Alasan Millenial Harus Aktif Bersosialisasi di Dunia Nyata Ketimbang Bermain Smartphone

Ilustrasi: hubungan erat antara milenial dan smartphone Ilustrasi: hubungan erat antara milenial dan smartphone

Apa yang tak bisa terpisahkan dari generasi saat ini? Jawabannya yang pasti adalah . Banyak orang beranggapan kini ketinggalan dompet tak seburuk ketinggalan . Sebegitu lekatnya keterikatan dengan tak lain karena kebutuhan akan internet yang semakin membuat ketergantungan. Kemudahan yang diberikan jaringan ini untuk berkomunikasi membuat menjadi perangkat yang penting.

Berdasarkan laporan e-Marketer, pengguna aktif smartphone di Indonesia tumbuh dari 55 juta orang pada 2015 menjadi 100 juta orang di 2018. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. Pengguna smartphone saat ini di Indonesia didominasi oleh usia produksi yang disebut sebagai generasi milenial (15–35 tahun).

Laporan ‘10 Consumer Lab’ pada 2016 menunjukkan hasil wawancara 4.000 responden yang tersebar di 24 negara adalah adanya perhatian khusus terhadap perilaku generasi milenial. Dalam laporan tersebut tercatat, produk teknologi mengikuti gaya hidup masyarakat milenial. Produk teknologi baru muncul sebagai akomodasi perubahan teknologi. Salah satunya, perilaku streaming native yang kini kian populer di kalangan milenial.

Hal itu memperlihatkan perilaku generasi milenial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring (online). Teknologi juga membuat generasi internet mengandalkan media sebagai tempat mendapat informasi. Saat ini, media telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.

Sebuah riset Trends in Consumer Mobility Report dari Bank of America melibatkan sekitar 25 persen dari 1.004 warga Amerika Serikat yang termasuk kaum millennial untuk menjawab sejumlah pertanyaan terkait penggunaan ponsel pintar. Riset tersebut dilakukan antara 29 Maret dan 12 April 2019 lalu.

Di dalamnya memaparkan bahwa sebanyak 40 persen responden menggunakan ponsel pintar mereka untuk menghindari percakapan dengan orang-orang di sekitar saat sedang berlibur. Kemudian 66 persen responden menyatakan bergantung sepenuhnya dengan perangkat mobile mereka untuk menentukan arah atau navigasi. Lalu ada sebanyak 53 persen responden mengatakan mereka lebih mempercayai perangkat mobile untuk navigasi ketimbang kekasih mereka sendiri.

Dilansir dari situs Harvard Health Publishing, ada beberapa risiko yang akan dialami ketika mereka lebih banyak menundukkan kepala melihat daripada melakukan pekerjaan fisik atau aktivitas di luar ruangan. Beberapa risiko tersebut antara lain:

Keamanan

Menyetir kendaraan sambil menggunakan smartphone (sumber: maitland.mercury.com.au)

Menyetir kendaraan sambil menggunakan smartphone (sumber: maitland.mercury.com.au)

Ini yang jelas. Saat ini kita telah sering melihat seseorang yang kehilangan perangkat smartphone mereka saat di jalanan – atau lebih buruk lagi, mengemudi dengan perhatian di telepon mereka. Kita melihat ke layar smartphone ketika kita berjalan di sepanjang lorong atau trotoar dan bertabrakan dengan orang lain yang melakukan hal yang sama, atau ke pintu, atau tiang, atau bahaya lainnya.

Perangkat smartphone cenderung membuat kita lebih banyak duduk. Sering kali anak-anak kita senang meringkuk dengan ponsel, tablet, komputer, atau permainan video mereka, bukannya aktif beraktivitas. Anak-anak harus aktif selama satu jam sehari untuk menjadi sehat, dan perangkat menghalangi hal itu.

Karena menggunakan perangkat umumnya dilakukan dalam ruangan, anak-anak juga jarang melakukan aktivitas di luar rumah, di bawah sinar matahari, yang berdampak pada kesehatan. Perangkat juga menghalangi tidur. Semakin banyak, terutama dengan remaja, telepon seluler membuat anak-anak tetap terjaga – dan membangunkan mereka di malam hari. Semua faktor ini dapat memiliki jangka pendek dan jangka panjang pada kesehatan.

Kecemasan

Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa memicu kecemasan di masa muda kita. Seringkali kaum muda merasa diukur dengan berapa banyak orang mengklik atau ‘menyukai’ postingan mereka. Mereka dapat merasa hidup mereka kekurangan dibandingkan dengan kehidupan sebaya yang terlihat sangat sukses dan bahagia di . Dalam banyak hal, dapat membuat kaum muda khawatir dan merasa tidak mampu.

Koneksi sosial

Anak-anak bukan hanya tidak melihat orang-orang di sekitar mereka ketika mereka menggunakan perangkat mereka, menjadi lebih umum bagi anak-anak untuk menggunakan ponsel mereka bahkan dalam situasi sosial – daripada berbicara atau berinteraksi. Anak-anak berisiko kehilangan keterampilan sosial yang penting dalam bercakap-cakap dan membangun , dan kehilangan keterampilan ini dapat memiliki implikasi seumur hidup.

Ilustrasi: penggunaan smartphone membuat koneksi sosial melemah (sumber: mashable.com)

Ilustrasi: penggunaan smartphone membuat koneksi sosial melemah (sumber: mashable.com)

Kehilangan koneksi dengan dunia fisik

Ini bukan hanya tentang menghindari untuk menabrak orang atau tidak belajar bagaimana membuat obrolan ringan. Ada masalah yang lebih besar ketika orang mengalami dunia melalui perangkat. Mereka kehilangan pengalaman mengalami dunia alami dan semua pengalaman serta keterampilan yang diberikan oleh dunia fisik.

Dalam urusan konsumsi hiburan, millennial menghabiskan 18 jam per hari untuk menikmati layanan tontonan on demand, bermain game, atau sekadar menonton televisi konvensional. Gene­rasi milenial ini adalah generasi yang unik, obrolannya juga unik, dan lebih berani untuk ‘nyeleneh’.

Menurut Alvara Research Center 2014, generasi milenial yang berusia 15-24 tahun lebih menyukai topik pembicaraan yang terkait dengan musik dan film, olahraga, dan teknologi. Sementara generasi yang berusia 25-34 tahun tema perbincangannya lebih variatif dan menyukai topik tentang sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan.

Data Alvara ini juga sesuai dengan temuan riset CSIS pada 2017 bahwa generasi milenial atau generasi anak muda ‘zaman now’, sebanyak 30,8 persen lebih suka dengan kegiatan olahraga. Di samping itu, juga ada yang menyukai aktivitas yang bersifat hiburan seperti musik 19 persen dan menonton film sebanyak 13,7 persen.

Mendengar musik dan menonton film via smartphone kini juga menjadi aktivitas yang tak bisa ditinggalkan oleh generasi milenial. Oleh karena itu, kehadiran smartphone saat ini pun harus tak hanya unggul dari segi fisik, tetapi juga performa. Meski demikian, harga juga menjadi perhatian tersendiri bagi generasi milenial, khususnya di rentang usia 16-20-an. Tak mau yang mahal sekali, tetapi bisa memenuhi kebutuhan mereka, khususnya untuk chatting, bermedia sosial, dan hiburan (mendengar musik dan menonton).

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: