Bagaimana Cara Mengenali Anak Terkena Trauma (PTSD)?

Ilustrasi: anak trauma (sumber: psychcentral.com)Ilustrasi: anak trauma (sumber: psychcentral.com)

Trauma tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Trauma atau  post-traumatic stress disorder (PTSD) pada anak tidak sama dengan orang dewasa karena mereka lebih sensitif dan rapuh. Untuk mengetahui apakah anak Anda mengalami PTSD atau tidak, Anda perlu mengenal gejala-gejalanya.

Penyebab dan Gejala PTSD Anak

Dilansir dari HuffPost, PTSD bisa dialami oleh anak-anak karena stres akibat suatu hal, di antaranya ketakutan karena penyakit seperti COVID-19, cemas akibat orang tua yang kehilangan pekerjaan, keluarga yang berantakan, dan masih banyak lagi. Beberapa anak juga mengidap PTSD akibat kehilangan orang yang mereka cintai, seperti orang tua, saudara, dan teman. Rasa khawatir, cemas, dan sedih yang tinggi akibat faktor-faktor tersebut, membuat tingkat stres dan depresi anak meningkat. Ini menyebabkan reaksi psikologis yang membuat mereka lemah secara mental.

Meskipun secara umum PTSD diakibatkan stres dan depresi, gejala dan emosi yang timbul berbeda dengan stres dan depresi biasa. Anak-anak dengan riwayat PTSD akan meluapkan emosinya secara sesaat dalam skala besar hanya terkait dengan peristiwa yang pernah mereka alami. Peristiwa tersebut adalah peristiwa terburuk yang pernah ada dalam hidup mereka. Sebagai contoh, ketika Anda menceritakan masa lalu anak tersebut atau ketika ada orang bertanya seputar peristiwa mengerikan yang anak-anak pernah alami, maka secara tidak sadar, mereka dengan PTSD akan memperlihatkan gejalanya.

Baca juga:  Yang Bisa Orang Tua Lakukan Untuk Membantu Anak Meraih Sukses

Gejala PTSD pada anak antara lain mengalami tekanan berulang mengenai peristiwa buruk yang pernah dialami, selalu mimpi buruk yang berkaitan dengan peristiwa tertentu, mengulang kembali reaksi saat peristiwa itu terjadi, suka ketakutan tidak jelas, berteriak dan menangis, menghindari hal-hal kecil terkait peristiwa buruk yang pernah ia alami, sulit berkonsentrasi, dan mudah terkejut.[1] Selain itu, anak-anak yang memiliki gangguan PTSD juga akan mengalami gangguan ingatan, perubahan suasana hati, emosional, reaksi fisik, dan pendengaran, setidaknya selama satu bulan setelah peristiwa berlangsung.

Sebagai orang tua, tentu Anda akan dibuat cemas dengan gejala PTSD yang tiba-tiba muncul pada anak. Anak-anak dengan PTSD jika dibiarkan begitu saja, juga akan berakibat fatal. Ini karena PTSD yang semakin parah bisa berisiko terhadap gangguan mental atau psikologis lainnya, seperti gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua selama anak menderita PTSD?

Baca juga:  Ide Sederhana dan Menyenangkan Berolahraga Bersama Keluarga
Ilustrasi: anak mengalami trauma (sumber: sina.com)

Ilustrasi: anak mengalami trauma (sumber: sina.com)

Tips Ketika Anak Menderita PTSD

  • Orang tua bisa mencoba membuka pikiran anak untuk membuat mereka menjadi lega. Caranya, Anda bisa menanyakan apa yang anak Anda pikirkan tentang peristiwa yang sudah berlalu.
  • Jangan menekan anak untuk menceritakan peristiwa yang menakuti mereka. Biarkan anak-anak bercerita dengan sendirinya. Ini akan membuat mereka merasa lega dan lebih berani menghadapi peristiwa masa lalunya.
  • Gunakan simbol atau gambar untuk sekadar curhat dengan anak mengenai peristiwa menakutkan yang membuat gejala PTSD sering kambuh. Cara ini ampuh untuk memotivasi mereka agar tidak takut dan meredakan gejala PTSD.
  • Ciptakan rasa aman pada diri anak dengan cara selalu menemani mereka di waktu-waktu tertentu. Selain itu, Anda juga bisa menekankan pada mereka bahwa Anda akan selalu melindungi mereka dari apa saja.
  • Berikan kasih sayang lebih pada anak dengan sering memeluknya. Ini akan memotivasi mereka untuk kembali bangkit dari rasa stres dan trauma.
  • Ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan di rumah. Anda hanya perlu mengajak anak-anak untuk bermain atau sekadar mengobrol santai. Selain itu, Anda juga bisa mengajak anak-anak berlibur dan refreshing. Cara ini akan membuat mereka melupakan peristiwa buruk yang pernah mereka alami.
Baca juga:  Dampak Buruk Screen Time Berlebih pada Anak

Jika anak Anda masih saja mengalami gejala PTSD dalam waktu yang cukup lama, sebaiknya Anda segera mendaftarkannya ke psikiater anak. Untuk mengobati PTSD ringan, biasanya dokter akan menyarankan terapi kognitif, terapi eksposur, dan EMDR (eye movement desensitization and reprocessing).

Dilansir dari Alodokter, dokter juga akan memberikan obat-obatan untuk penderita PTSD jika gejalanya terlalu berisiko. Obat antidepresan akan diberikan pada pasien dengan dosis tertentu untuk mengatasi depresi, seperti sertraline dan paroxetine. Ada juga obat anti-cemas untuk mengatasi kecemasan dan prazosin untuk mencegah mimpi buruk.

[1] Nawangsih, Endah. 2014. Play Therapy untuk Anak-Anak Korban Bencana Alam yang Mengalami Trauma (Post Traumatic Stress Disorder/PTSD). Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi Universitas Islam Bandung, Vol. 1(2): 164-178.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: