Penyebab & Ciri-ciri Ketuban Rembes yang Wajib Anda Ketahui

Ibu hamilIbu hamil

Air ketuban merupakan cairan pelindung untuk janin saat ada dalam rahim dan kantung ketuban selama masa kehamilan. Bukan hanya menunjang gerak janin dalam rahim, tetapi air ketuban juga dapat menunjang perkembangan organ janin serta menjaga suhu dalam rahim supaya janin merasa janin. Sayangnya, beberapa wanita hamil bisa saja mengalami air ketuban rembes atau bocor sebelum masa persalinan. Bahkan banyak wanita yang tidak sadar jika ketubannya sudah merembes dan berpotensi membahayakan keselamatan janin dan sang ibu. Oleh sebab itu, Anda perlu memahami seperti apa ciri-ciri ketuban rembes.

Saat menginjak minggu-minggu terakhir masa kehamilan, terkadang air ketuban bisa saja mulai merembes dari jalan lahir walaupun perkiraan lahirnya masih lama. Kondisi seperti ini disebut ketuban pecah dini (KPD). Air ketuban merembes keluar akibat selaput ketuban telah robek. Air ketuban bisa keluar tiba-tiba dengan jumlah bervariasi, atau bisa juga keluarnya hanya seperti rembesan air yang mengalir. Di akhir masa kehamilan, wanita hamil juga sering sulit menahan keluarnya kencing. Sehingga kadang sulit dibedakan air yang keluar air ketuban ataukah urine yang memang tidak bisa ditahan.

Baca juga:  Dengan Warna Merah Menyala, Lipstik Purbasari Nomor 84 Dapat Menjadi Lipstik Favorit Anda

Jika mengalami hal ini, sebaiknya segera Anda bedakan air itu. Air ketuban keluar tidak terasa, warnanya jernih dan tidak berbau. Sedangkan urine kadang sama-sama keluar tanpa disadari, tetapi warnanya kuning tidak jernih dan tentunya berbau (khas). Jika Anda ragu, ada baiknya kontrol ke dokter dan tanyakan. Biasanya dokter akan melakukan tes kertas lakmus, yaitu tes untuk mengidentifikasi air tersebut berasal dari air ketuban ataukah bukan.

Air ketuban normalnya keluar sesaat sebelum terjadi persalinan. Artinya begitu air ketuban sudah keluar atau merembes, seharusnya selang berapa akan disertai timbulnya kontraksi perut dan keluarnya lendir darah sebagai tanda masuk masa persalinan. Namun, jika ketuban sudah merembes, dan tidak disertai kontraksi atau lendir darah, maka hal ini sudah dianggap tidak normal.[1]

Ketuban memiliki banyak fungsi, antara lain mencegah infeksi dalam rahim, mempertahankan suhu dalam rahim, agar janin dapat leluasa bergerak dan mengembangkan alat geraknya (tangan dan kaki), untuk perkembangan saluran cerna dan saluran napas janin. Jika selaput ketuban pecah, risiko yang paling awal dapat terjadi adalah risiko infeksi.

Ilustrasi: persiapan persalinan (sumber: honestdocs.id)

Ilustrasi: persiapan persalinan (sumber: honestdocs.id)

Di beberapa pusat kesehatan, terutama yang memiliki fasilitas perawatan intensif untuk bayi baru lahir (Neonatal Intensive Care Unit – NICU), jika terjadi ketuban pecah dini walau usia kehamilan belum cukup bulan, disarankan untuk dilakukan persalinan mengingat segala risiko yang dihadapi jika janin dibiarkan tetap dalam rahim dengan kondisi ketuban yang sedikit dan selaput yang sudah pecah.[2]

Baca juga:  Cara Mengetahui Usia Kehamilan Anda dan Metode Perhitungannya

Faktor Risiko Penyebab Air Ketuban Rembes

Dilansir dari Alodokter, apabila air ketuban merembes menjelang persalinan atau terjadi ketika usia kehamilan sudah cukup bulan, maka hal ini adalah hal yang normal. Tetapi jika air ketuban merembes keluar sebelum waktunya (di bawah usia kehamilan 37 minggu) dan tidak disertai adanya tanda-tanda persalinan, maka hal tersebut perlu diwaspadai. Berikut ini beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko ibu hamil mengalami air ketuban rembes terlalu awal:

  • Pernah menjalani tindakan medis atau operasi pada leher rahim.
  • Mengandung anak kembar.
  • Pernah melahirkan prematur pada persalinan sebelumnya.
  • Menderita infeksi, seperti infeksi seksual menular dan infeksi saluran kemih.
  • Memiliki kelainan bentuk rahim atau leher rahim pendek.
  • Perdarahan vagina di trimester kedua dan ketiga.

Selain sejumlah faktor yang telah disebutkan di atas, wanita hamil juga berisiko untuk mengalami ketuban rembes atau bocor apabila menjalani gaya hidup yang tidak sehat, seperti mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, jarang mengonsumsi makanan bergizi, serta jarang berolahraga. Oleh sebab itu, pastikan Anda mulai menjalani pola hidup sehat dari sekarang dan rajin berkonsultasi dengan dokter apabila merasa ada hal-hal yang kurang nyaman dengan kehamilan Anda.

Baca juga:  Penyebab dan Pengobatan Penyakit Herpes Genital

[1] Rahmatullah, I dkk. 2019. Menjalani Kehamilan & Persalinan yang Sehat. Murbawono S, editor. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

[2] Purnama, DI. 2014. 100+ Hal yang Wajib Diketahui Bumil: Tanya Jawab Seputar Kehamilan Dan Persalinan. Maruti IA dkk, editor. Jakarta: Kawan Pustaka.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: