Apakah Diabetes Merupakan Penyakit Turunan?

diabetes, penyakit, turunan, gula, darah, stres, tips, mencegah, DM, tipe, 2, dewasa, anak-anak, turunan, faktor, risiko, pola, makan, asupan, sayur, buah, karbo, olahraga, rokok, jenis, manis, makanan, minuman Ilustrasi: tes darah untuk melihat potensi diabetes

masih menjadi yang ditakuti oleh sebagian besar masyarakat, terutama di Indonesia. Biasanya, penderita menyadari jika dirinya terjangkit penyakit tersebut. Menurut dr. Wismandari Wisnu, pasien nyaris tidak mengalami keluhan. Hal ini yang membuatnya sering hilang kontrol. Oleh karena itu, ia berharap jika pasien dan orang-orang terdekat pasien bisa paham tentang sehingga tahu apa yang harus dilakukan.

Penyakit tingginya gula darah itu bisa menjadi semakin parah jika sudah ada komplikasi. Wismandari Wisnu, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan endokrin mengatakan jika diabetes sudah ada komplikasi, biasanya mengarah kepada penyakit seperti jantung, stroke, gagal ginjal, amputasi, kebutaan, disfungsi ereksi, depresi, dan gangguan saraf. Menurutnya, jantung dan stroke merupakan komplikasi diabetes yang paling banyak menimbulkan kematian.

Ada jenis diabetes yang dikenal oleh masyarakat yaitu tipe 1, 2, dan gestasional. Tipe 2 sering disebut dengan ‘diabetes orang dewasa’, karena hampir tidak terjadi pada -anak. Penyebab diabetes tidak sesederhana karena senang makanan atau minuman manis.

Apakah Benar Diabetes Itu Penyakit Turunan?

Meskipun begitu, ada banyak orang yang percaya bahwa diabetes merupakan penyakit turunan. Jadi, bisa saja jika dalam satu keluarga ada yang memiliki riwayat diabetes, memungkinkan salah seorang anggota keluarga bisa terkena juga, bisa dari ibu menurun ke anak. Apakah benar diabetes itu merupakan penyakit turunan?

Katie Page, seorang profesor kedokteran di Divisi Endokrinologi dan Diabetes di Keck School of Medicine of USC, pemimpin beberapa studi mencoba menemukan penyebab dan potensi diabetes pada masa anak-anak. Dia mengatakan bahwa kelompok anak-anak rentan terhadap diabetes.

diabetes, penyakit, turunan, gula, darah, stres, tips, mencegah, DM, tipe, 2, dewasa, anak-anak, turunan, faktor, risiko, pola, makan, asupan, sayur, buah, karbo, olahraga, rokok, jenis, manis, makanan, minuman

Ilustrasi: pasien berkonsultasi ke dokter (sumber: heart.org)

Page mengatakan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu penderita diabetes menghadapi risiko hingga sepuluh kali lebih tinggi. Dirinya mencoba memahami alasannya, dan hal itu dianggap tidak sekadar persoalan genetik. Ternyata, embrio dalam rahim seorang ibu penderita diabetes atau obesitas berkembang di dalam lingkungan nutrisi yang berubah.

Perkembangan tersebut berkontribusi pada perubahan di dalam otak yang mengendalikan nafsu makan. Hal itu ada kaitannya dengan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Selanjutnya, bisa menimbulkan risiko penyakit jantung, mata, ginjal, saraf, bahkan ulserasi di tangan dan kaki yang bisa menyebabkan infeksi dan amputasi.

Sementara itu, menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr. Herry Nursetiyanto mengatakan bahwa penelitian membuktikan bahwa orang tua pengidap diabetes memiliki risiko menurun ke anak.

Diabetes menurun menyilang hanya kebetulan saja. Setiap anak dengan orangtua diabetesi berisiko 25 persen menderita diabetes. Bahkan bisa jadi diabetes menurun ke cucu atau melompat ke generasi lainnya. Penurunan silang atau diabetes menurun menyilang itu maksudnya jika ibu adalah seorang penderita diabetes, maka bisa menyebabkan anak laki-lakinya menderita penyakit yang sama.

Pendapat lain datang dari Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Prof. Dr. dr. Agung Pranoto SpPD-KEMD mengatakan bahwa tiap inti sel tubuh memiliki materi genetik yang jika cacat bisa merugikan bagi tubuh misalnya menimbulkan penyakit seperti diabetes. Materi gen ini juga ada di sel telur.

Menurut dr. Agung, kalau cacat gen di sel telur, ibu bisa menurunkan penyakit itu ke anak laki-laki maupun perempuan. Laki-laki tidak punya sel telur, tapi kalau ibu (wanita) punya sel telur dan ketika cacat itu terjadi di materi gen di sel telurnya, bisa diturunkan juga ke anaknya.

Memang ada pola maternal. Lain lagi ketika cacatnya ada di di sel inti, baik laki-laki atau perempuan bisa meneruskan ke generasi di bawahnya. Meski begitu, ditegaskan Prof Agung, jika orang tua diabetes, belum tentu anak akan terkena diabetes. Dikarenakan tidak bersifat turunan, diabetes lebih dianggap menjadi faktor risiko bagi keturunan seseorang.

Faktor Risiko Diabetes

diabetes, penyakit, turunan, gula, darah, stres, tips, mencegah, DM, tipe, 2, dewasa, anak-anak, turunan, faktor, risiko, pola, makan, asupan, sayur, buah, karbo, olahraga, rokok, jenis, manis, makanan, minuman

Ilustrasi: rangkaian DNA genetika (sumber: dlyfe.com)

Faktor Risiko Tidak Dapat Diubah/Dimodifikasi

Faktor ini terdiri dari ras, genetik, riwayat keluarga dengan diabetes, usia (risiko akan meningkat seiring dengan pertambahan usia), riwayat melahirkan dengan berat badan kurang dari 4000 gram atau riwayat pernah DM (diabetes melitus) gestasional atau DM dalam kehamilan, dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2,5 kg).

Faktor Risiko Yang Dapat Diubah/Dimodifikasi

Faktor ini terdiri dari berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, tekanan darah tinggi atau hipertensi, kadar tinggi (HDL ≤ 35 mg/dL dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dL).

Tips Mencegah Diabetes

Untuk mencegah terjadinya DM adalah menjaga atau menghindari faktor risiko DM. Beberapa hal yang harus dilakukan adalah menjaga pola makan dengan seimbang dan melakukan aktivitas fisik secara teratur untuk menghindari faktor risiko. Selain itu berat badan harus dijaga agar tetap ideal, tidak merokok, dan menjaga pola hidup yang seimbang.

Menurut dr. Lily S Sulistyowati, MM, cara mencegah penyakit seperti diabetes dengan menerapkan pola hidup rumus ‘cerdik’. Cerdik itu merupakan sebuah singkatan dimulai dari ‘C’, yang berarti cek rutin minimal setahun sekali. Bisa cek gula darah, kolesterol, dan asam urat. Lebih bagus lagi jika ditambah dengan rutin cek berat badan dan tensi.

Kemudian, ‘E’ yaitu enyahkan dari asap rokok. Lalu, ‘R’ adalah rajin aktivitas fisik (olahraga) minimal 20 menit 5 kali seminggu. Jika tidak sampai 30 menit, bisa 20 menit tidak apa-apa, asalkan badan berkeringat, jadi ada pembakaran kalori. Selanjutnya adalah ‘D’, yang berarti seimbang dengan mengatur asupan makanan yaitu 50 persen buah dan sayur, 25 persen protein, 25 persen karbo. Tidak disarankan untuk konsumsi banyak karbo tetapi lebih sedikit sayur. Untuk ‘I’ adalah istirahat yang cukup. Sedangkan, yang terakhir ‘K, adalah kelola stres.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: