Apakah Efek Samping dari Pemeriksaan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy)?

Ilustrasi: jarum suntikan (sumber: aapc.com)Ilustrasi: jarum suntikan (sumber: aapc.com)

Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) sering digunakan sebagai metode pemeriksaan pada sejumlah kasus, khususnya tumor atau kanker. Namun, beberapa pasien sering mengkhawatirkan efek samping yang mungkin ditimbulkan dari pemeriksaan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB). Benarkah FNAB bisa membuat sel kanker menyebar seperti asumsi banyak orang?

Biopsi aspirasi jarum halus (bajah) atau yang saat ini lebih dikenal dengan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB), saat ini telah digunakan secara luas untuk membantu diagnosis berbagai penyakit tumor, baik sebagai upaya diagnosis preoperatif maupun konfirmatif.

Caranya adalah dengan mengambil jaringan tersangka tumor, dengan cara memeriksa sejumlah sel dari ekstrak tumor atau nodul yang diambil dengan menggunakan jarum dan tabung suntik. Jarum yang digunakan adalah jarum ukuran 23-22 G atau yang lebih kecil (24,25 atau 27 Gauge), panjangnya bervariasi antara 30-120 mm, hasilnya adalah sel lepas atau kelompokan sel. Sedangkan penggunaan jarum besar 18 G atau lebih hasilnya adalah jaringan “histologi”.

Pada tahap awal, pasien diperiksa terlebih dulu oleh dokter, mulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tumor yang cermat dan terarah seperti letak, besar, konsistensi, dan mobilitas tumor dengan tujuan agar dapat memprediksi jenis dan sifat tumor.

Baca juga:  Sering Minum Air Kemasan Botol Plastik? Waspada Bahaya Kandungannya!

Target atau sasaran biopsi aspirasi adalah tumor yang superfisial dan dapat diraba (palpable) seperti tumor kelenjar getah bening, tiroid, kelenjar liur, payudara, dan lain-lain. Sedangkan untuk tumor pada organ dalam dilakukan dengan CT (Computed Tomography) Guided seperti tumor pada paru, ginjal, hati, limpa, dan lain-lain.

Sejarah FNAB

Biopsi aspirasi jarum halus dimulai pada tahun 1883 oleh Leyden dengan menggunakan jarum suntik untuk memperoleh mikroorganisme di paru, dan tiga tahun kemudian tepatnya tahun 1886, Menetrier melakukan hal yang sama untuk memperoleh bahan diagnosis kanker paru. Dudgeon dan Patrick mendiagnosis cepat tumor pada tahun 1927, dilanjutkan dengan Martin dan Ellis tahun 1934 dengan sitologi dan histopatologi.

FNAB/Fine Needle Aspiration Biopsy (sumber: nzdoctor.co.nz)

FNAB/Fine Needle Aspiration Biopsy (sumber: nzdoctor.co.nz)

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka pada tahun 1954, Cardozo di Belanda mengembangkan sitologi klinik. Franzen 1966, Soderstrom, Swedia, memperbarui hasil temuannya pada tahun 1960 dengan diagnosis FNAB prostat pada berbagai jenis tumor.[1]

Keuntungan FNAB

  • Prosedur sederhana, tak menimbulkan rasa sakit atau komplikasi yang berarti, dan tidak menimbulkan jaringan parut.
  • Biaya pemeriksaan lebih murah, karena tidak perlu kamar operasi ataupun pemakaian anestesi dan tidak perlu dirawat inap di RS.
  • Dapat dilakukan pada pasien-pasien berobat jalan atau di klinik.
  • Dalam beberapa menit, sebagian besar tumor dapat ditentukan jenis tumor jinak atau tumor ganas, sehingga rencana pengobatan dapat ditentukan sesegera mungkin.
  • Diagnosis cepat memberikan dampak menguntungkan secara psikis bagi pasien.
  • Sebagian diagnosis pendahuluan terhadap tumor, memungkinkan tindakan bedah pada berbagai organ menjadi lebih selektif.
  • Merupakan pilihan terbaik bagi pasien dengan kondisi yang tidak mengizinkan (keadaan umum kurang baik atau hamil).[2]
Baca juga:  Kulit Mengelupas Setelah Treatment Dermaroller, Wajarkah?

Efek Samping FNAB

Biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) merupakan teknik biopsi paling tidak invasif dan memiliki risiko seeding tumor paling kecil. Teknik ini menggunakan jarum kecil untuk masuk ke lesi dan diaspirasi untuk pemeriksaan sitologi atau kultur.[3]

Dilansir dari situs resmi RSUD Sidoarjo, efek samping FNAB hampir tidak ada. Kemungkinan nyeri pasca pemeriksaan terkadang ditemukan. Namun, FNAB tidak membuat tumor makin menyebar seperti yang dikhawatirkan oleh penderita, dikarenakan jarumnya yang sangat kecil.

Syarat dari pemeriksaan FNAB ini adalah tumor harus teraba dan dapat dijangkau jarum. Apabila tumor terlalu dalam atau tidak terlihat dari luar, sebagai contoh tumor paru, maka dapat dilakukan FNAB dengan tuntunan CT scan atau USG. Khusus tumor kulit atau berupa ulkus, maka akan dilakukan scrapping atau kerokan.

Baca juga:  Proses Suntik Filler, Bahan, Prosedur, dan Risiko Efek Sampingnya
Prosedur USG untuk periksa tumor (sumber: i-med.com)

Prosedur USG untuk periksa tumor (sumber: i-med.com)

Agar Anda memperoleh gambaran yang lebih jelas seputar pemeriksaan FNAB, berikut kisaran biaya FNAB di sejumlah fasilitas kesehatan

Biaya Tes FNAB

Nama Rumah SakitKisaran Biaya Tes FNAB
RSU Haji SurabayaRp350.000
RSUP H. Adam MalikFNAB Biasa: Rp300.000
FNAB Lebih dari 1 Lokasi: Rp375.000
RS Al Islam BandungRp1.076.000
RS DharmaisRp900.000
Konsultasi: Rp100.000
Kartu Pasien: Rp50.000
RS Mitra Sejati MedanRp1.100.000

Apabila Anda membutuhkan informasi lebih lengkap tentang FNAB, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter atau menghubungi rumah sakit terdekat.

[1] Widjajahakim, G. 2007. Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB). Meditek. 15(39): 12-19.

[2] Ibid.

[3] Sudarsa, IW. 2019. Buku Ajar Bedah Onkologi. Surabaya: Airlangga University Press, hlm 39.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: