Apa Itu Cedera Otak Traumatis dan Bagaimana Penanganannya?

Cedera, traumatis, traumatik, otak, sebab, akibat, gejala, faktor, olahraga, tindak, kekerasan, kunyit, makanan, kandungan, penyembuhan, sel, saraf, asam lemak, omega 3, neuron, zaitun, anti inflamasi, penderita, penyakit, jenis, neurologis, psikiatrik, tahap, ringan, sedang, berat, parah, tingkat Ilustrasi: cedera kepala

Sebagai salah satu organ tubuh yang vital, otak harus mendapat perhatian serius. Terutama saat mengalami cedera. Kondisi ini akan sangat berpengaruh pada kinerja tubuh yang lainnya. Terjadinya cedera otak traumatis bisa disebabkan oleh berbagai hal.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa dari sekitar 1,4 juta kasus per tahun di Amerika Serikat, hanya sekitar 235.000 orang yang dirawat intensif di rumah sakit dan 80.000 di antaranya mengalami kecacatan. Saat ini saja terdapat sekitar 5,3 juta orang Amerika yang mengalami cacat berkepanjangan akibat trauma kepala.

Trauma kepala dapat disebabkan oleh kecelakaan bermotor, kecelakaan olahraga, tindak kekerasan, ataupun ledakan bahan peledak. Kondisi ini menimbulkan luka, baik terbuka maupun tertutup pada bagian kepala manusia. Beberapa korban mungkin hanya mengalami cedera kepala ringan yang sering disebut gegar otak. Namun, selebihnya ada yang mengalami gejala-gejala terkait dengan perilaku dan perasaan pasca cedera kepala tersebut.

Beberapa kondisi gangguan psikiatrik yang dihubungkan dengan kejadian cedera kepala adalah depresi, gangguan pasca trauma, kecemasan, kemarahan, agitasi, agresi, gangguan perilaku, tidak adanya kesadaran diri, gangguan fungsi seksual, gangguan penyalahgunaan alkohol dan napza, serta gangguan psikotik.

Sayangnya, seringkali gejala ini dianggap normal dan bagian yang alami dari proses cedera kepala tersebut. Apalagi, bagi para dokter sering ‘kelupaan’ melihat adanya akibat timbulnya gangguan ini yang seringkali tidak selalu langsung terjadi setelah peristiwa trauma kepala.

Maka dari itu, penanganan yang baik dan terarah adalah bagian yang sangat penting dalam penanganan kasus-kasus cedera kepala ini. Selain penanganan untuk pasiennya, dokter yang menangani pasien dengan gangguan cedera kepala ini juga harus memberikan informasi yang sebaik-baiknya kepada keluarga, terutama terkait dengan pengharapan dan tujuan pengobatan.

Seringkali ini menjadi masalah karena pengharapan pasien dan dokter sering tidak dikomunikasikan dengan baik. Satu hal yang paling penting adalah upaya pengobatan digunakan untuk mengembalikan fungsi pasien seoptimal mungkin dan mengurangi penderitaannya.

Apa Itu Cedera Otak Traumatis

Ilustrasi: hasil pemeriksaan cedera otak (sumber: webmd.com)

Cedera Otak Traumatik adalah hantaman mendadak dari luar pada otak yang menyebabkan berbagai gejala yang lama kelamaan akan menyebabkan disfungsi otak, yang biasa disingkat sebagai COT. Beberapa jenis COT disebabkan oleh benda asing yang menusuk tengkorak atau benda tumpul yang memukul tengkorak, sehingga tengkorak retak dan ada pecahan tulang yang mengarah ke otak.

COT dikategorikan menjadi ringan, sedang, atau berat, tergantung pada kekuatan benturan dari luar yang mengenai tengkorak (gegar otak). COT yang ringan biasanya akan menyebabkan sakit kepala, tidak dapat berpikir dengan jernih, pusing, dan mual. Pasien yang mengalami COT sedang sampai parah biasanya akan menunjukkan gejala yang sama, namun lebih sering. Gejala COT biasanya akan menjadi lebih parah dan memburuk seiring berjalannya waktu.

COT, baik yang bersifat ringan, sedang, atau berat, adalah kondisi yang serius. Ada jutaan orang di Amerika Serikat dan di seluruh dunia yang mengalami COT. Beberapa pasien dapat pulih sepenuhnya, namun ada juga pasien yang tidak seberuntung itu. Banyak kasus COT yang menyebabkan kematian atau kerusakan permanen pada fisik dan kemampuan sosial seseorang. Semua orang dari berbagai usia berisiko terkena COT, namun berdasarkan statistik, COT biasanya terjadi pada pasien yang berusia 0-4, 15-24, dan 75 tahun ke atas.

Penyebab Cedera Otak Traumatik

COT dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya terjatuh, berolahraga, terkena benda yang terjatuh, tindakan kekerasan atau kecelakaan lalu lintas. Walaupun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa semakin keras benturan dari luar, maka semakin parah juga kerusakan yang terjadi, namun bahkan benturan yang lemah atau sedang juga dapat menyebabkan kerusakan serius, terutama apabila ada benda tajam yang menusuk tengkorak.

Gejala Utama Cedera Otak Traumatik

Cedera, traumatis, traumatik, otak, sebab, akibat, gejala, faktor, olahraga, tindak, kekerasan, kunyit, makanan, kandungan, penyembuhan, sel, saraf, asam lemak, omega 3, neuron, zaitun, anti inflamasi, penderita, penyakit, jenis, neurologis, psikiatrik, tahap, ringan, sedang, berat, parah, tingkat

Ilustrasi: gejala-gejala cedera otak traumatis

Gejala emosional meliputi depresi, kegelisahan atau kekhawatiran, gampang marah, dan menjadi lebih emosional. Gejala tidur meliputi keinginan untuk lebih sering atau lebih jarang tidur, atau kesulitan tidur. Pada sebagian besar kasus, gejala COT langsung timbul setelah cedera terjadi. Namun, ada juga kasus di mana gejala baru timbul beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun setelah pasien mengalami cedera.

Gejala COT dapat dianggap sebagai tanda peringatan, terutama bila terus bertambah parah. Sebagai contoh, apabila sakit kepala tidak kunjung hilang dan malah memburuk, atau apabila pasien sering muntah atau mual, langkah terbaik adalah mencari pertolongan medis.

Para peneliti Amerika Serikat telah melakukan penemuan cedera otak traumatis berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Risiko demensia tertinggi berada pada orang-orang yang menderita cedera otak traumatis, bahkan satu penderita cedera ringan sangat terkait dengan peningkatan risiko demensia.

Dilansir The New York Times, dari penelitian di Lancet Psychiatry menggunakan database kesehatan negara Denmark. Database itu mencakup semua penduduk pada 1 Januari 1995 yang berusia setidaknya 50 tahun, di mana beberapa di antaranya berumur 36 tahun pada 1977 hingga 2013.

Namun, penulis utama, Dr. Jesse R. Fann, yang juga merupakan seorang profesor psikiatri di University of Washington School of Medicine, mengatakan risiko absolut untuk mendapatkan demensia semuda 50 tahun cukup rendah. “Saya tidak ingin orang berpikir bahwa hanya karena Anda mengalami cedera kepala Anda pasti akan menderita demensia,” katanya.

Dari sebanyak sekitar 2.794.852 orang, mereka menemukan sebanyak 258.827 yang memiliki paling tidak satu penderita cedera otak traumatis. Cedera otak itu memiliki tingkat keparahan. Cedera otak yang paling parah yang dapat menyebabkan ketidaksadaran yang luas, koma atau bahkan terbukti fatal.

Setelah disesuaikan untuk penyakit medis, neurologis dan psikiatrik, mereka yang pernah mengalami cedera otak traumatis memiliki risiko 24 persen lebih tinggi untuk demensia. Bahkan, memiliki hampir tiga kali lipat risiko, dibandingkan dengan orang yang tidak pernah memiliki cedera otak traumatis. Bahkan cedera otak traumatis ringan tunggal juga meningkatkan risiko sebesar 17 persen. Sekitar 85 persen adalah cedera otak traumatis pertama yang mereka diagnosis adalah pada tipe ringan.

Penanganan Untuk Cedera Otak Traumatis

Bahan makanan Omega 3, daging salmon, mackerel, dan sarden/tuna (sumber: metro.co.uk)

Selain mendapat perawatan dan obat, untuk membantu proses penyembuhannya juga perlu dibantu dengan asupan makanan sehat. Dilansir dari laman boldsky, ada beberapa bahan makanan yang bisa membantu proses penyembuhan cedera otak traumatis, di antaranya adalah:

Makanan yang mengandung asam lemak omega 3

Baca juga:  Kenali Benjolan di Sekitar Miss V, Awas Makin Parah!

Makanan yang mengandung asam lemak omega 3 seperti makarel, salmon dan sarden. Telah terbukti meningkatkan kognisi, kelenturan dan pemulihan neuron otak.

Makanan yang mengandung vitamin E

Makanan yang mengandung vitamin E juga penting untuk pemulihan otak. Contohnya seperti zaitun.

Kunyit

Kunyit mengandung anti inflamasi yang bersifat menyembuhkan.

Vitamin B12
Untuk penyembuhan cedera otak traumatis perlu juga mengonsumsi vitamin B12. Nutrisi ini penting untuk melindungi sel-sel saraf.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: