Sering Minum Air Kemasan Botol Plastik? Waspada Bahaya Kandungannya!

Ilustrasi: minum air kemasan botol (pexels: Mauricio Mascaro)Ilustrasi: minum air kemasan botol (pexels: Mauricio Mascaro)

Air mineral dalam kemasan, baik gelas maupun botol plastik merupakan produk instan yang diproses menggunakan teknologi filtrasi tinggi, canggih, dan modern.[1] Kendati dinilai aman, ada bahaya dari minum air kemasan botol karena mengandung bahan kimia tertentu yang diklaim memiliki efek samping untuk kesehatan.

Bahan Berbahaya Air Minum Kemasan Botol Plastik

Dilansir dari HuffPost, pada 2017, orang di seluruh dunia membeli air mineral kemasan botol dengan kecepatan 1 juta botol per menit, dengan rata-rata orang Amerika mengonsumsi 45 galon air kemasan setiap tahun. Dirasa aman, ternyata ada beberapa bukti yang menunjukkan air kemasan botol plastik mengandung bahan kimia berbahaya dalam kemasannya.

Phthalates/ftalat, juga disebut plasticizer, adalah kelas bahan kimia buatan manusia yang digunakan untuk membuat botol air minum dan plastik lainnya supaya lebih tahan lama dan fleksibel. Paparan ftalat pada tubuh bisa mempengaruhi sistem endokrin, sistem yang memproduksi dan melepaskan hormon.

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa botol air plastik saja tidak memiliki tingkat kontaminasi yang cukup signifikan untuk membahayakan peminum air kemasan. Namun, beberapa ahli mengatakan, karena kebanyakan orang sudah terpapar bahan kimia pengganggu endokrin dari banyak sumber lain setiap hari, termasuk dari produk pembersih rumah hingga beberapa wewangian, sebaiknya membatasi paparan tambahan bahan kimia tersebut dari minuman kemasan botol plastik.

Baca juga:  Ingin Umur Panjang? Yuk, Mulai Pagimu Dengan Secangkir Kopi!

Ftalat juga telah dikaitkan dengan sejumlah gangguan reproduksi, kekebalan tubuh, dan neurologis, termasuk diabetes gestasional, ADHD, masalah kesuburan, penyakit hati pada anak-anak, asma, dan peningkatan risiko kanker payudara. Environmental Protection Agency (EPA), cukup khawatir tentang efek potensial ini, sehingga bulan lalu menunjuk ftalat sebagai kelas kimia pengganggu endokrin umum.

Meskipun ftalat dan bahan kimia pengganggu endokrin lainnya biasanya tidak terdeteksi dalam air pada sumber aslinya, plastik di sekitar air kemasan dapat mencemari cairan dari waktu ke waktu. Tingkat kontaminasi bervariasi. Para ahli mengatakan bahwa kontaminasi plastik ke air sebagian besar diperburuk oleh dua hal, yakni berapa lama plastik dan minuman (atau makanan) bersentuhan langsung, dan apakah plastik telah dipanaskan saat bersentuhan dengan makanan atau minuman.

Paparan Ftalat pada Air Kemasan Botol Plastik

Ilustrasi: air minum kemasan botol (pexels: Steve Johnson)

Ilustrasi: air minum kemasan botol (pexels: Steve Johnson)

Air minum dalam kemasan termasuk produk yang laris, tetapi tak jarang ada yang menimbunnya sebelum diperjual-belikan. Sering disimpan di gudang untuk waktu yang lama dan kemudian dipindahkan menggunakan moda transportasi yang bisa meningkatkan suhu produk, tentu mempengaruhi kandungannya.

Baca juga:  Adakah Pengaruh KB Steril Terhadap Siklus Menstruasi?

“Dibiarkan dalam kondisi seperti itu selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sebelum sampai ke konsumen adalah waktu yang sangat lama untuk mencemari air mineral dengan bahan kimia terkandung dalam kemasannya.” kata Dr. Nathaniel DeNicola, seorang OB-GYN dan ahli lingkungan ahli Kesehatan di American College of Obstetricians & Gynecologists.

Emily Barrett, seorang profesor biostatistik dan epidemiologi di Rutgers School of Public Health, menambahkan bahwa alasan ftalat terpisah dari plastik karena itu bukan bagian dari matriks plastik. Bila terkena panas, ikatan kimia antara ftalat dan plastik dapat putus, memungkinkan ftalat larut ke dalam makanan atau minuman. Kontaminasi semacam itu juga dapat terjadi selama tahap produksi ketika air kemasan bersentuhan dengan PVC pada mesin.

“Botol air dapat rentan terhadap kontaminasi karena kontak langsung yang berkepanjangan antara air dan bahan kemasan plastik,” kata Dr. Maida Galvez, profesor kedokteran lingkungan dan kesehatan masyarakat di Icahn School of Medicine, New York. “Logam, bakteri, potongan plastik, dan kontaminan lain juga telah ditemukan dalam air kemasan sebelumnya.”

Baca juga:  Apa Itu OCD Perinatal pada Ibu Hamil dan Setelah Melahirkan?

Tips Mengurangi Kebutuhan Air Kemasan Botol Plastik

  • Buat air minum sendiri. Anda bisa menggunakan air kran di rumah dan merebusnya sebagai pengganti air minum dalam kemasan. Memang ini tidak praktis, tetapi lebih aman untuk kesehatan.
  • Cari pengganti kemasan plastik. Jika Anda ingin membawa air minum sebagai bekal harian, sebaiknya carilah wadah pengganti. Air minum yang sudah steril bisa dimasukkan ke botol kaca yang lebih aman untuk kesehatan.
  • Gunakan filter air yang baik. Jika Anda ingin membuat air minum tanpa ribet, sudah banyak yang jual filter air khusus. Anda tinggal memasukkan air mentah ke dalam filter dan secara otomatis disterilkan untuk siap diminum.

Studi menyimpulkan bahwa air kemasan sering dianggap aman dan steril, tetapi risiko kesehatan tidak boleh dianggap remeh. Untuk itu, sebisa mungkin untuk menurunkan tingkat kebutuhan air mineral dalam plastik.

[1] Fajariani, Nur. 2022. Strategi Pemasaran Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Merk Mox Pada Toko Mario OxiDesa Tarailu Kecamatan Sampaga. Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Mamuju, Vol.1(1): 49-58.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: