Bagaimana Cara Menyampaikan Pandemi Global pada Generasi Muda?

Ilustrasi: data paparan COVID-19 (Markus Spiske via pexels)Ilustrasi: data paparan COVID-19 (Markus Spiske via pexels)

Di awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya wabah coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan disebut dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19).[1] Hal ini membuat WHO (World Health Organization) menetapkan tanggal 11 Maret menjadi hari peringatan pandemi global di tahun 2020 lalu. Tentunya, ini bisa menjadi salah satu peristiwa penting, terutama bagi orang dewasa yang mengalaminya. Lalu, bagaimana caranya menceritakan peristiwa tersebut kepada generasi muda?

Setelah WHO melaporkan bahwa 11 Maret 2020 menjadi hari peringatan pandemi global, banyak yang menandainya, termasuk orang dewasa. Mereka ingin menyimpan tanggal ini sebagai kenangan untuk diceritakan kepada generasi selanjutnya. Tonggak sejarah ini memang perlu disampaikan secara turun-temurun, supaya generasi selanjutnya bisa lebih mengantisipasi jika terjadi pandemi lagi.

Sebagai orang dewasa, tak jarang akan menandai hari atau waktu tertentu pada kalender mereka. Dilansir dari Harvard Health Publishing, siapa pun yang telah mencapai usia dewasa, telah mengumpulkan hari penting sepanjang kehidupannya. Ada hari peringatan untuk momen yang menyenangkan dan ada hari peringatan untuk mengingat masa yang menyakitkan atau kehilangan. Sementara itu, sebagian besar orang memperingati hari pandemi sebagai hari yang menyakitkan.

Baca juga:  Tips Keluarga Lebih Harmonis dan Bahagia

Banyak orang tua yang tidak bisa melihat atau berinteraksi dengan anak mereka seperti biasa ketika pandemi, apalagi kita diharuskan saling menjaga jarak dan beberapa ada yang melakukan social distancing dengan cara menutup diri di rumah. Bagi keluarga yang terpisah atau berbeda rumah dengan anak-anaknya, tentunya ini menjadi salah satu momen yang menyedihkan.

Para orang tua yang biasanya ditemani anak-anaknya ketika akhir pekan, harus rela kehilangan momen ini dan menyebabkan stres, gejala cemas, gangguan emosi, frustrasi, hingga mengalami kemunduran kreativitas. Hal ini mungkin tidak terlalu berpengaruh pada anak muda yang melek teknologi, karena bisa bermain Zoom, game online, dan video call dengan teman-temannya. Sementara itu, tidak semua orang yang lebih tua bisa menggunakan fasilitas canggih seperti ini, bahkan di antaranya masih ada yang gaptek dan tidak bisa menekan tombol gadget.

Ilustrasi: ibu memakaikan masker kepada anak (August de Richelieu via pexels)

Ilustrasi: ibu memakaikan masker kepada anak (August de Richelieu via pexels)

Masih dari sumber yang sama, peristiwa pandemi global bisa menjadi salah satu momen yang penting jika dimanfaatkan dengan baik dan salah satunya adalah menandai tanggal ini bersama anak. Mungkin tidak semua orang tua bisa melakukannya, sehingga diperlukan berbagai persiapan yang tepat.

Baca juga:  Waspada, Ini Kebiasaan Ortu yang Bisa Bikin Anak Malu dan Menjauh

Menandai kalender bersama orang yang disayangi, bisa membantu Anda untuk memahami apa yang telah dialami selama pandemi. Supaya lebih memorable, Anda perlu mengajukan pertanyaan sederhana kepada anak Anda. Selain itu, sebagai orang tua, Anda juga perlu mencurahkan semua yang Anda rasakan selama pandemi, tentunya dengan cara penyampaian yang tepat. Sebagai tips, Anda bisa melihat rincian berikut.

Tips Menyampaikan Peristiwa Pandemi

  • Jika Anda memiliki anak yang masih berusia tiga hingga tujuh tahun, sebaiknya carilah cara yang lebih sederhana untuk menyampaikan peristiwa kelam. Anak-anak seperti ini biasanya belum bisa mengerti tentang kehilangan momen-momen berharga. Mereka hanya tahu sesuatu yang sederhana, seperti hari yang menyenangkan karena mendapat makanan kesukaannya atau hari yang menyedihkan karena tidak mendapat uang jajan.
  • Anak yang lebih tua dengan usia tujuh hingga 12 tahun atau yang sudah berada di SD, tentunya sudah memiliki pemikiran yang lebih kompleks dibandingkan balita. Anda bisa mengajak mereka untuk mengobrolkan peristiwa pandemi dengan lebih mendalam. Anda juga bisa mengajak mereka untuk mengingat kembali tentang kebiasaan yang tidak Anda lakukan selama pandemi.
  • Bagi Anda yang memiliki anak berusia remaja atau berusia 13 tahun ke atas, tampaknya Anda boleh cukup merasa senang. Anak remaja terkadang memiliki pemikiran yang lebih kreatif, bahkan mereka bisa mengubah hari-hari Anda menjadi lebih menyenangkan saat pandemi. Selain itu, mereka akan berusaha memahami apa yang Anda sampaikan.
Baca juga:  Kesejahteraan Keluarga Menurun, Ini Dampaknya Bagi Anak

Dengan menerapkan tips di atas, tentunya hubungan antara orang tua dan anak bisa kembali membaik. Hal ini juga membuat para orang tua menjadi tidak mudah stres dan merasa kehilangan. Selain itu, momen berharga seperti ini bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan keharmonisan keluarga.

[1] Yuliana. 2020. Coronavirus Diseases (Covid-19); Sebuah Tinjauan Literatur. Wellness and Health Magazine Universitas Lampung, Vol. 2(1): 187-192.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: