Apakah Benar Kopi Memperburuk Keadaan Penderita Gejala Kecemasan?

Ilustrasi: peminum kopi Ilustrasi: peminum kopi

Jika Anda tengah berjuang dalam anxiety disorder atau gangguan kecemasan, Anda mungkin harus melewatkan atau membatasi konsumsi kopi. Kopi adalah minuman simbol pergaulan, kandungan kafein yang terkandung dalam kopi bisa jadi membuat orang berasumsi bahwa minuman inilah yang membuat mereka terus terjaga. Padahal kafein yang terkandung di dalamnya akan berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan.

Bagi sebagian orang, kafein dapat membantu seseorang untuk lebih berkonsentrasi dan memberikan dorongan energi, tetapi dapat menyebabkan masalah bagi mereka yang mengalami gangguan kecemasan. Hal ini dituturkan oleh Dr. Julie Radico, psikolog klinis di Penn State Health.

“Kafein bukan musuh,” katanya dalam rilis berita universitas. “Tetapi saya mendorong orang untuk mengetahui batasan sehat dan mengkonsumsinya secara strategis karena mengaktifkan dan dapat meniru atau memperburuk gejala kecemasan.”

Kafein dosis rendah berkisar antara 50 hingga 200 miligram (mg). Mengonsumsi lebih dari 400 mg sekaligus dapat menyebabkan perasaan terlalu bersemangat dan cemas, dan menimbulkan gejala seperti jantung berdebar, mual, atau sakit perut.

Apa itu Anxiety Disorder atau Gangguan Kecemasan?

Disari dari situs Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, gangguan cemas atau ansietas adalah kekhawatiran berlebihan yang bisa mengganggu kegiatan Anda sehari-hari. Meski gejalanya sulit dikenali dalam sekejap mata, gangguan ini cukup umum ditemui dalam masyarakat. Namun, mengenali gejalanya saja tak cukup. Supaya tak terjebak dalam kondisi ini, Anda harus benar-benar memahami seluk-beluk gangguan cemas.

Ilustrasi: gangguan kecemasan

Ilustrasi: gangguan kecemasan

Anxiety disorder masuk dalam gangguan mental, sehingga kondisi ini tentu berbeda dengan cemas biasa. Orang dengan gangguan cemas akan merasa sangat khawatir terhadap berbagai hal, bahkan ketika dirinya sedang berada dalam situasi normal. Maka yang perlu digaris bawahi di sini adalah intensitas kecemasannya. Dalam kasus yang parah, gangguan kecemasan juga bisa sampai mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.

Penyebab Gangguan Kecemasan

Hingga kini belum ada rumus tertentu yang bisa menjelaskan penyebab ansietas. Faktornya bermacam-macam, mulai dari faktor keturunan (genetik), gangguan neurokimia dalam otak, pengalaman buruk di masa lalu, atau kejadian tak diinginkan yang menorehkan luka pada batin seseorang seperti kehilangan orang tercinta.

Pengalaman tersebut begitu membekas dalam benak sehingga rasa cemas yang timbul saat itu seolah tidak bisa hilang. Kecemasan terus menghantui Anda meskipun situasi buruknya telah berlalu. Bahkan hal kecil seperti chat yang belum dibalas oleh seorang kawan bisa membuat Anda khawatir setengah mati.

Gangguan cemas cukup erat kaitannya dengan salah satu gangguan jiwa yang sudah lebih dikenal awam, yaitu depresi. Bila Anda tidak segera menangani ansietas, Anda berisiko tinggi jatuh ke dalam lubang depresi.

Berbeda dengan ansietas yang membuat Anda merasa khawatir dan takut, depresi lebih membuat Anda merasa putus asa dan hampa. Namun, keduanya menunjukkan gejala yang mirip. Contohnya susah tidur, susah berkonsentrasi, dan suasana hati yang kacau.

Benarkah Kopi Memperburuk Keadaan Penderita Gejala Kecemasan?

Ilustrasi: hubungan antara konsumsi kopi & kecemasan

Ilustrasi: hubungan antara konsumsi kopi & kecemasan

Kecemasan adalah masalah umum, tetapi banyak pasien dan dokter, mereka tidak menganggap kafein sebagai faktor penyebab potensial, kata Dr. Matthew Silvis, wakil ketua operasi klinis di divisi kedokteran keluarga di Penn State Health. “Kami ingin orang-orang mempertimbangkan apakah mungkin ada hubungan antara konsumsi kafein dan kecemasan mereka,” katanya.

Selain berpotensi menjadi masalah bagi orang-orang dengan kecemasan, kafein dapat berinteraksi secara negatif dengan obat-obatan untuk gangguan kejang, penyakit hati, penyakit ginjal kronis, kondisi jantung tertentu atau penyakit tiroid, catat Silvis. “Gangguan medis yang mungkin sudah dialami pasien dapat menjadi lebih sulit untuk dikendalikan,” katanya.

Dalam hal jumlah kafein, secangkir kopi buatan rumah rata-rata memiliki sekitar 100 mg, dibandingkan dengan 250 mg dalam kopi Starbucks ukuran tall dan sebanyak 400 mg dalam minuman energi. Satu kaleng Mountain Dew memiliki 55 mg sedangkan sekaleng Coca-Cola memiliki 35 mg. Banyak vitamin atau suplemen nutrisi juga mengandung kafein, tetapi banyak orang tidak berpikir untuk memeriksa label produk-produk itu, tambah Silvis.

Dalam penelitian lainnya, Mary Margaret Sweeney, selaku instruktur di Unit Penelitian Farmakologi Perilaku Kedokteran Johns Hopkins mengatakan, kafein adalah antagonis reseptor adenosin. 

Adenosine adalah bahan kimia yang membantu mengatur gairah. Ketika berikatan dengan reseptor adenosin, reaksinya membuat kita mengantuk. Tapi, kafein yang merupakan antagonis adenosin justru menimbulkan efek berlawanan, yang menciptakan perasaan bahagia atau antusias. “Inilah sebabnya mengapa kafein bersifat merangsang,” kata Sweeney. 

Ilustrasi: pengolah biji kopi

Ilustrasi: pengolah biji kopi

Meski begitu, perasaan itu juga membuat kita berdebar-debar. Sulit bagi seseorang untuk mengetahui apakah efeknya disebabkan oleh kafein atau apakah kafein berkontribusi terhadap efek kecemasan.

Kita memang dapat mengembangkan toleransi terhadap kafein. Tapi, tergantung pada dosis, frekuensi, dan tingkat eliminasi tubuh. Jadi, tubuh kita tidak pernah sepenuhnya toleran. “Inilah yang membuat kafein dapat berkontribusi pada gejala kecemasan, bahkan jika kita terbiasa memulai setiap pagi dengan meminum kopi,” kata Sweeney. 

Namun, kafein memang memiliki efek lebih besar pada orang yang tidak mengkonsumsinya secara teratur. Penelitian menunjukkan dosis lebih dari 250 miligram – jumlah dalam 21 ons kopi atau sekitar 2,5 cangkir, lebih cenderung memicu kecemasan. Dosis tersebut juga memicu efek samping lain seperti insomnia, gangguan lambung, dan aritmia jantung. Setiap orang memiliki tingkat toleransi berbeda. Tapi, penderita kecemasan tampaknya lebih sensitif terhadap efek kecemasan dari kafein.

Apakah Kita Harus Berhenti Mengonsumsi Kopi untuk Mengatasi Hal Ini?

Kita bisa melakukannya secara perlahan. Sweeney mengatakan, kafein bersifat bioavailable dan hampir 100 persen diserap oleh tubuh. Jadi, efek kafein tak bisa hilang dalam sekejap meski kita menghentikan secara drastis kebiasaan minum kopi. Oleh karena itu, kita tak harus menghentikan rutinitas minum kopi. Untuk itu, kita bisa mengganti dengan mengonsumsi minuman yang mengandung lebih sedikit kafein. Kita juga bisa mengatasinya dengan mengurangi konsumsi kafein secara perlahan. Berhenti minum kopi secara drastis akan menyebabkan terjadinya gejala penarikan, seperti sakit kepala, kelelahan bahkan depresi.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: