Jatuh ‘Belum 5 Menit’, Benarkah Makanan Masih Aman Dikonsumsi?

Ilustrasi: makanan jatuh ke lantai (sumber: netdoctor.co.uk)Ilustrasi: makanan jatuh ke lantai (sumber: netdoctor.co.uk)

Kebersihan atau hygiene pada makanan sangat berpengaruh pada keamanan makanan untuk dikonsumsi dan rendahnya kebersihan bisa mengakibatkan diare.[1] Sementara itu, rupanya masih banyak orang awam yang menerapkan aturan ‘belum 5 menit’ pada makanan yang jatuh, yang menurut mereka makanan masih aman dimakan.

Asal Aturan ‘Belum 5 Menit’

Dilansir dari HuffPost, takhayul ‘belum 5 menit’ pada makanan mungkin setua Genghis Khan, tetapi apakah ini bisa dipercayai? Tentunya dibutuhkan penelitian untuk membuktikannya. Sebelumnya, aturan ini tercipta bukan hanya sekadar sebagai standar keamanan makanan terhadap hygiene, tetapi juga rasa tidak tega untuk membuang makanan, terutama yang enak dan digemari.

Seseorang yang menjatuhkan biskuit kesukaannya atau sepotong pizza yang lezat dan mahal, pastinya akan merasa kecewa. Nah, untuk mengobati kekecewaannya, tak jarang mereka akan menggunakan aturan lima menit tersebut.

Profesor Departemen Ilmu Pangan di Universitas Rutgers, Don Schaffner, mengatakan, dirinya tidak terlalu suka untuk memberitahu apakah mitos bisa relate dengan kenyataan. Namun, perlu diketahui, ketika Anda menjatuhkan makanan ke tanah, ini menyebabkan kuman dan bakteri di tanah tertransfer ke makanan. Jika Anda bersikukuh memakannya, dikhawatirkan Anda bisa sakit.

Ilustrasi: konsumsi makanan (pexels: Andrea Piacquadio)

Ilustrasi: konsumsi makanan (pexels: Andrea Piacquadio)

Pendapat Don memang ada benarnya, tetapi itu belum terbukti secara ilmiah. Kebenaran apakah aturan lima detik pada makanan yang jatuh sangatlah kompleks. Pasalnya, para ahli mengatakan bahwa ini tergantung pada variabel, termasuk jenis makanan, kondisi lantai, dan jenis lantai yang berpotensi mengontaminasi makanan.

Baca juga:  Terapi Hormon Adjuvant, Mampukah Atasi Kanker Prostat?

Tidak ada yang yakin kapan munculnya aturan lima detik itu berasal, tetapi sering dikaitkan dengan penguasa Mongolia abad ke-13, Genghis Khan. Profesor di Clemson University’s Food, Paul Dawson, menjelaskan, pada masa tersebut, terdapat aturan bahwa makanan yang ada di lantai jika itu baik untuk Genghis Khan, maka baik untuk semua orang.

Namun, orang-orang pada zaman itu tidak memiliki pengetahuan tentang mikroorganisme dan bagaimana makanan dapat menyebabkan penyakit, sehingga memakan makanan di lantai mungkin bukan masalah besar. Mitos juga datang dari Julia Child yang menjatuhkan sepotong daging dan mengambilnya, lalu mengatakan bahwa jika Anda sendirian di dapur, tidak ada yang akan melihat jika Anda menjatuhkan makanan. Namun, menurut Dawson, cerita itu tidak benar.

Apa yang Terjadi Jika Makanan Jatuh ke Lantai?

Dalam sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan Journal of Applied Microbiology, Dawson dan peneliti lain memeriksa apakah lama waktu makanan bersentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi memengaruhi perpindahan bakteri ke makanan. Mereka menguji tiga jenis lantai, yakni ubin, kayu dan karpet yang terkontaminasi salmonella, serta dua jenis makanan, seperti bologna dan roti.

Baca juga:  Sekaleng Soda Bisa Atasi Batu Lambung, Ini Penjelasannya

Studi menemukan, karpet menyimpan lebih banyak bakteri lebih lama daripada jenis lantai lainnya, tetapi tidak mentransfer bakteri sebanyak jenis ubin lainnya ke makanan. Karena, permukaan karpet yang keropos memungkinkan bakteri untuk meresap dan tidak terlalu banyak berdiri di permukaan.

Ilustrasi: memungut makanan jatuh di lantai (sumber: nytimes.com)

Ilustrasi: memungut makanan jatuh di lantai (sumber: nytimes.com)

Pada tahun 2016, Schaffner ikut menulis sebuah penelitian yang diterbitkan the Applied and Environmental Microbiology Journal. Studi ini menguji semangka, roti, roti mentega, dan permen karet yang dijatuhkan pada permukaan baja tahan karat, ubin, kayu, dan karpet yang terkontaminasi selama kurang dari satu detik, lima detik, 30 detik, dan 300 detik.

Penelitian mengungkapkan, bakteri paling banyak berpindah ke semangka dan paling sedikit ke permen karet. Paparan yang lebih lama adalah faktor utama, tetapi kontaminasi bisa terjadi sangat cepat dalam sepersekian detik. Eksperimen ini membuktikan bahwa dalam setiap kondisi, tidak peduli apa jenis lantainya, makanan yang jatuh akan terpapar bakteri, sehingga tidak ada waktu yang aman untuk mengonsumsi makanan yang jatuh.

Baca juga:  Resep Rawon Ayam Sederhana yang Bisa Anda Coba Masak Sendiri di Rumah

Sementara waktu jatuhnya makanan sangat berpengaruh, ternyata jenis makanan juga penting. Schaffner mengatakan, jenis makanan yang memengaruhi kelembapannya sangat menentukan jumlah bakteri yang berpindah. Semangka adalah objek dengan jumlah bakteri sangat tinggi ketika dijatuhkan daripada jenis makanan lainnya. Makanan yang lembap, apalagi berkuah, akan mempermudah pergerakan bakteri dari permukaan lantai ke makanan. Bakteri tidak memiliki kaki, sehingga membutuhkan media untuk bergerak dan media yang paling menguntungkan bagi mereka adalah air.

Meskipun makanan yang bersifat kering, seperti roti dan permen karet, terkontaminasi lebih sedikit bakteri dibandingkan semangka, bukan berarti itu aman dikonsumsi. Jumlah bakteri yang ada pada permen karet dan roti kering terbilang cukup untuk membuat Anda sakit, terutama diare, sehingga setop untuk mengonsumsi makanan yang jatuh, meskipun belum lima menit.

[1] Hutasoit, Dion Pardamean. 2020. Pengaruh Sanitasi Makanan dan Kontaminasi Bakteri Escherichia coli terhadap Penyakit Diare. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Universitas Lampung, Vol. 9(2): 779-786.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: