Beberapa Mitos Dalam Belanja Produk Organik

bahan, organik, mitos, sehat, makanan, bebas, pestisida, enak, rasa, nilai, gizi, penelitian, konvensional, aman, lebih, ramah, lingkungan, nutrisi, bakteri, kadar, waktu, penyakit, bersih, melon, selada, tomat, bayam Berbelanja bahan makanan segar

Kebiasaan mengonsumsi makanan organik dirasa mulai meningkat seiring dengan kesadaran akan betapa pentingnya faktor makanan bagi kesehatan. Sebagian masyarakat bahkan rela mengeluarkan bujet lebih besar demi mendapat buah-buahan atau sayuran organik dengan harga yang relatif lebih mahal ketimbang jenis biasa.

Mengonsumsi makanan organik secara konsisten diyakini dapat menjadi upaya mempertahankan diri dari ancaman beragam penyakit. Makanan organik dinilai sehat karena pada saat proses penanaman sampai panen tidak mengalami proses kimiawi atau menggunakan bahan sintetik, seperti pestisida, herbisida, pupuk dengan kandungan kimia, penyuntikan hormon atau antibiotik, serta prosesnya tanpa radiasi ionisasi maupun pemodifikasian genetik. Karena itu, proses yang natural tersebut aman untuk dikonsumsi oleh tubuh.

Meskipun menyehatkan, sebenarnya tak semua makanan organik menguntungkan. Ada beberapa mitos seputar makanan organik yang harus diluruskan. Dengan memahaminya, Anda dapat menggunakan makanan organik dengan tepat.

Organik selalu aman dan baik bagi lingkungan?

Organik biasanya ditanam di tanah yang tidak terkontaminasi kandungan kimia atau disiram dengan pestisida dan jenis zat kimia lain seperti halnya lahan pertanian biasa. Namun, sejak lahan pertanian organik hanya memproduksi setengah dari produksi pertanian konvensional, penanaman organik menjadi memboroskan lahan dalam penanaman buah dan sayuran. Dennis Avery dari Hudson Institute’s Center for Global Food Issues memperkirakan pertanian sistem modern menghemat hingga 15 juta meter persegi pembukaan hutan dan habitat binatang liar. Jika seluruh dunia harus memilih penanaman organik, setidaknya harus mengorbankan hutan hingga 10 juta mil persegi.

Baca juga:  Kandungan Active Thymo-T Essence Pada Pond’s, Dipercaya Sebagai Penghilang Jerawat

Organik lebih banyak mengandung nutrisi?

bahan, organik, mitos, sehat, makanan, bebas, pestisida, enak, rasa, nilai, gizi, penelitian, konvensional, aman, lebih, ramah, lingkungan, nutrisi, bakteri, kadar, waktu, penyakit, bersih, melon, selada, tomat, bayam

Bahan makanan organik dipercaya mengandung lebih banyak nutrisi

Berbagai studi mengenai makanan organik memberikan hasil yang kurang konsisten. Ada yang menyebut kandungan vitamin C dalam tomat organik lebih banyak ketimbang tomat biasa. Ada pula penelitian yang mengungkapkan terdapat kadar anti-kanker flavonoids pada jagung dan stroberi organik. Namun riset lainnya menyebutkan bahwa makanan organik tidak memiliki keunggulan lebih dalam hal kandungan nutrisi. Perbedaan mencolok dalam hal kandungan nutrisinya adalah berapa lama ditanam dan disimpan di rak makanan. Bayam misalnya, bisa kehilangan setengah dari kadar foliatnya dalam selang waktu sepekan.

Organik lebih enak rasanya?

Tak ada yang bisa mengungkapkan mengenai perbandingan rasa, kecuali dalam sebuah penelitian tentang apel, di mana yang jenis organik memang lebih unggul. Untuk memperoleh raspberries yang rasanya lebih alami atau asam-manis, Anda harus membelinya di tempat buah itu ditanam, pada musimnya dan tidak disimpan dalam jangka waktu lama.  Kenyataannya, buah atau sayuran tidak lagi dalam kondisi terbaiknya bila sudah melewati penerbangan yang lama. Belum lagi bila harus tersimpan selama seminggu di pasar atau toko.

Tidak perlu dicuci terlalu bersih seperti makanan biasa

Seluruh produk organik, apakah dibeli dari toko grosir atau petani lokal di dekat rumah Anda, tetap rawan akan kontaminasi bakteri seperti E. coli. Tanah dan sumber pengairan yang terkontaminasi E. coli bisa menempel dan masuk dalam buah atau sayur. Melon, selada, tauge, tomat, bayam, daun bawang, bisa tercemar ketika mereka tumbuh dan dekat dengan tanah.  Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan mencuci semua produk dengan air yang mengalir.

Baca juga:  Berfungsi Samarkan Mata Panda, Harga Enfuselle Eye Treatment Shaklee Rp190 Ribuan

Memakai produk organik sama dengan membantu petani kecil atau perusahaan menjadi ramah lingkungan

Perusahaan-perusahaan raksasa di AS justru berbisnis di sektor organik. General Mills memiliki Cascadian Farms, Kraft berada di belakang Back to Nature dan Boca Burger. Kellogg’s memiliki Morningstar Farms. Tingginya permintaan masyarakat, membuat perusahaan-perusahaan ini mengimpor bahan-bahan organik semurah mungkin dari negara lain. Meski nilai penjualan produk makanan organik di AS melonjak hingga miliaran dollar AS, ironisnya hanya sekitar 16 persen saja yang ditanam di lahan lokal. Dengan CO2 yang dihasilkan dari transportasi, keramahan produk organik bagi lingkungan menjadi dipertanyakan.

Organik lebih sehat untuk Anda?

Makanan organik tidak lagi menyehatkan bila bentuknya sudah menjadi keripik organik, soda organik atau kue organik. Gula dari tebu organik juga tetaplah gula, keripik dari kentang organik juga tetaplah digoreng.

Makanan organik lebih aman karena bebas pestisida

bahan, organik, mitos, sehat, makanan, bebas, pestisida, enak, rasa, nilai, gizi, penelitian, konvensional, aman, lebih, ramah, lingkungan, nutrisi, bakteri, kadar, waktu, penyakit, bersih, melon, selada, tomat, bayam

Mengonsumsi makanan organik konon lebih aman dikonsumsi

Saat makanan dilabeli organik, maka produk tersebut harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh organisasi dan pemerintah. Departemen Pertanian AS menyebut makanan bisa disebut organik jika melindungi sumber daya alam, melestarikan keanekaragaman hayati, dan hanya menggunakan zat yang disetujui. Di AS dan Kanada, makanan organik harus bebas transgenik atau bebas gen asing.

Baca juga:  Waspada Paparan Sinar UV Berlebihan Bisa Merusak Mata!

Dari definisi itu, makanan organik haruslah bebas pupuk sintetis atau pestisida sebelum dipanen. Namun bukan berarti makanan organik benar-benar bebas residu pupuk. Pada 2011 USDA menunjukkan 39 persen dari 571 sampel makanan organik mengandung residu pestisida. Ahli toksologi mengatakan bahwa pestisida belum tentu beracun bagi manusia. Menurut Winter, prinsip pertamanya adalah kadar dosis yang bisa menjadi racun. Selain itu, petani saat ini pun menggunakan pestisida yang jauh lebih sedikit daripada satu dekade yang lalu. Pestisida itu sendiri harus terbukti berdampak rendah pada kesehatan manusia.

Meski kandungan pestisida yang tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan, namun sisa residu yang tertinggal dalam makanan dianggap tidak berpengaruh pada kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tidak ada pestisida yang diizinkan dalam perdagangan pangan internasional yang dapat berisiko genetik bagi konsumen.

Setelah dilakukan analisis dalam penelitian sebanyak 240 buah tentang nilai gizi makanan organik, penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa para peneliti tidak menemukan hasil bahwa makanan organik secara signifikan lebih bergizi daripada makanan konvensional.

Dalam makalah itu, ilmuwan juga menyimpulkan bahwa makanan organik dapat mengurangi paparan konsumen terhadap residu pestisida dan menghindari menelan bakteri resisten antibiotik.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: