Jangan Sampai Salah, Begini Cara Memakai Salep Mata untuk Bayi

Ilustrasi: mengoleskan salep mata pada bayi (sumber: verywellfamily.com) Ilustrasi: mengoleskan salep mata pada bayi (sumber: verywellfamily.com)

Bayi yang baru lahir biasanya akan terpisah sejenak dari sang ibu untuk mendapatkan perawatan setelah kelahiran, mulai dari dimandikan hingga menjalani sederet pemeriksaan oleh dokter. Salah satu yang diperiksa adalah organ mata sang buah hati. Untuk mencegah infeksi mata pada bayi, biasanya juga akan diaplikasikan salep mata khusus. Cara memakai salep mata ini memang tidak boleh sembarangan agar tidak melukai sang bayi.

Lantas, apa sebenarnya fungsi salep mata untuk bayi tersebut? Sebagian ibu mungkin mengalami infeksi kencing nanah dalam tubuhnya selama masa kelahiran. Infeksi tersebut disebabkan oleh bakteri menular seksual yang menginfeksi perempuan dan laki-laki. Sebagian besar infeksi bisa memengaruhi rektum, uretra, atau tenggorokan. Bagi perempuan, infeksi tersebut mungkin juga dapat berdampak pada organ serviks.

Oleh sebab itu, wanita melahirkan yang membawa bakteri ini kemungkinan bisa menularkan bakteri pada bayinya selama proses persalinan. Infeksi mata pada bayi baru lahir yang disebabkan oleh bakteri itu disebut ophthalmia neonatorum.

Umumnya bayi baru lahir hanya menerima sedikit obat-obatan pada waktu setelah dilahirkan. Obat-obat yang secara rutin diberikan kepada bayi baru lahir adalah salep mata eritromisin, untuk mencegah terjadinya infeksi mata (secara legal diperlukan di Amerika Serikat) dan vitamin K1 untuk mencegah penyakit perdarahan. Selain itu, suatu disinfektan biasanya dioleskan pada daerah umbilikus selama beberapa jam pertama setelah dilahirkan.[1]

Baca juga:  Anak Anda Susah Minum Air Putih? Pahami Penyebab dan Solusinya!

Salep atau tetes mata untuk pencegahan infeksi mata diberikan segera setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu, sebaiknya 1 jam setelah lahir. Pencegahan infeksi mata dianjurkan menggunakan salep mata antibiotik tetrasiklin 1%.[2]

Praktik pemakaian salep mata untuk bayi baru lahir ini kabarnya sudah ada sejak tahun 1800-an. Di sebagian besar negara Amerika Serikat, penggunaan eritromisin telah diatur oleh undang-undang negara bagian. Akan tetapi, beberapa dokter biasanya mengikuti kebijakan rumah sakit atau pribadi mereka. Berdasarkan Satuan Tugas Layanan Pencegahan AS, pengobatan dengan salep mata untuk bayi ini harus diberikan dalam waktu 24 jam setelah kelahiran. Nah, dilansir dari Alodokter, berikut cara pakai salep mata untuk bayi.

Cara Memakai Salep Mata untuk Bayi

Ilustrasi: mengoleskan salep mata pada bayi (sumber: pampers.co.uk)

Ilustrasi: mengoleskan salep mata pada bayi (sumber: pampers.co.uk)

  1. Cuci tangan terlebih dahulu.
  2. Buka tutup salep mata namun jangan sentuh bagian atas salep.
  3. Upayakan anak berada dalam keadaan yang stabil dan tidak banyak gerakan.
  4. Bantu tarik kelopak mata bawah anak dan buat cekungan dengan satu tangan.
  5. Posisikan ujung salep mata sedekat mungkin dengan mata anak dengan tangan lainnya.
  6. Kemudian tekan tube dengan lembut dan oleskan salep dari ujung dalam kelopak hingga kearah luar.
  7. Bersihkan sisa salep yang tersisa menempel diluar mata dan juga yang menempel pada tube salep dengan tisu atau lap bersih.
  8. Pejamkan mata anak, dan biarkan menyerap untuk 30 detik-1 menit.
  9. Lakukan beberapa kali dalam sehari sesuai dengan anjuran dokter.
Baca juga:  Resep Cara Membuat Tepung Kacang Hijau untuk MPASI

Bagaimana? Cukup mudah bukan cara pemakaian salep mata untuk bayi? Sebaiknya kunjungi dokter secara berkala untuk mendapat kontrol evaluasi hingga anak pulih dari keluhan yang dideritanya. Pemakaian salep mata pada bayi atau anak-anak mungkin dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti berikut.

Efek Samping Salep Mata Bayi

  • Pengobatan antibiotik untuk bayi baru lahir dengan konjungtivis klamidia mungkin menimbulkan efek samping yang ringan, seperti eritema dan edema kelopak mata setelah penggunaan eritromisin.
  • Iritasi kelopak mata atau konjungtivis kimiawi apabila cara perawatan mata tidak tepat.
  • Reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam kulit, pembengkakan pada bibir, wajah, atau lidah.
  • Bayi mungkin mengalami penglihatan kabur setelah penggunaan eritromisin.

Sebelum memutuskan untuk memberi obat apapun pada bayi atau anak Anda, khususnya antibiotik, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar memperoleh penanganan yang tepat.

Baca juga:  Pond’s Age Miracle Day Cream, Rangkaian Perawatan Kulit Yang Juga Cocok Untuk Kulit Berminyak

[1] Kee, JL & Evelyn RH. 1994. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. Terjemahan oleh: Peter A. Yasmin A, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, hlm 651.

[2] Noordiati. 2018. Asuhan Kebidanan, Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak Pra Sekolah. Malang: Wineka Media, hlm 23.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*