Penting untuk Diketahui! Ini Ciri-ciri Obesitas Tingkat 1, 2, 3

Ilustrasi: mengukur lingkar perut (sumber: thehill.com)Ilustrasi: mengukur lingkar perut (sumber: thehill.com)

Orang-orang yang mengalami obesitas biasanya memiliki ciri yang mudah diidentifikasi, yakni dari tampilannya. Kegemukan (obesitas) dapat didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Seseorang bisa dikatakan kelebihan berat badan bila Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih besar atau sama dengan 25.

Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relatif seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, lemak, dan protein. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan energi, dimana konsumsi terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi.[1]

Tingkatan obesitas bisa diukur dengan menggunakan metode Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI). BMI atau Indeks Massa Tubuh bisa diukur menggunakan rumus berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m)2.

Contohnya, jika berat badan 80 kg dan tinggi 1,75 m (175 cm), maka cara perhitungan BMI-nya adalah dengan mengalikan terlebih dahulu tinggi badan dalam kuadrat = 1,75 x 1,75, hasilnya adalah 3,06. Lalu, bagi angka berat badan dengan hasil kuadrat tinggi badan, yakni 80 : 3,06, maka angka BMI adalah 26,1. Dilansir dari Detik, berikut ini kategori hasil pengukuran BMI.

Baca juga:  Ini Cara Deteksi Kesehatan Tubuh dari Kondisi Kuku

Kategori Indeks Massa Tubuh

  • Bila hasil nilai BMI dibawah 19 itu tandanya berat badan Anda dibawah standar atau terlalu kurus.
  • Bila nilai BMI 19 – 24,9 berarti berat badan Anda normal atau ideal.
  • Bila nilai BMI 25-29,9 berarti Anda memiliki berat badan lebih atau tergolong gemuk.
  • Bila nilai BMI sama dengan atau lebih dari 30, maka Anda tergolong obesitas. Kategori obesitas masih dibagi lagi menjadi tiga. Adapun untuk obesitas tingkat 1 memiliki angka BMI antara 30-34,9; kemudian obesitas tingkat 2 nilai BMI antara 35-39,9; dan obesitas tingkat 3 memiliki angka BMI ≥ 40.
Ilustrasi: menimbang badan (sumber: statnews.com)

Ilustrasi: menimbang badan (sumber: statnews.com)

Jennifer L. Kuk, PhD dan rekan penelitian dari Toronto’s York University, Kanada mengembangkan metode Edmonton Obesity Staging System (EOSS) untuk mengaitkan tingkat obesitas dengan risiko kematian akibat penyakit yang diderita. Dengan EOSS, tingkatan obesitas dapat diklasifikasikan sesuai dengan risiko penyakitnya sebagai berikut.

Ciri Obesitas Tingkat 1, 2, 3

  • Level 0, masuk dalam obesitas tingkat I moderat: Tidak ada tanda-tanda obesitas yang terkait faktor risiko penyakit; tidak ada gejala fisik dan psikis; tidak ada keterbatasan fungsi tubuh; dengan kondisi ini tidak ada faktor risiko yang jelas terhadap tekanan darah, lipid serum dan kadar glukosa puasa dalam kisaran normal.
  • Level 1, masuk dalam obesitas tingkat I tinggi: Ada faktor risiko yang terkait dengan hipertensi, kadar gula darah puasa, enzim liver; mulai ada gejala fisik ringan yang dirasakan seperti apnea atau berhenti bernapas saat tidur, sakit kepala; mulai ada gejala psikis ringan yang bisa dirasakan seperti gangguan tersebut mulai memberikan dampak pada kehidupannya.
  • Level 2, masuk dalam obesitas tingkat II: Terkait erat dengan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, apnea atau berhenti bernapas saat tidur, osteoarthritis; timbul gejala psikis seperti depresi, tidak bisa mengontrol makan yang amat berlebihan; aktivitas harian mulai terbatas.
  • Level 3, masuk dalam obesitas tingkat III: Mulai terjadi kerusakan organ-organ karena penyakit gagal jantung, komplikasi diabetes dan masalah osteoartritis yang parah; gejala psikis yang dirasakan sangat signifikan seperti depresi berat dan keinginan untuk bunuh diri; fungsi tubuh makin mengalami keterbatasan yang mengganggu aktivitas rutin sehari-hari; kualitas hidup sangat tidak baik.
  • Level 4, masuk kategori obesitas tingkat III parah: Risiko kematian yang sudah semakin dekat karena kegagalan fungsi organ; fungsi-fungsi tubuh makin terbatas.
Baca juga:  Anda Wajib Tahu! Ini Sederet Manfaat Makan Selada Air untuk Ibu Hamil

Meski IMT atau BMI bisa digunakan untuk mengetahui ideal atau tidaknya berat badan orang dewasa, namun cara ini kabarnya masih belum cukup akurat. Pasalnya, metode ini tak menyertakan usia, jenis kelamin, massa otot, dan lemak otot. BMI juga tak dapat membedakan lemak dengan otot. Oleh sebab itu, untuk mengetahui apakah Anda memiliki kecenderungan obesitas atau tidak, Anda mungkin dapat memeriksakan diri ke dokter atau melakukan medical check-up di fasilitas kesehatan terdekat.

[1]Astuti, Gusti AKRW. 2018. Hubungan Kebiasaan Olahraga, Kebiasaan Mengonsumsi Fast Food Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja Di SMP Bintang Persada Di Denpasar. Skripsi. Denpasar: Poltekkes Denpasar.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: