Alasan Mengapa ‘Me Time’ Terlihat Sulit Dilakukan

me time, waktu, untuk, diri sendiri, simpel, masalah, anak, waktu, 5, menit, 24, jam, nafas, sesuatu, syarat, hal, kehilangan, tagihan, deadline, olahraga, mendengarkan, musik, membaca, istri, rileks Ilustrasi: waktu menyegarkan diri (nationaltrust.co.uk)

Bagi Anda yang sudah berkeluarga, mungkin saja pernah merasakan bahwa waktu untuk diri Anda sendiri menjadi jauh berkurang. Hal tersebut bisa saja karena hampir sebagian besar waktu yang ada, dicurahkan untuk mengurusi anak dan pasangan Anda.

Merasa waktu untuk diri sendiri (me time) yang kurang, tidak hanya bisa dirasakan oleh seorang istri sekaligus ibu. Tetapi, juga bisa dialami oleh kaum pria sebagai kepala keluarga. Mereka bisa saja menganggap ‘me time’ yang tidak cukup sebagai sebuah masalah.

Pria yang berkeluarga mungkin saja bisa membagi waktu antara keluarga dengan pekerjaan. Caranya dengan mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, sambil sesekali mengambil waktu istirahat sejenak untuk bermain bersama anak.

Walaupun, bermain dengan anak juga bisa menyegarkan pikirannya, tetapi mungkin saja mereka tetap membutuhkan waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya. Untuk hanya sekadar berkumpul, mengobrol, bertukar pikiran, bercanda, dan lainnya.

‘Me Time’ sendiri dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. Misalnya, dengan mendengarkan musik, membaca, atau bahkan dengan tidak mengerjakan apapun. Sayangnya, hal tersebut seringkali tidak menjadi sesuatu yang harus dilakukan.

Seorang asisten profesor pengobatan fisik dan rehabilitasi, Dr. Beth Frates pernah berkata bahwa jika Anda tidak memerhatikan orang lain atau mengerjakan hal lain itu berarti Anda memberikan 100% perhatian kepada anak.

Lalu, mengapa mengambil waktu untuk diri sendiri (me time) itu menjadi sesuatu yang sulit? Masalahnya adalah menjadi orang tua merupakan kegiatan yang menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Hal tersebut membutuhkan pemikiran layaknya pemimpin perusahaan, yang terjadi pada korteks prefrontal, tempat untuk pengendalian diri dan pemikiran rasional. Hal itu tentu membutuhkan stamina, dan jika Anda merasa lelah, akan beralih ke bagian amigdala, bagian emosional dari otak.

Menurut Frates, asisten profesor, mengatakan bahwa langkah pertama dan terpenting adalah waktu untuk diri sendiri bukanlah harus sesuatu yang mewah. Jika Anda tidak memiliki pengetahuan apapun, maka Anda tidak akan bisa membagi apapun juga terhadap orang lain. Seperti, Anda tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong, tidak apapun di dalam sana yang bisa dibagi.

Jika Anda dapat menerima konsep tersebut, maka dapat menjadi suatu identifikasi mengenai kemungkinan sehari-hari. Idealnya, jarak waktunya mulai dari 30 menit hingga 24 jam sesekali. Minimal, 5 menit.

Walaupun, mungkin waktu tersebut terasa kurang, tetapi lebih baik daripada Anda tidak melakukan sama sekali. Namun, hal tersebut sangat membantu. Misalnya, hanya dengan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya, Anda dapat merasakan bahwa pikiran menjadi lebih rileks. Tidak lama, mungkin hanya sekitar 5 menit.

Pada akhirnya, tidak ada sesuatu yang harus benar-benar dilakukan. Syarat utamanya adalah Anda mendapatkan apapun yang dicari, yang disebabkan karena beberapa hal, misalnya merasa kehilangan waktu, tagihan, deadline, atau masalah anak-anak. Hal tersebut mungkin tidak sesimpel yang terlihat.

Misalnya, Anda merupakan seorang pria dan juga kepala keluarga. Selama ini Anda merasa tidak bisa melakukan kegiatan yang disukai karena keterbatasan waktu yang dimiliki. Cobalah untuk melakukan kegiatan yang tidak hanya bermanfaat untuk mengusir penat, tetapi juga membuat badan Anda ikut segar, seperti berolahraga.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: