika Anda memiliki masalah dengan kolesterol atau jika Anda memiliki riwayat keluarga kolesterol atau penyakit jantung, maka yang terbaik adalah mengonsumsi lebih sedikit daging merah dan putih,” kata ahli gizi dari University of Connecticut, Maria Romo-Palafox, dikutip dari CNN. “Kami mengonfirmasi bahwa pola makan nabati cenderung memiliki hasil kesehatan yang lebih baik dan cenderung memiliki dampak lingkungan yang lebih sedikit.”

Romo-Palafox menyarankan untuk mengganti protein dari daging dengan protein nabati seperti kacang-kacangan dan biji-bijian. Tempe dan tahu merupakan salah satu sumber protein nabati yang baik. Sumber nabati ini juga disebut baik untuk kesehatan kardiovaskular. Pedoman Diet 2015-2020 juga mendukung pola makan nabati yang sehat dan maju. Contoh diet nabati termasuk diet Mediterania dan diet vegetarian.

Dalam studi ini, juga mengamati sumber protein nabati, dan diet nabati dapat menyediakan semua protein yang diperlukan untuk kesehatan yang optimal. Berikut adalah jumlah protein yang terkandung dalam berbagai makanan nabati.

Jumlah Protein Makanan Nabati

Ilustrasi: mengolah bahan makanan (sumber: healthline.com)

Ilustrasi: mengolah bahan makanan (sumber: healthline.com)

Jenis Makanan Takaran Penyajian Protein (Gram)Kalori
Lentil ½ gelas 115
Kacang Hitam ½ gelas 8114
Buncis ½ gelas 7135
Kacang Merah ½ gelas 8113
Kacang Polong½ gelas 7112
Kacang Pinto½ gelas 7117
Kedelai ½ gelas 14150
Tahu ½ gelas 10183
Kacang ½ gelas 5-7160-200
Selai Kacang 2 sendok makan 8190
Biji Rami 3 sendok makan5150
Biji Wijen 3 sendok makan5156
Jelai (Mentah)¼ gelas 6160
Bulgur (Mentah)¼ gelas 4120
Jawawut (Mentah)¼ gelas 6190
Biji Gandum (Mentah)¼ gelas 6160

Nah, itulah jenis makanan yang mengandung banyak protein nabati. Kini, Anda bisa memenuhi kebutuhan protein nabati harian dengan memvariasikan konsumsi berbagai jenis makanan berprotein nabati di atas, bukan?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: